Ku Menantimu Imamku

Ku Menantimu Imamku
Memaksa


__ADS_3

[08......... ]


[Mbak Shila bagaimana kelanjutan dari pernyataan saya dulu mbak? ]


[Apakah mbak mau melanjutkan taaruf dengan saya?]


[Ini saya Fajar]


Shila yang baru saja pulang dari bekerja, terkejut melihat pesan di ponselnya. Pasalnya Shila berfikir kalau Bapaknya sudah membahas penolakkannya dengan Pak Kyai atau Pak Tri.


Karena dalam seminggu ini, Pak Adi sudah tak membahas tentang kedatangan Fajar kala itu, setelah tau kalau Shila menolaknya.Setelah menyegarkan diri Shila langsung menemui Pak Adi, untuk menanyakan tentang pesan dari Fajar.


"Bapak," panggil Shila pada Pak Adi yang sedang duduk di depan rumah.


"Iya,Nduk.Ada apa? "tanya Pak Adi, menaruh segelas teh yang baru saja dimunumnya.


"Pak, Mas Fajar kirim pesan ke Shila, nanyain tentang jawaban Shila kemarin," ucap Shila duduk disamping Pak Adi.


"Apa? padahal Bapak sudah memberi tau Pak Kyai tentang penolakkanmu hlo, Nduk.Coba nanti insyaallah kalau ketemu Pak Kyai, Bapak tanyain lagi," ucap Pak Adi yang juga ikut terkejut.


"Iya Pak. Soalnya aku nggak enak kalau jawab sendiri lewat chat," ucap Shila.


"Ya sudah, Nduk. Nggak usah kamu bales dulu pesannya," ujar Pak Adi kembali meminum tehnya.


Shila ingin beranjak dari duduknya, tapi tiba-tiba ada panggilan masuk di ponselnya. Dari nomer baru, Shila langsung menjawabnya.


"Assalamualaikum," ucap Shila.


"Wa'alaikumussalam, Mbak," ucap orang diseberang sana.


"Suara laki-laki. Tapi siapa ya? " batin Shila.


"Maaf sebelumnya ini dengan siapa ya? " tanya Shila kembali duduk disamping Bapaknya. Dan Pak Adi hanya memperhatikan Shila saja.


"Ini saya Fajar Mbk, yang kemarin datang kerumah kamu," ucap Fajar diseberang sana.


"Oohh, iyaa Mas. Ada apa ya? " tanya Shila, sedangkan Fajar hanya diam saja.


"Siapa, Nduk? " tanya Pak Adi dengan suara lirih.


"Mas Fajar, Pak," jawab Shila lirih. Shila langsung meloudspeker ponselnya, sehingga Pak Adi bisa mendengarnya juga.


"Halo, Mas. Masih disitu? " tanya Shila, menautkan alisnya. Karena tiba-tiba Fajar diam.


"Eehh,iya Mbak. Maaf sebelumnya Mbak. Sebenarnya... " ucapan Fajar menggantung.


"Iya Mas. Kenapa? " tanya Shila.


"Eehh, anu. Saya mau tanya kenapa Mbak nolak saya? " Pertanyaan Fajar diseberang sana membuat Shila dan Bapaknya beradu pandang.

__ADS_1


"Hlooh Mas. Mas sudah tau kalau saya tidak ingin melanjutkan perkenalan kita? " ucap Shila.


"Iya.Kemarin malam saya diberi tau Om saya,kalau dia dikabari Pak Kyai tentang kamu yang tak ingin melanjutkan perkenalan kita. Kenapa? " ujar Fajar dengan nada biasa, tetapi diakhiri pertanyaan dengan nada tinggi.


"Mas sudah tau,kenapa masih ngirim chat ke saya? "tanya Shila tak suka dengan cara bicara Fajar.


" Ya karena saya ingin dengar langsung dari kamu. Kenapa haa kamu nolak saya. Apa karena saya kurang tampan haah??? Atau saya kurang kaya???Ingat ... Kamu nggak akan bisa nemuin lelaki yang sebaik saya. Dasar perempuan matre,"ucap Fajar kasar.


" Hloh kok Mas bicara begitu. Istigfar Mas. Saya itu tak pernah memandang materi,pun juga dengan rupa.Kenapa kamu menuduh saya seperti itu?"ucap Shila mencoba sabar.


" Ya kenyataannya seperti itu. Buktinya sudah jelas, sampai sekarang nggak ada yang mau sama kamu. Karena kamu terlalu pilih-pilih dan juga matre,"ucap ketus dari seberang sana.


" Nak Fajar. Kamu jangan begitu menuduh anak saya yang tidak-tidak. Anak saya menolak Nak Fajar bukan karna rupa atau harta. Karena dia sudah memiliki pilihan sendiri. Kalau Nak Fajar merasa sudah menjadi lelaki yang baik, Bapak doakan Nak Fajar juga bisa mendapat wanita yang sesuai kriteria Nak Fajar. "Pak Adi yang sedari tadi hanya menyimak, ikut menjawab Ucapan Fajar dengan bijaksana.


"Pa-pak Adi? Bapak mendengar u-ucapan sa-saya? " tanya Fajar gugup. Padahal dia tidak berada di depan Shila maupun Pak Adi.


"Ya. Tentu saja saya mendengar semua apa yang nak Fajar katakan pada putri saya," Ucap Pak Adi tegas.


"Ma-maf Pak. Sa-saya ng-nggak bermaksud," ucap Fajar terbata.


"Bapak mohon jangan hubungi anak saya lagi. Dan semoga kamu mendapat perempuan yang sesuai dengan kehendakmu. Assalamualaikum." Tanpa menunggu jawaban dari yang di seberang Pak Adi langsung mematikan telfonnya .


"Alhamdulillah, Nduk. Kamu nggak jadi dapat orang kayak Fajar. Laki-laki kok mulutnya kaya gitu. Hampir saja Bapak tertipu dengan sikapnya di depan Bapak, " ujar Pak Adi.


"Iya Pak, Alhamdulillah. Ya sudah Shila masuk dulu Pak. Mau bantu Ibu siapin makan malam," ucap Shila bangkit dari duduk dan berlalu menuju dapur.


***


"Ris, kapan-kapan kamu ajak Arum keluar makan malam ya. Biar lebih kenal satu sama lain,"ucap Bu Tina yang sedang menyiapkan makan malam.


" Buuu ... aku nggak suka dijodoh-jodohin gitu."Aris yang sedang menyuap nasi ke mulutnya berucap memelas pada ibunya. Karena dari kemarin Aris terus-terusan di minta ibunya untuk menikah dengan Arum.


"Kenapa nggak mau? Apa kamu masih cinta Shila hmm? " tanya Bu Tina ketika sudah duduk di kursi meja makan.


"Apasih Bu? tiba- tiba menyangkut pautkan Shila? Shila itu anak baik, Bu. Nggak sepantasnya Ibu bersikap seperti itu pada Shila," ucap Aris tak terima. Walau bagaimanapun di hati Aris masih terukir nama Shila.


"Pokoknya ibu ... ."


Tiiingggg...


Ucapan Bu Tina terpotong, karena suara sendok yang di jatuhkan ke piring oleh Pak Huda yang sedari tadi diam. Aris dan ibunya seketika diam dan menoleh kearah Pak Huda.


"Kalian tau nggak ini tu meja makan. Bukan persidangan.Kalau mau debat silakan cari tempat lain," ucap Pak Huda geram melihat istri dan anaknya berdebat di meja makan.


Setelah Pak Huda bicara demikian. Mereka melanjutkan makan malam dengan diam. Tak ada satupun yang berbicara, hanya ada suara sendok yang beradu dengan piring.


Setelah sholat isya' keluarga Pak Huda berkumpul di ruang keluarga. Pak Huda yang duduk di kursi single, sementara Aris duduk dibawah diatas karpet. Sementara Bu Tina sedang berada di dapur.


"Jadi gimana Ris, hubungan kamu dengan anak Pak Adi? " tanya Pak Huda memulai perbincangan.

__ADS_1


"Itu Pak anu... "


"Nggak boleh ada hubungan apapun dengan anak Pak Adi! " Ucapan Aris terpotong dengan ucapan tegas Bu Tina, yang melangkah menuju ruang keluarga dengan membawa nampan berisi tiga gelas teh dan sepiring pisang goreng.


"Aris akan ibu jodohkan dengan Arum, anaknya Jeng Siska, " ucap Bu Tina lagi, setelah menaruh nampan itu di meja dan ikut duduk.


"Ibu.Aris sudah bilang, kalau Aris nggak suka dijodoh-jodohin gitu. " Aris terlihat kesal.


"Pokoknya Ibu nggak mau tau. Kamu harus menikah dengan Arum! " Bu Tina tak mau kalah.


"Sudah lah, Bu. Berapa kali Bapak bilang sama Ibu jangan memaksa anak. Biarkan Aris memilih pilihannya sendiri yang bisa membuat dia bahagia, " ucap Pak Huda tenang sambil menyeruput tehnya.


"Iyaa, pilihannya sendiri seperti Shila? Anak petani itu haa, Pak? " ucap Bu Tina melirik sinis Aris.


"Ibu!!! " tegur Aris.


"Pak. Aris itu anak pertama kita. Ibu nggak mau dia salah pilih. Arum itu baik, sholihah, mandiri anak Pak kades lagi, Pak. InsyaAllah masa depan Aris akan cerah, " ucapan Bu Tina mengabaikan teguran Aris.


Aris memang anak pertama dikeluarga itu. Dia memiliki satu adik perempuan yang sedang mencari ilmu di pesantren.


"Ibu boleh menegur Aris, tetapi jangan libatkan Shila di perdebatan ini. Shila nggak salah apa-apa Bu. Kenapa Ibu begitu membeci Shila? " tanya Aris yang mencoba tenang.


"Karena dia tak pantas denganmu. Dia hanya anak petani. Dan berani-beraninya dia mendekatimu," ucap Bu Tina tak suka.


"Dia tak pernah mencoba mendekatiku Bu. Aku yang menyatakan perasaan dulu pada Shila. Aku yang mencoba mendekati Shila. Dan dengan teganya Ibu menyuruh Shila untuk menjauhi ku," geram Aris, sengaja sedikit menekan setiap ucapannya.


"Ooohh … jadi kamu sudah dikasih tau Cahya haaa?Memang anak petani itu membawa pengaruh buruk padamu. Sampai berani pada Ibumu sendiri!" Bu Tina semakin kesal.


"Mau Ibu apa sih? Berhenti melibatkan Shila, Bu. Aku mohon Bu! " ucap Aris memelas, seraya menangkup kan kedua telapak tangannya memohon.


"Oke... oke... ibu nggak akan pernah melibatkan Shila lagi. Tapi dengan syarat! " ucap Bu Tina.


"Syarat apa Bu? "ucap Aris lemah.


"Kamu harus mau menikah dengan Arum! Kalau tidak Ibu akan membeci Shila terus dan membuat perhitungan dengannya," ucap tegas Bu Tina.


"Ibu.Aris belum kenal dan nggak ada perasaan sama sekali sama Arum, Bu. Kasihan dia kalau sampai menikah dengan Aris, tapi tanpa cinta Aris ." Aris mulai membujuk ibunya.


"Makanya Ibu suruh kamu pdkt sama Arum, "ucap Bu Tina. Pak Huda hanya menyimak saja.


" Ya sudah, aku akan lakukan permintaan Ibu. Tapi Ibu janji jangan pernah mengusik kehidupan Shila lagi. "


"Baiklah Ibu setuju. Nanti Ibu akan mengabari Tante Siska, " ucap Bu Tina senang, sementara Aris langsung bangkit dari duduknya dan berlalu menuju kamarnya.


"Gimana? Ibu sudah puas menekan anak kita? Hmmm? " tanya Pak Huda yang sedari tadi hanya diam.


"Bapak bagaimana sih. Seharusnya Bapak itu mendukung rencana Ibu," ucap Bu Tina kesal.


"Bapak akan mendukung Ibu. Kalau cara Ibu itu benar. Bukan seperti ini menekan anak, dengan kemauan Ibu sendiri. Apa Ibu yakin Aris pasti bahagia? " tanya Pak Huda yang juga geram dengan tingkah istrinya.

__ADS_1


"Sudahlah, Pak. Ibu mau tidur ," ucap Bu Tina berlalu ke kamar dan Pak Huda hanya bisa geleng-geleng melihat kelakuan istrinya.


__ADS_2