
Pov Shaka
Setelah tadi mengantarkan keponakanku ke masjid, untuk membagikan es krim yang mereka beli. Aku dan Mas Aksa serta Mbak Dilla dan Rifan bersiap untuk kembali ke kota.
"Mas Abi, aku pulang dulu ya. Rifan salim Pakde sama Budhe dulu! " ucap Mas Aksa. Rifan segera menyalimi pakde dan budhenya. Mbak Dilla sedang pamitan dengan Mbak Ana. Dan aku juga berpamitan pada Mas Abi.
"Mas, aku pulang dulu. InsyaAllah kapan-kapan aku kesini lagi buat bersihin rumah. Sementara aku titip rumah yang disini dulu ya, sama Mas dan Mbak Ana. " Aku memang sudah memiliki rumah disini.Aku membangunnya di tanah warisan orang tuaku.
Karena aku membangun usaha kedai kopi di kota, sehingga Mas Abi dan Mas Aksa memintaku untuk tinggal bersama Mas Aksa, agar tidak bolak-balik Kampung Biru ke kota, yang jaraknya lumayan jauh. Serta mereka juga khawatir kalau aku tinggal sendiri di rumahku, mereka takut aku tidak bisa mengurus diri, padahal aku sudah terbiasa hidup mandiri.
"Iya, kamu tenang saja. Nanti InsyaAllah Mas cariin yang mau ngontrak disana, " ucap Mas Abi padaku. Memang rumah itu aku kontrakkan,selama aku tinggal bersama Mas Aksa.
"Om... Om Shaka! "Saat aku mau masuk ke mobil, Aldo berlari menghampiriku.
"Iya.Kenapa, Do? "
"Aku sudah ingat Om. "
"Ingat apa, Do? " tanyaku bingung.
"Aku ingat, siapa yang dulu bersama Mbak Putri, Om."Aku langsung menempelkan telunjuk ku ke bibirku. Agar Aldo tidak melanjutkan ucapannya. Tetapi Aldo sepertinya tidak faham apa yang aku lakukan, sehingga dia melanjutkan ucapannya.
" Dia Kakaknya Mbak Putri, Om. Namanya Mbak Shila. "Seketika semua mata tertuju pada Aldo, karena Aldo mengucapkannya dengan keras.
" Emang kenapa dengan kakaknya Mbak Putri, Do? "Mas Abi penasaran. Begitupun dengan yang lainnya, terlihat dari raut wajah mereka seperti bertanya-tanya apa yang dimaksud Aldo.
" Itu, Pak. Tadi Om Shaka tanya Aldo, tentang kakaknya Mbak Putri. Dulu pas mau lebaran pernah kesini jemput Mbak Putri. Aldo ketemu di masjid. Eeee... ternyata Om Shaka juga penasaran sama Mbak Shila, kakaknya Mbak Putri. "Seketika semua mata beralih memandangku. Kecuali Rifan yang sudah anteng di dalam mobil bersama mainannya. Aku jadi salah tingkah mengalihkan pandanganku dari tatapan keluargaku ini.
" Bener itu, Kha? "tanya Mas Aksa.
" Eee... a-anu. Itu... . "Aku bingung mau menjawab apa.
" Ciee... Shaka. Ternyata sudah punya incaran nih... "ledek Mbak Dilla, aku langsung melotot kearah Mbak Dilla. Dia malah terkekeh.
" Udah, jangan melotot begitu, Kha. Nanti kakaknya Mbak Putri jadi takut hlo. Hehehe."Mbak Ana juga ikut meledeki aku. Memang kedua kakak iparku ini suka sekali menjahili aku.
"Kalau bener nggak masalah, Kha. Biar nanti Mas Abi tanyain sama Mbak Putri, tentang kakaknya. Supaya nanti bisa dikenalin ke kamu. " Mas Abi menimpali.
__ADS_1
"Ja-jangan dulu, Mas. Aku belum siap, " Ucapku malu.
"Terus siapmu kapan, Kha? " tanya Mas Aksa.
"Eeee... anu... .Eh, Mas. Ayo pulang keburu malam, " ucapku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Halah, kamu itu, Kha.Mengalihkan pembicaraan aja. Nggak papa nanti biar Mas tanyain ya. Nunggu kamu siap mah. Keburu kamu jadi perjaka tua,"ucap Mas Abi, yang membuat semua tergelak. Haduh, Aldo jadi panjang kan urusannya, kalau gini.
" Ayah. Kapan kita pulangnya? "tanya Rifan di dalam mobil.
" Eh... iya,Nak. Sebentar. Ya sudah, Mas. Kami pulang dulu, "pamit Mas Aksa kembali. Akupun segera masuk ke mobil, sebelum ada pertanyaan lagi dari Mas Abi.
" Hufftt... Alhamdulillah, terimakasih Rifan kau menyelamatkan Om mu ini, "gumamku sambil menepuk kepala Rifan pelan.
Mas Aksa dan Mbak Dilla sudah masuk ke dalam mobil. Mobil kamipun berlalu meninggalkan Kampung Biru.
Tadi kata Aldo nama perempuan itu Shila, nama yang cantik. Semoga ini adalah jalanku untuk bisa bertemu denganmu, tulang rusuk ku. Aku akan menyebut namamu di dalam do'aku.
" Kha! Shaka! "panggil Mas Aksa keras.
" Eh... iya, Mas.Kenapa? "jawabku terkejut.
" Apaan sih Mbak Dilla nih. "
"Shaka, bener kamu suka sama siapa tadi namanya, Bun? " tanya Mas Aksa sambil fokus ke depan.
"Shila, Yah. "
"Iya, kamu suka sama Shila? " tanya Mas Aksa lagi.
"Emm... aku juga belum tau, Mas. Baru sekali bertemu, eh... enggak bertemu sih. Cuma sekali melihat doang Mas. " jawabku jujur.
"Kalau kamu memang suka sama dia, nggak masalah, Kha. Kamu juga sudah dewasa, sudah punya usaha sendiri. Sudah waktunya kamu menata kehidupan bersama seorang pendamping, " tutur Mas Aksa.
"Iya, Kha. Tapi untuk lebih yakinnya kamu istikhorohin gih si Shila itu, siapa tau dia benar-benar jodoh kamu, " timpal Mbak Dilla.
"Iya, Mas, Mbak. InsyaAllah. "
__ADS_1
"Tapi lebih cepat, lebih baik, Kha. Sebelum janur kuning melengkung hlo, " ucap Mbak Dilla.
"Ya nanti sebelum melengkung aku lurusin lagi, Mbak. Hahaha, " candaku mencairkan suasana canggung.
Kamipun melanjutkan perjalanan kami, aku memilih menyusul ke alam mimpi bersama Rifan yang sudah tertidur dari awal perjalanan.
Ketika kami sampai di rumah, adzan isya' pun sudah menggema. Akupun segera mengambil wudhu, dan berangkat ke masjid.
"Mas, kemasjid nggak? " tanyaku saat melihat Mas Aksa yang masih duduk di ruang tamu.
"Iya, Kha. Sebentar, " jawab Mas Aksa yang berlalu ke kamar mandi, mungkin berwudhu.
"Mas, aku duluan ya! " teriakku.
"Iya, " seru Mas Aksa. Aku pun segera berangkat ke masjid. Jarak rumah Mas Aksa ke masjid tidak terlalu jauh, jadi aku jalan kaki. Saat aku sudah hampir sampai ke masjid, ada beberapa remaja putri yang juga ingin kemasjid. Terlihat mereka menenteng mukena mereka.
"Hai, Mas Shaka. Mau kemasjid ya. Aku boleh bareng? " tanya salah satu dari mereka. Aku berlalu mengabaikan para remaja itu. Jujur saja aku merasa risih, jika ada perempuan yang seperti itu. Seorang perempuan itu harus bisa menjaga marwahnya.
"Ihh... Mas Shaka masih dingin aja, " ujar salah satu dari mereka, dan aku masih bisa mendengarnya. Aku mengabaikan mereka dan melanjutkan langkahku menuju masjid. Aku memang terkenal seorang pria yang dingin dikalangan perempuan. Tapi aku tak mempermasalahkannya.
Setelah pulang dari masjid, aku langsung masuk ke kamarku. Kebetulan tadi ketika perjalanan pulang dari Kampung Biru,kami sudah makan malam diwarung tenda, sekalian mampir untuk sholat magrib.
Saat aku berbaring, aku teringat perkataan Mas Aksa yang menyarankanku untuk segera menikah. Bukannya aku tak ingin segera menikah, tetapi aku masih mencari seseorang yang tepat, yang bisa menemaniku mengarungi bahtera rumah tangga sampai ke jannahNya.
'Shila, 'gumamku tersenyum. Entah kenapa nama itu membuat hati ini merasakan sesuatu yang belum pernah kurasakan sebelumnya. "Astagfirullahaladzim, " ucapku ketika terbayang senyuman manis dari gadis bernama Shila. Aku tidak boleh membayangkan yang belum halal untuk kubayangkan. Aku segera memejamkan mata ini, karena besok pagi aku harus membuka kedai.
Aku berada di sebuah masjid,entah masjid apa aku kurang tau. Di masjid itu aku mengumandangkan adzan dan iqamah. Setelah melaksanakan sholat, aku membaca AlQur'an.
Karena terasa haus, aku memutuskan mencari air minum. Saat aku ingin kembali ke dalam masjid, aku melihat seorang wanita yang sepertinya tak asing bagiku. Dia sedang berdiri mematung, melihat kearah sepasang suami istri yang berboncengan meninggalkan pelataran masjid.
'Sepertinya itu Shila,' gumamku. Saat dia menoleh kesamping sebentar, ternyata benar dia Shila.Seketika jantung ini berdegup dengan cepat.Tetapi kenapa tadi aku melihat Shila seperti sedang menangis. Aku pun memberanikan diri,melangkah ingin mendekatinya. Saat hampir dekat dengan Shila, tiba-tiba Shila berlari dan tersandung batu.
"Shila! " teriakku.
"Astagfirullahaladzim, ternyata cuma mimpi. "Aku beranjak dari kasurku dan melangkah kekamar mandi, untuk mengambil wudhu. Keluar dari kamar mandi,aku menggelar sajadah dan memakai sarung untuk sholat tahajjud.
Setelah sholat tahajjud, aku pun kembali berdiri melaksanakan sholat istikharah.
__ADS_1
" Ya Allah. Jika memang Shila adalah jodoh hamba, maka tunjukkan jalan untuk hamba dan Shila bisa bersatu. Tapi apabila Shila bukan jodoh hamba, maka hilangkan lah perasaan ini dari hati hamba, dan gantilah dengan sesuatu yang lebih indah, "do'a ku setiap hari. Bedanya kali ini aku bisa menyebut nama seseorang yang sudah mencuri hati ini. Shila.