Ku Menantimu Imamku

Ku Menantimu Imamku
Bab 1 Keharmonisan keluarga


__ADS_3

"Mbak Shila. Jangan cepet-cepet tunggu Bapak sama Ibu dulu! " teriak Arif, adikku,aku menoleh sebentar dan ternyata Bapak ,Ibu,dan adik-adikku masih berada jauh dibelakangku. Saat ini aku bersama keluargaku sedang jalan pagi. Hari minggu saatnya Quality time bersama keluarga.


"Iyaa ... ini aku tunggu didepan sana yaa!" jawabku dengan suara keras. Sambil berjalan menuju bangku kayu yang ada dipinggir sawah.Udara dipagi hari ini sangatlah sejuk,dan segar. Apalagi disini masih banyak sawah dan tanaman hijau.


Perkenalkan aku Arshila Meysha Rachma,umur 24 tahun.Keluarga dan teman-temanku biasa memanggilku Shila. Aku anak pertama dari tiga bersaudara, adik pertamaku bernama Putri Aulya Nova dia sekarang berumur 21 tahun.Putri sekarang sedang berada dirumah karena sedang ada kepentingan,tak lama lagi dia harus kembali bertugas untuk menjadi guru TPA di daerah Klaten.Adik keduaku bernama Arif Putra, dia berumur 18 tahun,baru lulus SMA.


Aku berasal dari keluarga sederhana. Bapakku seorang petani dan ibuku seorang penjahit.Walau hidup kami pas-pas an, tetapi Bapak dan Ibu sering mengingatkan untuk selalu bersyukur atas nikmat Allah sekecil apapun. Karena Bapak dan Ibu bilang bahwa kita tak perlu menunggu bahagia, untuk kita bisa bersyukur.Tetapi bersyukurlah maka kita akan bahagia.Dan kalimat itu yang aku tanamkan dalam kehidupan sehari-hari.


"Shila … kamu kok jalan cepet-cepet itu kenapa?Kaya dikejar-kejar jodoh aja?" tanya Ibuku, sesaat setelah Beliau sampai ditempatkan duduk. Seketika aku melotot mendengar pertanyaan Ibuku.


"Haduhhh … Ibu itu ngomong apa sih? Shila itu masih kecil, masak sudah bahas jodoh-jodoh segala! " ucapku sambil pura-pura cemberut.


"Apa? Mbak Shila masih kecil? Kelingkingnya kali yang kecil. Hahahaha," ledek Putri sambil tertawa.Akupun langsung mencubit lengan Putri.


"Aduh … sakit, Mbak Shila! " teriak Putri kesakitan. Dan aku hanya menjulurkan lidah mengejek.


"Hahahahaha ... Iya, Mbak Put. Mbak Shila itu sudah wayahe, kok bilange masih kecil aja." Arif menanggapi dan ikut tertawa.


"Wayahe, wayahe, wayahe apa? Wayahe makan? " tanyaku memukul pelan lengan Arif.


"Haduh… pantesan nggak nikah-nikah. Hla wong Mbak Shila nya galak gini kok. Mana ada yang berani deketin Mbak Shila. Hahaha, " ejek Arif sembali berlari, karena mungkin takut aku cubit. Saat aku ingin mengejar Arif, akh berpaling sebentar dan menemukan Bapak tersenyum dan menggelengkan kepalanya.Mungkin Bapak heran, anak-anaknya udah pada gede tapi kelakuan masih kayak anak-anak.


"Ihh ... Bapak kok senyum-senyum gitu sih, Pak? Harusnya Bapak belain Shila dong, Pak," ucapku memelas. Karena biasanya Bapak ada di pihak ku ketika sedang diejek adikku.

__ADS_1


"Apasih Nduk ... Hla wong yang dikatakan adek-adekmu itu bener, hlo.Harusnya Bapak itu sudah punya cucu dari kamu. Ini malah sibuk kerja terus, sampe lupa nikah, "jawab Bapakku yang bernama Adi Nugroho. Aku mendengar Bapak ngomong seperti itu membuatku langsung cemberut, sementara adik-adikku serta Ibuku tertawa puas.


" Hahahaha, mau minta pembelaan malah nggak dapat, "ledek Arif, Akupun langsung memelototinya dan langsung memukul pelan lengannya.


" Bu, nanti beli bubur ayam ya, "ucap Arif yang diangguki Ibu, ketika kami sudah berada di utara desa tempat tinggalku yang sudah seperti pasar, karena banyak penjual yang membuka lapak disitu.


Setelah sampai di tempat bubur ayam, Aku dan Putri memesan lima bungkus bubur ayam. Sedangkan Ibu sedang memilih sayuran di tukang sayur, yang berada disebelah tukang bubur ayam. Sementara Bapak dan Arif menunggu di ujung salah satu gang.


Setelah sampai rumah , dan juga sudah membeli sarapan serta sayuran. Aku mengambil sendok untuk kami berlima, dan ikut duduk bersama kedua orangtuaku dan adik-adikku diatas karpet yang berada di depan TV. Kami tidak memiliki meja makan, sehingga makan lesehan pun jadi. Kami segera mengambil bubur ayam masing-masing dan mulai menyantapnya.


Ditengah tengah sarapan Bapak membuka percakapan."Nduk Shila, mau berangkat jam berapa kamu? "tanya Bapak, sambil menyeruput teh panasnya.


" InsyaAllah jam setengah delapan, Pak. Jadwal pemberangkatan nya sih sekitar jam delapanan, Pak.Kalau nggak ngaret siih,hehhe," jawabku, sambil menuang air putih ke gelas.


"Mbak Shila emang mau wisata kemana sih? " tanya Putri sambil menyuapkan bubur ke mulutnya.


"Wah ke Malioboro dong, Mbak? jangan lupa oleh-olehnya yaa, Mbak," tanya Arif sambil cengengesan.


"Kalau oleh-oleh aja cepet tanggapnya kamu, Dek … mana uang sakunya?" jawabku sambil mengadahkan tanganku.


Akhirnya Ibu yang dari tadi diam, menanggapi. " Sudah-sudah kalian ini.Sekarang dihabiskan dulu sarapannya,keburu dingin nanti bubur ayamnya, "ucap Ibu yang ternyata sudah selesai sarapannya. Kamipun segera menghabiskan sarapan kami.


Setelah sarapan, aku dan Putri, membereskan bekas sarapan kami. " Nduk, Ibu bayar arisan dulu ya. Ibu tadi masak air, tolong nanti kalau sudah matang, kompornya dimatiin, "ucap Ibu ketika keluar dari dapur.

__ADS_1


" Iya, Bu. InsyaAllah, "ucapku yang masih menyapu lantai. Sedangkan Putri membawa piring kotor ke tempat cuci piring.


" Nduk Shila, nanti berangkatnya dianter Bapak,apa mau naik montor sendiri? "tanya Bapak ketika masuk kedalam rumah.


"Diantar aja, Pak. Nanti takutnya pulang larut malam. Kan Shila nggak berani pulang malam sendirian, " jawabku kemudian.


"Ya sudah siap-siap sana.Ini sudah jam tujuh lebih dikit hlo, " ujar Bapak, dan aku langsung menengok jam dinding yang berada dibelakangku. Ternyata Bapak benar sudah jam tujuh lebih dikit. Akupun bergegas menuju kamar mandi, dan ternyata air yang Ibu masak tadi sudah mendidih, segera aku matikan kompor dan langsung masuk kekamar mandi.


Setelah mandi, aku segera bersiap dengan kaos lebar lengan panjang, celana kulot dan kerudung lebar. Aku segera mengambil tasku yang sudah aku siapkan tadi malam. Setelah melihat pantulan dicermin sudah rapi, aku segera keluar mencari Bapakku.


"Sudah mau berangkat, Nduk? "tanya Ibu yang baru saja masuk rumah.


" Iya, Bu. Bapak mana, Bu? "


"Bapakmu sudah nunggu di depan rumah, lagi manasin montor, " jawab Ibu mengikutiku yang keluar rumah. "Nggak ada yang ketinggalan kan, Nduk? " tanya Ibu tiba-tiba.


"InsyaAllah nggak ada, Bu," jawabku kemudian menyalimi ibuku, dan kemudian menghampiri Bapak yang sedang memanasi mesin kendaraan. "Pak, ayo berangkat. "


"Oh.Sudah siap, Nduk? Ya sudah yok! "ajak Bapak menyerahkan helm padaku.


" Mbak Shila, jangan lupa oleh-olehnya! "teriak Arif yang berlari keluar rumah, disusul Putri yang berada dibelakang Arif.


" InsyaAllah kalau nggak lupa, "jawabku sambil naik ke montor.

__ADS_1


" Shila berangkat dulu, Bu. Assalamualaikum. "Bapak pun segera melajukan kendaraannya.


" Eh … eh …sebentar, Pak. Aku lupa! "


__ADS_2