Ku Menantimu Imamku

Ku Menantimu Imamku
Mimpi


__ADS_3

Setelah pulang dari masjid, aku langsung masuk ke kamarku dan meletakkan AlQuran yang tadi kubawa untuk tadarusan di masjid.


Beberapa hari ini sangat padat aktifitasku. Berangkat kerja pagi, pulang malam. Sampai terkadang aku taraweh sendiri di rumah, karena setiap aku pulang kerja melewati masjid, semua orang sedang melaksanakan taraweh.


Aku berbaring di kasurku, dan mengecek ponselku. Hanya ada beberapa pesan grub.


Sebenarnya aku masih memikirkan cerita ibuku tadi saat berbuka. Tapi aku tidak ada nyali untuk menanyakan langsung pada mas Aris.


Tentang mas Aris, kini dia sudah jarang mengirim pesan padaku. Entah apa alasannya akupun tidak tahu.Karna terlalu memikirkan hal itu, akupun tertidur.


Angin sepoi-sepoi menerbangkan ujung hijab yang aku kenakan. Suasana sangat sejuk, tenang, dan damai. Saat ini aku sedang duduk di kursi ,yang berada di bawah pohon rindang, sambil membaca sebuah buku.


"Hai Shila. Aku boleh duduk di sini?" tanya mas Aris yang tiba-tiba sudah berada dihadapanku.


"Ohh, Mas Aris, iya mas monggo," jawabku sambil menggeser dudukku, agar tak terlalu dekat dengan mas Aris.


"Kamu lagi ngapain Shila? duduk sendirian disini. "


"Emm, aku cuma lagi baca buku Mas," ucapku seraya menunjukan buku yang aku pegang.


"Mas darimana kok tiba-tiba sudah ada disini,"lanjutku.


" Shila." Mas Aris tak menjawab pertanyaanku.


"Ya Mas. Ada apa?" tanyaku penasaran, karena sepertinya ada sesuatu yang serius.

__ADS_1


"Sebenarnya aku menemuimu hanya ingin mengatakan kalau … " Ucapan mas Aris menggantung.


"Kalau apa mas? "


"Kalau aku ... . "


Kriiing.... Kriiiing..... Kriiiing.


Bunyi alarm membangunkanku dari tidurku. Aku bermimpi tentang mas Aris, mimpi itu seperti nyata. Sudah kali ketiga aku bermimpi tentangnya, dengan mimpi yang hampir sama. Aku tidak tau maksud dari mimpi itu apa. Apakah sebuah petunjuk atau hanya bunga tidur saja.


Aku tidak ingin berlarut memikirkan mimpi tadi. Segera aku ke kamar mandi, untuk berwudhu dan melaksanakan tahajud dan doa malam. Karena tadi aku sudah witir saat taraweh, sehingga aku hanya sholat dua rokaat. Dan aku menyempatkan sholat istikharah, meminta petunjuk pada Allah.


Setelah selesai bermunajat pada Allah, aku segera merapikan alat sholatku dan beranjak membantu ibuku menyiapkan sahur.


"Iya Bu. Bapak sudah bangun belum, Bu? biar sekalian Shila bangunin. "


"Bapakmu sudah bangun kok, Nduk. Mungkin sudah duduk di depan TV," jawab ibuku.


"Oohh, ya sudah, Bu."


Aku segera beranjak dari dapur, dan menuju kamar Arif.


Tok.. Took... Took..


"Dek bangun sahur," panggilku, seraya mengetuk pintu kamarnya.

__ADS_1


"Iya Mbak, aku sudah bangun. Lagi main game nih,"teriak adekku dari dalam.


" Sudah dulu main gamenya ayoo sahur dulu,"ajakku.


"Iya Mbak nanti aku nyusul."


"Ya sudah cepet ya, nanti ayam gorengnya aku habisin hlo," ancamku pada Arif, karena kalau dia sudah main game, kadang sampe lupa waktu.


"Iya… iyaaa, " ucap Arif saat keluar dari kamarnya, dengan muka cemberut.


"Sudah jangan cemberut gitu, tambah jelek tau. Hahahahaha," ucapku mengejek.


"Biarin, wleee… " jawab Arif sambil menjulurkan lidahnya, dan berlalu ke depan TV.


Di karpet depan TV, sudah tertata menu sahur yang lumayan komplit.


Ada ayam goreng, lalapan daun singkong, dan tidak lupa sambal. Sungguh menu yang akan menghabiskan nasi. Hehehe.


"Adekmu Putri sudah bangun sahur belum, Nduk? " tanya bapakku.


"Sudah Pak. Tadi aku udah WA, dan katanya baru sahur," jawabku. Memang tadi aku sempat mengirim WA pada adikku.


"Owalah, ya sudah, yuk mulai sahur."


Dan kamipun memulai makan sahur dengan nikmat.

__ADS_1


__ADS_2