Ku Menantimu Imamku

Ku Menantimu Imamku
Melupakan


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 2.30 pagi. Dimana suasana dijam tersebut, bisa membuat terlena para anak Adam, hanyut dalam tidurnya.


Tetapi ada juga sebagian dari anak Adam, yang menyempatkan untuk membasuh wajahnya dengan air wudhu. Dan berdiri di atas sajadah nya, bersimpuh pada Yang Maha Kuasa.


Ada salah satu anak Adam yang baru selesai melaksanakan sholat tahajud nya. Dengan kedua tangannya dia menengadah, meminta pada Yang Maha Kuasa.


"Ya Allah, hambamu ini tak mengenal siapa dia. Tapi kenapa engkau meletakkan perasaan yang belum pernah hamba rasakan sebelumnya di hati hambamu ini Ya Allah.Hamba memohon padaMu Ya Allah. Jika memang engkau mentakdirkan dia menjadi jodoh untuk hamba, maka berilah jalan untuk hamba bisa bersamanya. Tapi jika dia bukan jodoh hamba, maka hilangkan perasaan ini Ya Allah. Dan gantilah dengan seseorang yang lebih baik untuk hamba. " Salah satu Doa dari anak Adam itu.


Setelah dia selesai berdo'a. Dia mengambil Al Qur'annya, dan mulai membacanya.Dia melantunkan ayat-ayat AlQuran dengan khusyuk. Hingga dia meneteskan air matanya, saat menemui ayat yang berisi tentang siksaan Allah.


Di tempat lain ada seorang gadis yang juga bersimpuh diatas sajadah nya. Menengadahkan kedua tangannya.


"Ya Allah apakah mimpi yang Engkau berikan padaku adalah petunjukMu? Ataukah hanya bunga dalam tidurku? Ya Allah jangan jadikan hamba bersandar pada selainMu ya Allah. Dan jangan jadikan hamba terlalu mengharapkan makhlukMu" Doa dari gadis itu. Selesai dengan doa-doanya dia berdiri lagi melaksanakan dua rakaat sholat istiqoroh.


"Ya Allah, jika memang dia jodohku, maka dekatkanlah kami dengan caraMu. Tetapi jika dia memang bukan jodohku jauhkanlah dengan caraMu. Dan gantilah dengan seseorang yang terbaik untuk hambamu ini. Yang bisa membimbing hamba menuju surga Mu. " Doanya setelah selesai sholat.


Di tempat lain juga ada seorang pria yang masih terjaga.Bukan untuk melaksanakan tahajud, tetapi dia memang benar-benar belum tidur,semenjak dia merebahkan tubuhnya di kasurnya.


"Ya Allah. Kenapa menjadi rumit begini!!!? Arggggg!!!" Frustasinya sampai mengacak-acak rambutnya.


Dia merasakan kegelisahan dan kebingungan secara bersama. Setelah mendengar penuturan dari sahabatnya.


Ya dia Aris, semenjak dia pulang dari malam mingguan bersama Cahya dan Danang, dia tak bisa memejamkan matanya.


Ucapan dari Cahya tadi terus berputar dikepalanya.


"Kenapa ibu sampai segitunya tak menyukai Shila, sampai menyuruh Cahya untuk memberi tau Shila, agar Shila menjauhiku. Apa salah, aku menyukai Shila dan ingin menikah dengannya? " gumam Aris, berusaha menutup matanya, tetapi tak kunjung terlelap.


"Apa aku harus mengalah untuk memiliki Shila? Atau aku harus terus berjuang mendapat Shila, walau ibu tak setuju?Tapi berarti aku menyakiti perasaan ibu.Arrgggg … kenapa menjadi rumit begini ya Allah?" Aris mengibaskan selimutnya dan bangkit dari tidurnya.


Adzan subuh sudah berkumandang. Aris berlalu menuju kamar mandi, untuk mengambil wudhu. Kemudian dia berangkat ke masjid untuk sholat subuh berjama'ah.


Pulang dari masjid Aris langsung merebahkan tubuhnya di kasurnya.


Tling....


Ada bunyi notifikasi pesan masuk. Aris bergegas mengambil ponselnya, yang ia letakkan di nakasnya.


[Cahya]


[CFD yok bos]


[Oke, agak siangan ya soalnya aku masih ngantuk,semalaman nggak bisa tidur]


[Kenapa emang?? Apa gara-gara semalam?]


[Mungkin]


[Ya udah. Nanti kita bahas lagi aku mau tidur sebentar]

__ADS_1


[Owalah, ya udah]


Aris meletakkan ponselnya kembali, dan mencoba memejamkan matanya.


Tok.. Tok... Tokkk....


Belum sempat terlelap tiba-tiba ada yang mengetok pintu.


"Aris! tolong angkatin galon dulu! "teriak Bu Tina dari luar kamar.


Dengan mata yang mengantuk, Aris bangkit dan melangkah ke arah pintu. Aris membuka pintu dan melihat ibunya yang berdiri di depannya.


" Ya Allah Ris, mata kamu kenapa jadi begitu? "tanya Bu Tina ketika melihat kantung mata Aris yang menghitam.


" Nggak papa Bu, aku cuma nggak bisa tidur semalam," jawab Aris seraya melangkah menuju dapur, untuk mengangkat galon yang dimaksud ibunya.


"Mikirin apa sampai nggak bisa tidur tu? Apa jangan-jangan kamu lagi mikirin si anak petani itu Ha? " tanya Bu Tina dengan nada tak suka. Aris yang mendengarnya seketika berhenti melangkah.


Niat hati ingin kembali ke kamarnya. Tetapi mendengar ibunya berkata seperti itu, dia menghentikan langkahnya,dan menatap ke arah ibunya.


"Apa maksud ibu? " Aris menahan emosinya.


"Ya gara-gara mikirin anak petani itu, kamu jadi nggak bisa tidur! "


"Anak petani? Siapa yang ibu maksud itu? " Aris semakin geram pada ibunya, tapi dia tetap menahan diri agar tidak tersulut emosi.


"Yaa siapa lagi kalau bukan Shila, Shila itu! " Ucap Bu Tina dengan nada meremehkan.


"Kenapa kamu berani ngomong seperti itu pada ibumu haa? kamu nuduh ibu yang enggak-enggak? gara-gara kamu berhubungan dengan anak petani itu, jadi kamu berani menentang ibu haa?" Bu Tina tersulut emosi.


"Ibu jangan cari gara-gara ya Bu. Ini masih terlalu pagi untuk berdebat! "Aris mengepalkan tangannya menahan emosi yang meluap.


" Pokoknya Ibu nggak mau tau. Kamu harus melupakan anak petani itu titik! "bentak Bu Tina dan meninggalkan Aris yang masih emosi.


" Ya Allah … Astagfirullah.Arggggg!" Aris mengusap wajahnya frustasi.


Satu jam kemudian, Aris sudah siap untuk CFD dengan Cahya dan Danang. Saat keluar kamar dia berpapasan dengan ibunya. Tetapi Bu Tina seperti tak memperdulikan Aris.


"Bu, aku pamit mau CFD" Ucap Aris mencium tangan ibunya. Walaupun tadi mereka berdebat, tetapi sebagai anak Aris tetap meminta izin pada orangtuanya.


"Sama siapa? " tanya Bu Tina datar.


"Cahya dan Danang," jawab Aris cepat.


"Nggak sama anak petani itu kan? " tanya Bu Tina memastikan.


"Sudahlah Bu, aku capek berdebat dengan ibu.Aku berangkat. Assalamualaikum," jawab Aris keluar dari rumah.


"Wa'alaikumussalam. Pokoknya jangan sampai kamu dekat-dekat dengan dia! " Aris terus melangkah tak menghiraukan ucapan ibunya.

__ADS_1


"Kenapa lagi lo Ris? itu kenapa lagi mata lo? kaya panda aja! Hahaha," tanya Danang mengejek.


"Husss! " tegur Cahya yang masih duduk di motornya.


Mereka baru akan berangkat CFD, dan masih berkumpul di depan rumah Cahya.


"Gua nggak bisa tidur semalaman," ucap Aris lesu.


"Kenapa? " tanya Danang kepo.


"Udah lah, nanti aja bahasnya. Kapan kita berangkat CFD nya. Keburu siang nih," ucap Cahya menggerutu. Sebenarnya Cahya mengajak Aris CFD untuk menghibur Aris agar pikiran Aris bisa sedikit lebih tenang.


Akhirnya mereka sampai di CFD. Mereka jalan-jalan dan mencoba berbagai kuliner yang ada di CFD. Mereka memutuskan untuk makan soto di lesehan.


Setelah memesan mereka mencari tempat longgar untuk duduk.


"Jadi gimana Ris, ceritanya kok sampai kamu nggak bisa tidur? " tanya Danang. Saat mereka sudah mendapat tempat untuk duduk.


"Gue mikirin ibu gue dan Shila, gue bingung harus mengambil keputusan apa? " ucap Aris lesu.


"Mas ,Mbak.Ini sotonya dan minumnya," ucap penjual soto itu, sambil meletakkan pesanan mereka.


"Terimakasih, Bu," ucap Cahya yang diangguki penjual soto itu.


"Mungkin memang Gue harus mencoba untuk melupakan Shila. "


"Apaa? Uhuuk … Uhuuk… ." Cahya yang sedang minum terkejut dengan penuturan Aris, hingga dia tersedak minumannya sendiri.


"Lo nggak papa, Yak? " tanya Danang khawatir.


"Gue nggak papa. Apa Ris? Gue nggak salah dengar kan? " tanya Cahya memastikan.


"Iya, mungkin Gue harus melupakan Shila. Ibu gue nggak menyukai Shila, gue takut durhaka sama ibu gue, " ucap Aris menunduk dan tangannya hanya mengaduk-aduk soto dihadapannya tanpa berniat memakannya.


"Lo dah yakin?" tanya Cahya dengan alis menyatu.


"Entahlah," jawab Aris mengedihkan bahunya.


"Kalau memang lo udah yakin, ya udah nggak papa. Mungkin memang Shila bukan jodoh lo. Dan Shila insyaallah ngertiin kok," ucap Cahya yang sebenarnya sedikit kecewa. Tetapi mau bagaimana lagi, dia tak berhak mengurusi hidup Aris.


" Sudahlah Ris, jangan sedih kayak gitu. Masih banyak kok cewek didunia ini," ucap Danang menyeruput es jeruknya.


"Nanti kapan-kapan gue coba ngasih pengertian Shila, " ucap Cahya mengunyah sotonya.


"Nggak perlu,Yak," ucap Aris


"Tapi nanti …" ucapan Cahya terpotong, karena melihat isyarat yang diberikan Danang ,agar dia tak melanjutkan ucapannya.


"Kapan-kapan insyaallah gue yang akan memberi tau Shila," ucap Aris kemudian.

__ADS_1


"Ya sudah terserah kamu aja kalau gitu," ucap Cahya melanjutkan makannya.


__ADS_2