
Pov Shila
"Nduk, nanti ada yang datang kerumah pingin kenalan sama kamu," ucap bapak ketika kami sedang asyik jalan-jalan seperti biasa.
"Heemm … a-apa, Pak? " tanyaku memastikan.
"Iya,tadi pas sholat subuh, Bapak di beritau Pak Kyai kalau ada yang mau datang kenalan sama kamu," ucap Bapak menjelaskan.
"Siapa memang, Pak? " tanyaku dengan alis bertaut.
"Bapak juga kurang tahu, Nduk. Bapak cuma diberitahu kalau mau ada yang bertamu ke rumah. Pingin kenalan sama kamu, " ucap bapakku lagi.
"Kira-kira siapa ya, Pak? " tanyaku penasaran.
"Jangan-jangan mau ngelamar mbk Shila nih," ucap Arif yang sedari tadi menyimak.
"Huss … kamu tuh, Rif. Bikin Mbak mu takut aja, " ucap ibuku mencubit lengan Arif.
"Udah, Nduk. Lihat aja nanti. Berarti ini nanti sekalian cari camilan untuk suguhan tamu ya, Pak? kira-kira berapa orang ya, Pak? " tanya ibuku.
"Cuma dua orang, Bu," jawab bapakku.
"Ya udah, nanti kita sekalian mampir di warung snack ya,Pak, " ucap ibuku yang diangguki bapak.
Akhirnya kami melanjutkan jalan-jalan pagi kami. Setelah sampai di pasar kecil, ibuku membeli sayur, serta sarapan. Sementara aku dan Arif diminta ibu, untuk membeli jajanan untuk suguhan tamu nanti.
Setelah mendapat semua yang kami butuhkan. Kami pun melanjutkan perjalanannya kami menuju rumah.Sesampainya di rumah kami sarapan sego liwet yang Ibu beli tadi.
"Pak, kira-kira jam berapa ya Pak tamunya datang? " tanyaku disela-sela sarapan.
"Katanya sih sekitar jam sembilanan," jawab bapakku. Meminum teh hangatnya. Dan aku hanya mengangguk.
"Ciee, yang mau diapelin," ucap Arif menggoda.
"Apasih,Dek. Wong cuma kenalan kok," kilahku.
Sebenarnya dalam hatiku aku takut, kalau ada maksud lain atas kedatangannya. Takut apa yang diomongin Arif benar, tetang lamaran.
Bukannya aku belum siap, tetapi aku masih menjaga perasaan mas Aris yang duluan menyatakan keseriusannya padaku. Walaupun sampai sekarang belum ada langkah selanjutnya dari mas Aris. Pun kami sudah jarang berkomunikasi. Tapi aku masih mengharapkannya, bisa datang dan memintaku baik-baik pada orang tuaku.
"Heh, Mbak! malah ngalamun di tanya Ibu tuh lo," ucap Arif sedikit keras yang membuatku kaget.
"Eehhh … iya ,Bu. Kenapa? " ucapku yang masih kaget.
"Kamu bisa bantuin Ibu masak nggak? soalnya Ibu mau nganter uang arisan sebentar" tanya ibu yang sedang membereskan bekas sarapan kami.
"Iya, Bu" Jawabku, bangun dari dudukku.
"Ya sudah yok, kamu kupas bumbunya dulu.Ibu mau nyuci piring dulu," ucap ibuku berlalu membawa piring kotor ke dapur.
Akupun segera menyiapkan bumbu. Dan mengupas bawang merah dan bawang putih. Rencana hari ini mau masak soto ayam.
"Nduk, ini nanti kalau sudah mendidih, kamu matikan kompornya ya. Ibu mau nganter uang arisan dulu," ucap ibuku.
"Oke, Bu, "jawabku.yang sedang menggoreng ayam. Setelah itu Ibu berlalu meninggalkanku di dapur.
" Hloh … Nduk kok belum siap-siap, udah mau jam sembilan hlo. Tamunya sebentar lagi datang, "ucap bapakku yang tiba-tiba sudah ada dibelakang kami.
__ADS_1
"Aku udah siap, Pak. Aku begini aja kok,kan baju ku ini udah sopan. Hehhe," ucapku cengengesan.
"Ya, masak nggak mandi-mandi dulu. Terus mbok ya dandan gitu," ucap bapakku mengambil air minum dikulkas.
"Aku nggak usah mandi lah, Pak. Kan nggak pergi kemana-mana, cuma dirumah tamunya. Terus aku juga nggak perlu dandan, Pak. Kan anak Bapak ini udah cantik dari lahir. Heheheheh," ucapku pede.
"Hahahahaha ... iya, iya anak Bapak emang cantik walau nggak dandan. Tapi mbok ya mandi toh. Masak abis jalan-jalan keringetan,mau nemui tamu. Kan nanti kasihan tamunya harus tutup hidung, karena mencium bau kecut dari badanmu. Hahahahah," ucap Bapak meledekku.
"Yeeee, Bapak mah gitu.Aku selalu wangi ya! " ucapku pura-pura merajuk.
"Hahahahahha … iya wangi keringet, " ledek bapakku lagi.
"Ya udah,Shila mandi. Tapi sebentar,nunggu sotonya mateng dulu, "ucapku sambil mengangkat ayam yang sudah mateng.
Setelah kuah soto mendidih, aku mematikan kompor dan segera mandi. Setelah mandi aku siap-siap dengan mengenakan rok yang dipadukan dengan tunik selutut, dan tak lupa hijab yang lebar.
Aku mengolesi bibirku agar tak tampak pucat dengan hanya memakai liptin natural, tanpa menggunakan bedak. Karena aku jarang berdandan makannya aku tak punya alat make up. Hanya bedak murahan dan liptin yang kupunya.
"Nduk, tamunya sudah datang," seru ibuku dari luar. Akupun segera membuka pintu kamarku, dan tampaklah ibuku yang berdiri di depan pintu kamarku.
"Weeh … weehh … wehhh ... tumben dandan Mbak. Mau lamaran ya? " Arif selalu saja suka menjahili diriku.
"Aku nggak dandan kok. Aku kan emang cantik." Pede ku.
"Yeee...Siapa yang bilang Mbak Cantik? "tanya Arif meledek ku.
" Kamu yang bilang barusan, "ucapku tak mau kalah.
" Sudah-sudah kalian ini berantem melulu. Kasihan tamunya udah nunggu. "Ibu menengahi kami.
Aku segera keluar ke ruang tamu. Disana sudah duduk Bapakku, Om ku, dan dua orang yang mungkin adalah tamunya. Aku sebenarnya gugup ingin bergabung dengan mereka. Tetapi setelah Bapak melihatku. Segera Bapak menarik ku untuk duduk di dekatnya.
"Ohh, iya Mbak Shila, perkenalkan ini Fajar keponakan saya. Dan saya sendiri Pak Tri," ucap Pak Tri memperkenalkan keponakannya. Dan aku hanya mengangguk dan kembali menundukkan kepala, karena aku gerogi campur malu.
"Langsung saja ya, Pak. Saya bertamu kesini sekedar bersilaturahmi dan ingin mengenal lebih jauh dengan Mbak Shila. Apakah saya diperbolehkan mengenal lebih jauh dengan Mbak Shila. Dan nanti kalau sama-sama cocok, saya berniat ingin menjadikan Mbak Shila sebagai istri saya," ucap pemuda yang bernama Fajar itu to the point.
Dan aku yang mendengarnya langsung terkejut. Karena aku tak pernah bertemu dengannya, dari mana dia tahu aku. Dan tiba-tiba punya niat menikahiku.
"Maaf sebelumnya, Nak Fajar .Bisa tau anak saya dari mana ya? " tanya Bapak mewakili pertanyaanku.
"Saya sering melihat Mbak Shila ketika pengajian di daerah, Pak.Kemudian saya beranikan bertanya pada teman saya yang rumahnya daerah sini. Dan ternyata dia mengenal Mbak Shila.Terus saya tanyakan alamat Bapak ke teman saya.Setelah mendapat alamat Bapak,saya meminta Om saya memberitahu Pak Kyai, kalau saya mau berkunjung," ucap Mas Fajar.
"Oohhh ya." Bapak mengangguk mengerti.
"Tapi begini, Nak Fajar.Semua keputusan tetap ada di tangan anak saya, Nak Fajar. Saya sebagai orangtuanya hanya ingin melihat anak saya bahagia dengan pilihannya, " jelas Bapak, yang merangkul pundakku. Entah kenapa mataku sedikit berkaca-kaca mendengar ucapan bapakku.
"Bagaimana Mbak Shila, bolehkan Fajar mengenal Mbak Shila lebih dekat? " tanya pak Tri. Dan aku bingung harus menjawab apa.Setelah mengahapus air mataku,aku berusah melihat kearah Bapak.Bapak hanya mengangguk. Aku tau artinya Bapak menyuruhku menjawab sesuai isi hatiku.
"Eemmm … maaf sebelumnya bolehkah saya istikharah dulu? " ucapku masih menunduk.
"Tentu saja boleh, Mbak," ucap Pak Tri.
"Mbak Shila minta waktu berapa hari? " tanya Pak Tri lagi.
"Maaf Pak saya belum tau, nanti kalau saya sudah ada jawaban,insyaallah saya akan mengabari lewat Bapak saya," ucap ku kemudian.
"Bolehkah saya meminta kontak ponsel Mbak Shila? Untuk tau kedepannya bagaimana? " tanya Mas Fajar dan aku hanya mengangguk ragu.
__ADS_1
Mas Fajar langsung menyodorkan ponselnya padaku, dan aku langsung menuliskan nomerku di ponselnya. Setelah selesai aku kembalikan pada Mas Fajar.
"Terimakasih, Mbak Shila," ucap Mas Fajar dan aku hanya bisa mengangguk.
"Silakan dinikmati camilan nya Mas Tri, Nak Fajar."Om ku yang sedari tadi hanya menyimak mempersilakan tamu untuk mencicipi suguhan yang ibuku siapkan.
" Maaf hanya camilan-camilan ringan,"ucap bapakku tak enak.
"Ooh... ini lebih dari cukup, Pak," ucap Pak Tri tersenyum.
Kemudian Om ku, Bapakku, Pak Tri dan Mas Fajar mengobrol dan aku tak tau apa yang mereka obrolkan karena aku tak menyimak nya. Tapi saat aku sedikit melirik ke depan, aku melihat mas Fajar tengah menatapku lekat. Aku tak suka dengan cara menatapnya. Aku segera kembali menunduk.
Setelah semakin siang kedua orang itu pamit pulang. Dan tadi sempat makan soto dan sholat dhuhur di masjid.
Setelah tamu pulang, aku segera membereskan gelas dan bekas makan siang tamu tadi. Setelah itu aku masuk ke kamar untuk istirahat.
***
"Nduk.. Bagaimana keputusan kamu? " tanya Bapak pada saat kami sedang nonton TV.
"Shila masih bingung, Pak," ucapku.
"Bingung kenapa? " tanya bapakku yang mematikan TV.
"Dia sopan, ganteng, mandiri lagi," ucap bapakku lagi.
Dari cara bicara Bapak, sepertinya Bapak menyukai pria itu.
"Tapi tadi kata Jaka, si Fajar itu dari awal ngelihatin Shila terus, Pak. Kan nggak baik, seorang pria melihat wanita yang bukan mahramnya, dengan tatapan lekat seperti itu," ucap ibuku ikut bergabung dengan kami. Jaka itu adik dari ibuku.
Sementara Arif, aku tak tau dimana dia mungkin dia keluar dengan temannya. Dan dari Ibu bicara sepertinya Ibu tak menyukai pria tadi.
"Apa iya toh, Bu? Bapak malah nggak terlalu memperhatikan, " ucap bapakku sembari menyeruput teh yang Ibu bawa.
"Iya Pak, Jaka yang bilang tadi, Pak," ucap ibuku lagi, aku hanya diam.
"Owalah... hla kamu gimana, Nduk. Kalau sama dia? " tanya bapakku.
"Eeeemmm... bagaimana ya,Pak. Kalau aku terima dia... . "
"Mbok dipikir yang matang dulu toh, Nduk." Ucapanku terpotong dengan ucapan ibuku.
"Ibu... aku belum selesai ngomongnya."
"Heheheh... Hla Ibu takut kamu mengambil keputusan yang salah. Kalian kan belum saling kenal juga," ucap ibuku.
"Aku masih berharap dengan Mas Aris, Pak," ucapku kemudian.
"Iya juga ya, Nduk. Kasihan Aris. Dia kan yang udah duluan ngomong mau serius, "ucap Bapak.
"Maka dari itu Pak, Bu. Aku nggak mau ngasih harapan pada Mas Fajar. Takutnya nanti nyakitin hatinya, "ucapku jujur.
Karena aku takut kalau aku memperbolehkan dia mengenal diriku lebih dekat,sama saja aku memberi harapan pada nya. Dan aku tak ingin itu terjadi. Karena masih ada Mas Aris yang kutunggu.
" Ya udah, Nduk. Nanti kapan-kapan Bapak tak bilang Pak Kyai atau Mas Tri kalau kamu nggak mau ngelanjutin taaruf ini,"ucap Bapak akhirnya.
"Sudah-sudah bahas jodohnya nanti lagi. Nih ada sisa camilan dari tamu tadi," ucap ibuku menyodorkan kue lapis pada ku dan Bapak.
__ADS_1
Sebenarnya alasan masih mengharapkan Mas Aris itu hanya salah satu alasanku. Alasanku yang lain adalah benar kata Ibu, kalau Mas Fajar itu pemuda sholih, pasti dia tidak akan berani menatapku dengan tatapan seperti tadi. Aku sudah ilfill duluan.
Dan mas Aris? Aku pun tak tau apakah dia masih mau melanjutkan atau sudah melupakanku. Karena sudah lama aku tak berkirim pesan dengannya. Dan tak ada komunikasi lain.