
Pov Shila
Gema takbir sudah bergema di seluruh penjuru, yang artinya besok adalah hari yang sangat special bagi umat muslim, yaa hari raya Idul Fitri.
Dari tadi siang, aku sudah sibuk di depan tungku api.Memastikan agar api tidak padam. Ya aku sedang membantu ibuku memasak lontong dan aneka lauk khas lebaran.Sudah menjadi kebiasaan keluarga kami, saat menyambut lebaran ibuku akan memasak lontong dan lauk khas lebaran.Agar bisa dinikmati oleh keluarga dan juga sanak saudara yang datang. Dan aku, bapak, serta adik-adikku akan membantu ibuku.
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam, dan Alhamdulillah semua masakan sudah matang, termasuk lontong yang ibu buat.
Aku dan Putri sedang membakar aneka sosis, yang nanti akan kami makan bersama keluarga. Ibu sedang membersihkan diri, sementara bapak dan Arif sedang ke masjid, untuk sholat isya dan ikut takbiran sebentar.
"Udah mateng Mbak? " tanya Arif yang baru pulang dari masjid.
"Tinggal dikit nih.Bantuin napa!" pintaku pada Arif.
Dibelakang Arif ada bapak yang baru pulang juga dari masjid.
"Hla Ibumu mana, Nduk? " tanya bapak sambil duduk di bangku kayu depan rumah. Ya kebetulan kami bakar-bakar di pekarangan rumah.
"Ibu lagi mandi Pak. Kan baru selesai masaknya," jawab Putri sambil mengipasi sosis bakarnya.
"Kayanya udah mateng, Dek. Arif tolong ambilin wadah."
Kemudian Arif bergegas mengambil wadah, dan menyerahkannya pada ku.
"Udah selesai,Nduk? " tanya ibu yang terlihat lebih segar karena habis mandi.
"Udah Bu. Ayo Pak, Bu kita makan sama-sama," ajakku, seraya duduk di teras rumah dan membawa hasil bakaranku dan Putri.
Dan kami melewat malam takbiran tahun ini, dengan makan sosis bakar bersama.
Pagi harinya karena kamar mandi hanya satu, kami bergantian mandi. Aku sedang menyetrika baju lebaran kami, sementara ibu sedang menghangatkan lauk yang dimasak kemarin. Bapak dan Arif sudah mandi tadi dan berlalu menuju masjid, untuk sholat subuh berjamaah, dan Putri sedang mandi.
Setelah Putri selesai mandi, baru aku masuk kamar mandi dan setrikaan dilanjut Putri.
Setelah kami sudah rapi, kami berlalu menuju ke tempat sholat ied.
"Shilaaa ... . " Setelah beranjak untuk pulang karena sholat ied sudah selesai,aku seperti mendengar suara Cahya memanggilku.Setelah berbalik aku menemukan Cahya yang sedang bersama ibunya.
__ADS_1
Aku segera berjalan menemui Cahya dan ibunya. Sementara ibuku dan Putri sedang melipat mukenanya.
"Minnalnaidzin walfaidzin, Bu," ucapku pada ibu Cahya.
"Iya, Nduk. Mohon maaf lahir batin ya Nduk." Ibu Cahya langsung memelukku. Ibu Cahya sudah ku anggap ibuku sendiri.
"Eheeeem … gantian ngapa, Bu," ujar Cahya, yang membuat ibunya melepas pelukannya padaku.
"Shilaaa.Minal aidzin walfaidzin, Sayang," ucap Cahya berhambur kepelukanku.
"Iya Sayang. Maaf lahir batin yaaak." Aku membalas pelukan Cahya.
"Ayo Nduk. Mampir dulu ke rumah," ajak ibu Cahya.
"InsyaAllah nanti Bu. Aku main kerumah.Sekarang aku pulang dulu ya Neng, Bu. Sudah ditunggu yang lain," pamit ku pada ibu Cahya ketika Cahya melepaskan pelukkan kami.
"Oww... ya sudah."
"Assalamualaikum," salamku pada keduanya.
Setelah seharian bersilaturahmi ke tempat saudara dan tetangga, aku berbaring dikamarku. Aku membuka ponselku, dan banyak yang mengirimkan ucapan selamat Idul Fitri padaku, termasuk Mas Aris,yang aku balas singkat.Entah kenapa aku agak malas membalas pesannya,apa karena sikap ibunya tadi,atau apa. Akupun tak tau.
Tiba-tiba ada pesan masuk dari mas Anton.
[M.Anton]
[Assalamualaikum Mbak]
[Minnal aidzin walfaidzin ya Mbak, mohon maaf lahir batin]
Segera aku membalasnya.
[Wa'alaikumussalam Mas, mohon maaf lahir batin juga]
[Mbak, InsyaAllah H+ seminggu,aku jadi ketempat mbak ya]
Balasan Mas Anton membuat, mataku melotot, aku lupa memberi tahu bapak tentang mas Anton yang ingin datang. Bagaimana aku akan menjelaskan pada Bapak, aku tau bapak kurang setuju jika aku dengan mas Anton.
__ADS_1
Saking lamanya aku berfikir, mas Anton kembali mengirim pesan.
[Mbak?? Bagaimana boleh kan?]
[Eeee, nanti aku kabari lagi ya Mas]
[Hloh, emang kenapa Mbak? ]
[Nggak ada Mas, cuma aku harus ngomong dulu sama bapakku]
[Oowh, ya sudah kalau begitu]
Aku meletakkan ponselku dan bergegas menemimui bapakku.
"Pak, seminggu lagi ada yang datang mau silaturahmi ke sini, Pak," ucapku pada bapak yang sedang duduk di teras.
"Siapa Nduk?"
"Eee, mas Anton," jawabku ragu.
"Anton yang dari Jawa Timur itu?"
"I-iya Pak," jawabku gugup.
"Kamu sudah yakin sama dia?"tanya bapakku.
" Dia cuma mau main doang kok, Pak," ucapku, agar bapak tak salah faham.
"Nduk, begini kalau dia mau main kesini nggak masalah, tapi mungkin dia punya niat mau nglamar kamu.Kan nggak mungkin jauh-jauh dari sana cuma mau main.Dan kalau kamu ngizinin dia kesini, berarti kamu memberi harapan padanya. Kasihan Nduk, rumahnya jauh. Dan lagi Aris, dia kan yang punya niat mau seriusin kamu duluan," jelas bapakku panjang, dan aku hanya menunduk.
"Sekarang begini saja Nduk, kamu milih Aris apa Anton?"
Aku menunduk, aku bingung kalau aku memilih mas Aris, ibunya sepertinya kurang suka padaku, dan mas Aris pun belum memberi kepastian. Dan kalau aku memilih mas Anton aku akan menyakiti mas Aris, serta membuat sedih bapakku, karena bapakku tak ingin aku dapat orang jauh.
"Kamu harus tegas memilih Nduk.Kalau kamu mau Aris, jangan kasih harapan pada Anton, dan juga sebaliknya," nasihat bapakku.
"Iya Pak."
__ADS_1