
"Nanti Ibu kenalkan sama anak teman Ibu," ucap Bu Tina lirih, tetapi masih bisa didengar oleh Aris.
Sementara Aris yang sudah melangkah ke luar dapur,seketika menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan ibunya.Aris memutar tubuhnya menghadap ibunya dan menatapnya. Sementara Bu Tina yang mengetahui Aris menatapnya, langsung pura-pura melanjutkan aktifitas memasaknya.
"Ibu tadi bicara sesuatu? " tanya Aris mendekati ibunya. Yang membuat ibunya menghadapnya.
"E-enggak. Ibu nggak bicara apa-apa kok," jawab Bu Tina gugup.
"Tapi tadi Aris dengar ibu bilang kalau ... . "
"Udah itu kopinya keburu dingin. Kasihan bapakmu nunggu lama." Ucapan Aris terpotong oleh ucapan ibunya.
"Oohh … ya udah Bu. Aku kedepan dulu," ucap Aris meninggalkan dapur.
"Hufftt ... Alhamdulillah Aris nggak curiga.Kalau dia tau,aku ngajak dia ketemu Jeng Siska untuk menjodohkannya dengan anak jeng Siska,pasti Aris akan nolak.Semoga rencanaku berhasil," ucap Bu Tina mengelus dadanya, ketika Aris sudah benar-benar menghilang dari dapur.
Beberapa saat kemudian,Bu Tina sudah siap untuk menemui temannya.
Took... Took.. Tokkk...
"Ris.Kamu sudah siap belum, ayo berangkat. Ibu tunggu di depan ya,"
ucap Bu Tina setelah mengetok pintu Aris.
"Iya.Bu, sebentar! " teriak Aris dari dalam kamarnya.
Bu Tina memilih menunggu Aris di depan rumahnya, sambil mengabari temannya kalau dia sudah mau berangkat.
"Ayo, Bu," ajak Aris tiba-tiba sudah berada diluar.
"Iya, ayok," ucap Bu Tina yang sedang mengecek ponselnya. Setelah meletakkan ponselnya di tas, Bu Tina melihat Aris.
"Ya Allah Ris. Kamu mau pergi dengan pakaian begini? " Ucap Bu Tina, kala melihat Aris mengenakan celana pendek levis, kaos oblong yang ditutupi jaket.
"Iya Bu. Kenapa emangnya? " tanya Aris melihat dirinya sendiri.Tak ada yang salah dalam cara berpakaiannya.
"Ibu nggak mau tau. Ganti pakaianmu sekarang. Masak mau nemuin teman ibu pakai celana pendek, kaos oblong. Sama ini nih, masak kamu mau pakai sandal jepit? " ucap Bu Tina menunjuk celana, kaos dan sandal jepit yang Aris gunakan.
"Ya Allah Bu. Kan yang mau ketemu teman Ibu bukan aku, Bu! " ucap Aris.
"Iya memang. Tapi masak kamu mau nunggu diparkiran aja, nggak nemuin teman Ibu sih, " ucap Bu Tina geram dengan anaknya.
"Ya udah, iya. Aku ganti baju dulu," ucap Aris berlalu masuk rumah lagi.
Beberapa menit kemudian Aris sudah keluar rumah, mengenakan kemeja yang dipadukan dengan jaketnya, celana panjang levis, dan sepatu. Dan Aris juga menggunakan jam tangan.
"Nah, gini kan cakep. Ya udah yuk berangkat, " ucap Bu Tina.
Mereka berdua menaiki sepeda montor menuju salah satu rumah makan. Setelah sampai dan memarkirkan motornya, Aris dan ibunya masuk ke dalam rumah makan.
Bu Tina mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah makan,mencari keberadaan temannya. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat seorang ibu-ibu yang melambaikan tangan pada Bu Tina. Setelah melihat siapa yang melambaikan tangan kepadanya, Bu Tina pun tersenyum, dan melangkah menuju tempat ibu-ibu tadi. Tidak lupa sambil menarik tangan Aris, agar Aris mengikutinya.
"Assalamualaikum, Jeng Siska? " ucap Bu Tina pada ibu-ibu yang bernama Bu Siska itu,yang tak lain temannya Bu Tina.
"Wa'alaikumussalam, Jeng Tina, " jawab Bu Siska berdiri dari duduknya dan menghampiri Bu Tina kemudian cipika cipiki.
__ADS_1
"Ayo silakan duduk, Jeng Tina," ucap Bu Siska mempersilakan duduk pada Bu Tina dan Aris.
"Terimakasih Jeng.Ohh, iya kenalin ini anak aku namanya Aris," ucap Bu Tina memperkenalkan Aris yang sedari tadi diam.
"Ohh, Aris.Kenalin nama tante, Tante Siska," ucap Bu Siska menangkupkan kedua tangannya.
"Iya Tante," ucap Aris singkat.
"Ohh Iya Jeng. Jeng Siska kesini sendirian? " tanya Bu Tina celingukan mencari seseorang.
"Enggak, aku kesini sama putriku Jeng. Dia tadi mau ke toilet sebentar," jawab Bu Siska. Dan Bu Tina hanya mengangguk.
"Ohh Iya Jeng. Silakan pesan menu. Aku sama anakku tadi udah pesan duluan, " ucap Bu Siska memberikan buku menu pada Bu Tina.
"Mbak, mbak sini," panggil Bu Siska pada seorang pelayan.
"Iya Bu. Ada yang bisa saya bantu? " tanya pelayan itu ramah.
"Ohh, ini teman saya mau pesan makanan," ucap Bu Siska.
"Baik Bu, biar saya catat," ucap pelayan tadi mengeluarkan buku pesanan dan bolpoint.
"Saya mau yang ini, sama yang ini ya mbak, terus minumnya jus jeruk aja," ucap Bu Tina menunjuk gambar menu di buku menu.
"Baik Bu. Ada lagi? " tanya pelayan tadi.
"Ris, kamu mau pesan apa? " tanya Bu Tina menyenggol lengan Aris.
"Aku ini aja, Bu.Minumnya samaain sama Ibu aja," ucap Aris yang ikut menunjuk buku menu.
"Iya, Mbak, " ucap Bu Tina.
"Baik.Mohon ditunggu sebenar ya, Bu," ucap Pelayan itu undur diri.
"Mah !" ucap seorang gadis yang sudah berdiri di samping Bu Siska.
"Arum.Udah Nak ke toiletnya? " tanya Bu Siska ke anaknya.
"Sudah,Mah," ucap Arum duduk disamping Bu Siska.
"Oh iya Nak.Kenali ini temanya Mama,namanya Tante Tina.Dan Jeng Tina ini putri ku namanya Arum," ucap Bu Siska memperkenalkan mereka berdua.
"Salam kenal, Tante Tina," ucap Arum ramah.
"Iya Nak. Oh iya, ini anak Tante, namanya Aris," ucap Bu Tina memegang lengan Aris.
"Hai, Mas Aris.Salam kenal aku Arum," ucap Arum tersenyum.
"Hmm, Iya." Aris menanggapi datar.
"Permisi, ini pesanan anda." Pelayan datang membawa pesanan mereka.
Setelah pelayan itu pergi, mereka melanjutkan untuk makan, dan diselingi obrolan yang membuat Aris menjadi bosan. Dia hanya menanggapi obrolan itu dengan sesuka hatinya.
"Nak Arum, sekarang kesibukannya apa? " tanya Bu Tina.
__ADS_1
"Hanya buka toko pakaian tante, " ucap Arum tersenyum.
"Waah, hebat ya,Nak Arum. Udah cantik, sholihah, mandiri juga. Ya kan, Ris? " puji Bu Tina sambil menyenggol kaki Aris dengan kakinya.
"Iya," jawab Aris singkat.
"Terimakasih hlo, Tan," ucap Arum tersenyum malu.
Setelah beberapa jam mereka berbincang-bincang. Mereka memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah Aris langsung melangkah menuju kamarnya.
Malam harinya saat mereka makan malam. Bu Tina mulai menjalankan misinya.
"Ris, tadi Arum cantik ya? " tanya Bu Tina ditengah makan malam.
"Biasa aja, Bu," jawab Aris, sambil memasukkan sesendok nasi ke mulutnya.
"Biasa aja dari mana. Arum itu udah cantik, baik, sholihah, mandiri pula. Dan dia anak dari pak Kades desa tetangga. Cocok kalau dijadikan istrimu, Ris," ucap Bu Tina.
"Uhuuuuk ... Uhuuuuk ... ." Aris tersedak makanan karena terkejut dengan ucapan ibunya.
"Ya Allah, Ris. Kamu kenapa? nih minum dulu," ucap Bu Tina khawatir dan menyodorkan air minum ke Aris. Dan Aris langsung meneguknya hingga tandas.
"Kamu kenapa Ris, kok tiba-tiba keselek gitu" Tanya Pak Huda bapaknya Aris.
"Nggak kok, Pak.Aku nggak papa. Cuma tadi kaget aja pas ibu bilang calon istri buat Aris," ucap Aris melihat ibunya.
"Ibumu juga ada-ada aja. Lagi makan kok nyebut-nyebut calon istri segala," ucap Pak Huda sambil minum teh panasnya.
"Ya nggak masalah toh, Pak. Kan Aris belum nikah, Pak. Jadi Ibu nggak salah kalau nyariin istri buat Aris," ucap Bu Tina.
"A-apa Bu? Nyari calon istri buat Aris? " tanya Aris bingung.
"Hla … bukanya Aris sudah ada pilihan sendiri, Bu? " tanya Pak Huda.
"Shila? " tanya Bu Tina tak suka. Dan Pak Huda hanya mengangguk.
"Ibu nggak suka sama Shila, Pak. Ibu sukanya sama, Arum," ucap Bu Tina.
"Hla kan yang nikah bukan Ibu, tapi Aris. Biarkan dia yang mencari sendiri, Bu! " ucap Pak Huda selesai makan.
"Biarin.Ibu yang tau yang terbaik buat Aris, " ucap Bu Tina kekeh.
"Terserah Ibu aja lah kalau gitu." Pasrah Pak Huda tak mau berdebat dengan istrinya.
"Ibu dan Tante Siska, berencana mau jodohin kamu sama Arum, " ucap Bu Tina.
"Apa Bu?" tanya Aris terkejut.
"Iya, Ibu pengen Arum jadi menantu Ibu," ucap Bu Tina lagi.
"Ibu nggak bisa gitu dong, Bu. Masak main jodoh-jodohin Aris segala sih, Bu," ucap Aris geram dengan ibunya.
"Ibu nggak mau tau. Pokoknya kamu harus nikah sama Arum. Titik, " ucap Bu Tina tegas dan langsung meninggalkan meja makan.
"Ya Allah … cobaan apalagi ini ya Allah? " ucap Aris mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Hatinya belum bisa melupakan Shila. Tetapi ibunya sudah membuat keputusan, akan menjodohkannya dengan anak temannya.