
Beberapa hari lalu Dian teman jauh Shila, mengenalkan Shila pada temannya, yang rumahnya berbeda provinsi. Kata Dian cowok itu pingin kenalan dengan Shila .Karena waktu itu Dian memposting fotonya bersama Shila.Dan setelah itu, cowok itu langsung pingin kenalan dengan Shila. Dan Shila pun setuju saja, karena menurutnya untuk menambah teman.
Setelah beberapa kali chatingan dengan cowok itu.Tiba-tiba saat Shila berbaring di kamarnya. Cowok itu mengirim pesan yang mengejutkan Shila.
[M. Anton]
[Mbak Shila, sebenarnya aku sedang mencari calon istri. Setelah beberapa kali berkomunikasi sama kamu, hatiku langsung cocok]
[Mungkin ini terlalu cepat mbak, tapi apakah kamu mau menjadi calon istriku? ]
Ya nama cowok teman Dian itu adalah Anton,dia tinggal di provinsi Jawa Timur. Sementara Shila berdomisili di Jawa Tengah.Mereka sama-sama pernah mondok di sebuah pesantren. Itu yang membuat Shila nyambung dengan Anton. Karena selama mereka saling berkirim pesan, mereka bisa saling menasehati dan memberi motivasi.
Shila bingung mau menjawab bagaimana. Karena disisi lain ada Aris, yang ingin serius padanya tapi belum ada kepastian. Dan sekarang dia dihadapkan pada pilihan. Shila akui kalau Anton termasuk kreteria nya, Anton faham agama, dewasa, dan mandiri. Tetapi dia tidak ingin menyakiti Aris.
Dan Shila memutuskan, untuk meminta pendapat bapaknya lain waktu. Akhirnya Shila memilih meminta waktu pada Anton untuk istiqoroh, dan Anton menyetujuinya.
Beberapa hari kemudian, saat bapak Shila sedang asyik merawat tanaman hiasnya. Shila mendekat, dan duduk disamping bapaknya. Kebetulan hari ini hari sabtu, yang artinya hari libur untuk Shila.
__ADS_1
"Pak, Shila boleh cerita nggak? " tanya Shila.
"Cerita apa, Nduk? " Bapak menghentikan aktifitasnya dan fokus pada anak sulungnya.
"Gini Pak. Emmm ... a-ada cowok yang mau jadiin Shila calon istri," gugup Shila.
"Oww si Aris itu? Ya kalau dia serius, suruh main sini nemuin Bapak," tanya Pak Adi.
"Eem… bu-bukan Pak. Bukan mas Aris" Jawab Shila sambil menunduk.
"Hee… bukan Aris. terus siapa lagi? " Muka bapak terkejut, tapi segera menetralkan nya kembali.
" Yaa Bapak sih terserah kamu, Nduk. Tapi bagaimana sama Aris? apa kamu nggak kasihan, dia kan yang ngomong dulu," ucap Pak Adi lembut.
"Iya Pak. Tapi mas Aris nggak ngasih kepastian, dia serius apa nggak." Mata Shila berkaca kaca.
"Tapi sudah kamu tanya si Arisnya? " tanya Pak Adi.
__ADS_1
"Udah Pak tapi ya gitu, kata ibunya belum ada dana," jawab Shila.
"Ya kalau emang dia serius kan bisa ngomong dulu sama Bapak.Masalah dana kan Insyaallah kalau niat baik, akan ada jalan sendiri," jelas Pak Adi.
"Iya Pak. Mungkin aku nggak boleh terlalu berharap sama dia Pak," ucap Shila lirih.
"Ya udah, Nduk. Sekarang Anton itu orang mana, Nduk?" Pak Adi mencoba mengganti topik pembahasan Aris, karena tak mau membuat anaknya sedih.
"Di-diaa... Orang Jawa Timur,Pak," ucap Shila ragu.
" Ya Allah, Nduk. Jauh sekali, Nduk," Pak Adi terkejut, pasalnya dia mengira Anton hanya orang daerah sini.
"I-iya Pak," jawab Shila.
" Kamu pernah bertemu orangnya? " tanya Pak Adi.
" Belum sih Pak. Kami berkomunikasi hanya lewat chatingan," jawab Shila.
__ADS_1
"Dipikir dulu ya, Nduk. Soalnya jauh banget.Sebenarnya Bapak pinginnya, kamu dapat orang yang nggak terlalu jauh. Soalnya Bapak sudah tua, Nduk. Nanti kalau kamu nikah terus ikut suamimu, dan punya anak. Bapak bisa nengok kapan aja, tanpa harus perjalanan jauh. Ibarat mau naik sepeda aja sampai, " jelas Pak Adi yang membuat Shila menunduk. Karena dia tau bahwa secara tidak langsung bapaknya kurang setuju dengan Anton.