
Pov Cahya
Aku sebenarnya tak ingin ikut campur, urusan hati antara Aris dan Shila.
Aku ingin melihat sahabatku mendapat kebahagiaan dengan pilihannya sendiri,walaupun kebahagiaannya bukan dengan Aris. Jadi selama ini, aku tak pernah mendesak Shila,agar segera menerima Aris.
Tetapi disisi lain Aris adalah saudaraku dan juga sahabat kecilku.Aku tak ingin melihat Aris bersedih jika harapannya tak tercapai.Karena aku tahu, kalau Aris benar-benar serius dengan niatnya yang ingin menikahi Shila.
Tadi Shila mengantarkanku pulang, karena biasanya aku dibonceng Aris, dan kebetulan Aris sedang lembur.
Sesampainya dirumahku Shila langsung disambut ibuku, karena ibuku sudah menganggap Shila seperti anaknya sendiri.Dan akupun tak mempermasalahkan nya. Bahkan ketika Shila ingin langsung pamit, ibuku mencegahnya dan meminta Shila untuk masuk ke rumah dulu.
Setelah pamitan pada ibuku, aku mengantarnya ke depan. Setelah itu dia melajukan motornya. Ketika aku ingin berbalik untuk masuk kedalam, aku melihat Budhe Tina, ibunya Aris yang melengos ketika berpapasan dengan Shila.
"Kenapa Budhe Tina begitu? Apa dia nggak suka dengan Shila? "gumamku ketika masuk ke rumah.
"Ahh … nggak mungkin.Mereka kan nggak pernah bertemu.Mungkin hanya perasaanku saja." Akupun menghapus pikiran buruk itu, sambil melangkah duduk di depan TV.
"Kamu kenapa,Nduk??kok ibu perhatikan kamu ngomong sendiri?" tanya ibuku yang sedang duduk di kursi depan TV.
"Eehh, nggak ada kok Bu.Heheheh," jawabku terkekeh.
"Ya sudah sana,mandi dulu.Ngapain malah ikut duduk disini? "
"Aahh, ibu sensi aja sih sama anak sendiri juga.Kalau sama Shila aja baiknya MasyaAllah," jawabku seraya cemberut.
"Hahahahha, kamu cemburu, Nduk?" tanya ibuku terkekeh.
"Ya enggak sih Bu. Heheheh,"ucapku menggaruk tengkuk ku yang tak gatal.
"Ya udah. Cepet mandi. Habis itu kita makan. Ibu sudah masak makanan kesukaanmu, ayam kecap," ucap ibuku. Seketika aku mengembangkan senyumku.
"Oke... Bu... Kalau gitu aku mandi dulu. Sayang deh sama ibuku ini... Mmmmuuaahhh," ucapku sambil mencium pipi ibuku tersayang.
"Udah … udaah … bau kecut aja cium-cium ibu. Sana mandi keburu ayam kecap nya habis. "
"Iyaa … iyaa. " Aku beranjak ke kamar dan membersihkan diri.
Malam harinya aku masih kepikiran sikap Budhe ku pada Shila tadi.Sebenarnya aku sudah pernah melihat sikap Budhe ku yang acuh ke Shila sebelumnya.Ya saat menghadiri pengajian dulu.Aku takut itu membuat Shila tak nyaman, jadi aku memutuskan untuk mengirim pesan ke Shila, bahwa jangan terlalu memikirkan sikap Budhe ku.
Saat istirahat kerja tadi aku melihat kalau Shila tampak tak bersemangat. Seperti ada yang dipikirkan. Aku pun tak berani mengorek lebih dalam, ada apa dengan Shila.
Hari sudah malam, aku putuskan untuk segera tidur. Karena besok aku masih masuk kerja. Ya walaupun weekand tapi aku kebagian lembur. Aku meletakkan ponselku di nakas, tak lupa aku memasang alarm, dan tidur.
Keesokan paginya, aku bekerja seperti biasanya. Yang berbeda adalah saat istirahat, aku makan siang sendiri. Karena Shila hari ini tak ikut lembur.
Pulang dari bekerja aku merebahkan diri di kasur empuk ku.
"Waah ... malam ini, malam minggu. Enaknya keluar kemana ya," ucapku seraya berfikir.
"Shila mau nggak ya keluar malam mingguan? Ahh … coba aku tanyain dulu lah. "
Aku memutuskan mengirim pesan kepada Shila.
[Shila]
[Assalamualaikum, bidadari surga-Nya mas Aris😆]
Pesan centang dua, yang artinya pesan sudah terkirim. Tapi tak kunjung dibaca oleh Shila. Aku memutuskan untuk mandi terlebih dahulu.
"Nduk.... Ayo makan dulu," teriak ibu dari luar kamarku.
"Iya Bu ... sebentar.Aku lagi ganti baju," jawabku seraya memakai kerudung instanku. Ya walaupun di dalam rumah, aku tetap menggunakan kerudung. Berjaga-jaga kalau seandainya, ada pembeli di warung ibuku. Memang ibuku membuka warung didepan rumahku.
Setelah selesai makan, dan sholat magrib. Aku kembali kekamar. Aku melihat ponsel ternyata ada beberapa pesan masuk. Yang pertama aku buka adalah pesan Shila.
[Shila]
[Wa'alaikumussalam Neng. ]
[Jangan panggil kaya gitu lah Neng😣]
Aku terkekeh, saat membaca jawaban Shila.
[Hahahahaha, kenapa emang Shil? ]
[Terlalu gimana gitu Neng]
__ADS_1
[Kan belum tentu jodohku dia]
[Dia siapa?🤔 ]
Aku mencoba menggoda Shila, sesekali mau mencomblangkan Shila dengan Aris.
[Yaaa,, itu tadi]
[Iya... Siapa?? ]
Jawabku semangat.
[Mas Aris]
[Emang kenapa dengan Aris?]
Pesan yang terakhir tak kunjung dibaca. Aku membuka pesan lain, ada pesan dari Aris dan juga Danang.
[Aris]
[Yak,,,, ayo keluar malam mingguan! ]
"Hahahahha, tau aja si Aris. Aku lagi pengen keluar malam mingguan," ucap ku seraya membalas pesan nya.
[Yook,, cuzz]
[Kemana?]
[Nanti kita pikirin belakangan, ajak si Danang]
[Oke, bentar dia baru kirim pesan]
Kututup perpesanan dengan Aris, dan aku buka pesan dari Danang.
[Danang]
[Hai,,, cewek?? ]
[Malam mingguan kemana kita?? 😏]
[Ayok, Aris ngajak keluar nih]
[Belum tau,, nanti kita pikirin belakangan]
[Oke, jam berapa kumpul? ]
[Seperti biasa aja]
[Oke]
Kami memang sudah biasa keluar untuk sekedar nongkrong. Setelah selesai dengan Danang, tiba-tiba ada pesan masuk dari Shila.
[Shila]
[Yaaa... Pokoknya jangan ngomong bidadari mas Aris gitu... Aku agak gimana gitu...Takutnya nanti kalau nggak berjodoh gimana?]
Akupun tertawa membaca pesan dari Shila.
[Hahahaha, ya udah enggak lagi. Tapi mudah-mudahan berjodoh yak]
[Aaamiin]
Setelah kubaca pesan ini tiba-tiba...
[Pesan ini telah terhapus ]
[Halah koq dihapus pesannya? ]
[Heheheh, nggak ada kok,, ]
[Ehh... Ada apa Neng? ]
Tanya Shila seperti mengalihkan pembicaraan.
[Keluar yok, malam mingguan? ]
Tak kunjung dibalas Shila. Aku buka lagi pesan dari Aris.
__ADS_1
[Aris]
[Gimana??? Danang mau nggak?? ]
[Danang bilang, siiap!! Nanti kita kumpul jam biasa nya kan?]
[Iya]
[Gue ngajak Shila ya?? ]
[Boleh]
[Tapi,, apa dia mau? ]
[Belum tau juga sih]
[Gue chat belum dibales-bales]
[Ohh... Ya udah]
[Gue mau ke masjid dulu, nanti Lo tunggu aja di rumah gue]
Kebetulan suara adzan isya' telah berkumandang. Aku pun bergegas sholat, dan siap-siap.
Setelah selesai dengan outfit malam mingguan, akupun mengendarai motorku menuju rumah Aris. Hanya beberapa detik aku sampai di depan rumah Aris.
Aku duduk di depan rumah Aris, tiba-tiba Budhe ku keluar dari rumah.
"Assalamualaikum, Budhe." Aku berdiri,lalu mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan budhe ku.
"Wa'alaikumussalam, mau kemana Nduk?" tanya Budhe Tina, sambil duduk di kursi depan rumah.
"Mau keluar sama Aris, dan Danang Budhe," jawabku kembali duduk ke tempatku tadi.
"Owww … malam mingguan? "
"Heheheh, iya Budhe," jawabku dan Budhe hanya mengangguk.
"Nduk, Budhe mau tanya boleh? " tanya Budhe ku tiba-tiba.
"Boleh Budhe, tanya apa?" tanyaku penasaran, sambil menghadap kearah Budhe Tina.Karena sepertinya Budhe Tina akan menanyakan pertanyaan yang serius.Terlihat dari raut mukanya, yang berbeda dari pertama aku datang.
"Kamu kenal anak Pak Adi itu? " tanya Budhe Tina.
"Pak Adi??? Pak Adi bapaknya Shila? " Tanyaku memastikan, dan Budhe hanya mengangguk.
"Kenal Budhe. Shila itu temanku Budhe. Emang ada apa Budhe? "
"Tolong kamu bilang sama dia, suruh jauhin Aris. Jangan pernah dia berani dekati Aris, " ucap Budeh Tina.
"Hlooh … emang kenapa Budhe? Bukannya Aris yang suka sama Shila? "
Aku kaget dengan penuturan Budhe Tina.
"Pokoknya,bilang sama temanmu itu, jangan pernah berani dekati Aris titik." Budhe Tina berkata tegas kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam rumah.
Aku masih terkejut dengan penuturan Budhe Tina. Berarti apa yang aku pikirkan kemarin itu benar. Kalau Budhe Tina memang tidak menyukai Shila, tapi kenapa?
Pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Kenapa Budhe Shila tak menyukai Shila,padahal Shila perempuan yang cantik, baik sholihah pula, kenapa?. Apa yang akan Aris lakukan jika Ibunya tak menyukai pilihannya.
"Woooyy... Cahya!!! " panggil seseorang mengagetkan ku.
"Astagfirullah … Danang lo ngagetin gue aja. Kalau datang tu salam, bukannya ngagetin kayak gini. Untung gue gak jantungan," omelku pada Danang, karena dia tiba-tiba mengagetkan ku.
"Gue udah salam kelez.. Lo nya aja yang ngalamun.Gue udah panggil lo beberapa kali lo cuma diem aja. Ngalamunin apaan sih lo?" cerocos Danang tak Terima aku omelin.
"Heh? Apa iya aku ngalamun? "
"Eee, bodo amat laah Yaak. Ditanya, malah balik tanya! Huh! "kesal Danang.
" Kenapa toh kalian ini?Ribut aja kerjaaanya, "tanya Aris yang baru pulang dari masjid.
" Ini, si Aya ngalamun.Ditanya ngalamun apa, ee.. malah balik nanya? "ucap Danang, dan aku hanya manyun.
"Udah-udah.Jadi nggak kita keluar? " tanya Aris mendamaikan keadaan.
"Ya jadilah," ucap aku dan Danang serempak.
__ADS_1
"Hla gitu dong kompak. Ya udah aku ambil kunci sama dompet dulu." Aris berlalu masuk ke rumahnya.