
Libur lebaran telah usai, hari ini semua karyawan kembali masuk kerja. Selama liburan aku menghabiskan waktuku dirumah.Hari ini aku berangkat awal,karena katanya akan ada acara halal bihalal terlebih dahulu, sebelum memulai bekerja.
Semua karyawan berjejer, yang di awali bos besar untuk sekedar bersalaman saling memaafkan.Tapi aku hanya menangkupkan kedua tanganku didepan dada,saat melewati deretan karyawan laki-laki.
Tiba-tiba giliran mas Aris yang berhadapan denganku.Aku agak canggung, tetapi aku paksakan untuk tersenyum padanya.Dan dia membalas senyumku dan berlalu karena acara maaf maafan terus mengular.
Selama bekerja,aku terus kepikiran perkataan bapak beberapa hari lalu.Ya aku harus bisa mengambil keputusan, aku tak boleh berlarut-larut dalam dilema.Setelah melihat mas Aris tadi, aku sudah memiliki keputusan walaupun belum yakin seratus persen. Aku kembali fokus ke pekerjaanku.
Waktu terus berputar, tiba saatnya semua karyawan untuk pulang. Setelah tiba dirumah aku langsung membaringkan badan. Tubuh ini seperti kaget, karena beberapa hari libur, tiba-tiba langsung di ajak mengejar target.
Setelah sedikit hilang rasa lelahku, aku beranjak ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhku yang terasa lengket ini.
Keluar dari kamar mandi aku merasa lebih segar. Aku langsung menyusul bapak ibuku, yang ku lihat tadi sedang nonton TV.
"Nonton apa Pak, Bu? " tanyaku sembari duduk dekat ibu dan meraih jajanan sisa lebaran kemarin.
"Ini lagi nonton bola," jawab bapakku. Aku hanya mengangguk.
"Nduk, kata Bapak ada temanmu yang mau main kesini ya?" tanya ibu tiba-tiba.
"Eemmm, aku kurang tau Bu, jadi apa nggaknya." Aku terkejut, tapi langsung aku tutupi, dan terlihat biasa-biasa saja. Aku tau bapak tadi sedikit melirik ku.
"Owalah, ya sudah." Ibuku kembali diam seraya memijiti kaki bapakku.
"Putri sama Arif kemana Bu? " tanyaku, saat tak melihat keberadaan adik-adik ku dari aku pulang kerja.
"Lagi keluar, katanya mau beli sesuatu yang mau dibawa balik ke tugasan Putri," jawab ibuku.
"Besok Putri sudah mau balik ketugasan? "
"Iya Nduk," jawab bapak ku yang dari tadi fokus nonton bola yang baru saja dimulai.
"Hla terus yang nganter Putri besok siapa, Pak? kan aku masuk kerja."
"Ibu tadi sudah minta tolong sama Om kamu, suruh nganterin Putri ,"
__ADS_1
jelas ibuku.
"Owalah, ya sudah, " ujarku sambil kembali memakan jajanan yang aku ambil, dan ikut menikmati siaran bola yang di tonton bapak.
***
Setelah sholat isya' aku menyempatkan untuk sholat istiqoroh. Aku meminta petunjuk pada Allah, supaya apa yang aku putuskan kali ini benar.
Aku berbaring di kasurku, kemudian kubuka ponselku. Ada beberapa pesan dari grub chat, yang kadang hanya sekedar kubuka.
Tentang mas Aris? Dia sudah lama tak mengirim pesan padaku, entahlah aku pun tak tau kenapa. Cahya?? Kami jarang bertukar pesan, karena sering bertemu di tempat kerja. Dan mas Anton??terakhir dia mengirim pesan,, ya saat dia memberi tahu kalau mau main kerumah.
Hari semakin malam, aku memutuskan untuk segera tidur, karena besok masih harus berjuang mengahadapi target.Setelah berdoa, aku langsung memejamkan mataku.
Suara adzan menggema di telingaku. Aku sekarang berada di depan sebuah masjid besar.
"Suara adzan ini, seperti pernah ku dengar sebelumnya, tapi dimana aku pun lupa ," monologku, ketika berjalan memasuki masjid.
Ketika selesai sholat,aku mendengar suara orang yang sedang membaca AlQuran dengan sangat merdu. Hatiku menjadi tenang, perasaanku menjadi nyaman. Aku pun tak ingin beranjak dari sana.
Saat sedang menikmati alunan nada merdu itu. Tiba-tiba suara itu berhenti membaca AlQuran. Dan aku penasaran siapa yang membaca Qur'an dengan sangat merdu itu, segera aku beranjak keluar masjid.Dan aku melihat punggung tegap seorang pria berpeci ,yang baru saja keluar dari masjid. Aku yakin dia orangnya. Tetapi siapa dia?
Saat aku berdiri di depan masjid,ingin memakai sandalku. Tidak sengaja aku melihat seseorang yang sangat aku kenal, seseorang yang aku sebut namanya dalam sholat istiqorohku.
"Ma-mas Aris? kenapa dia disini? Dan siapa perempuan yang bersamanya itu? " gumamku.
Ya aku melihat mas Aris ada di masjid ini, tapi dia sedang bersama seorang perempuan. Dan apa itu, tangan mereka saling bergandengan menuju ke parkiran masjid. Saat mas Aris naik motornya,si perempuan itu juga naik, ikut duduk dibelakang mas Aris. Dan mas Aris berlalu meninggalkan pekarangan masjid.
"Mas Aris! " panggilku saat dia melewati ku, tapi dia hanya diam.
"Mas Aris!!! " teriakku lagi.
"Mas Aris!!!!" aku berteriak mengejarnya, dan aku tersandung batu daan.......
"Astagfirullah!" aku terkejut dan terbangun dari tidurku.Air mata membanjiri pipiku, dan keringat membasahi dahiku.
__ADS_1
"Astagfirullah, ya Allah cuma mimpi." Aku terus beristighfar sambil mengusap dadaku yang bergemuruh.
Aku melihat jam masih jam dua dini hari. Aku putuskan untuk kekamar mandi mengambil wudhu. Setelah keluar dari kamar mandi, aku mengambil sajadah dan mukena, untuk melaksanakan tahajud.
Dalam do'aku air mataku berlinang, teringat mimpi yang kualami tadi. Mimpi yang seperti kenyataan.
Setelah tahajud aku mengambil alQur'an ku. Aku membaca beberapa ayat yang membuat hatiku menjadi lebih tenang.
Selesai membaca Qur'an aku berbaring di atas sajadahku, menunggu adzan subuh.
"Nduk?" suara ibuku membangunkanku dari tidurku.
Ternyata aku ketiduran tadi setelah tahajud. Ternyata ibuku sudah duduk disampingku.
"Kamu kenapa, Nduk? habis nangis ya? " tanya ibuku yang membuat aku bingung, dari mana ibu tau.
"Aku nggak kenapa-kenapa kok, Bu," jawabku tak ingin ibuku khawatir.
"Jangan bohong, itu mata kamu sembab,"
ujar ibu sambil menghapus sisa air mata di pipiku.
"Kalau ada masalah tu cerita Nduk. Jangan dipendam sendiri.Kamu masih punya Bapak sama Ibu, Nduk," lanjut ibu, yang membuat air mataku kembali menetes.
"Kenapa heem? " tanya ibu ku seraya memelukku.
Aku pun tak kuasa menahan air mata ini lagi, aku menangis dipelukan ibu. Aku menceritakan mimpiku tadi pada ibuku.
"Sudah Nduk.Jangan nangis. Itu hanya mimpi, " ujar ibu menenangkanku.
"Tapi Bu, mimpiku tadi seperti kenyataan," ujarku yang masih sesenggukan.
"Sudah Nduk, jangan terlalu dipikirkan. Berdoa saja yang terbaik untukmu. Ibu dan Bapak juga selalu mendoakan kalian semoga mendapat yang terbaik. "
"Iya Bu." aku menghapus air mataku.
__ADS_1
"Ya sudah, sholat subuh dulu sana. Kamu kan belum subuh, Ibu mau masak dulu," ujar ibu sembari berlalu keluar kamar.
Aku pun beranjak dari duduk ku,dan melepas mukenaku, dan menuju ke kamar mandi.