
Akhirnya kami sampai ke G mall, salah satu mall besar dikota kami.
Setelah sampai kami memasuki beberapa toko.Kami membeli beberapa barang kebutuhan kami. Selanjutnya kami ke food court, untuk mengisi perut yang kosong.
Ketika kami sudah memilih makanan masing-masing. Aku duduk dan membuka ponselku. Ternyata ada pesan dari Shila.
[Shila ]
[Maaf Neng baru aku buka pesan kamu. Soalnya aku baru pulang dari pengajian]
[Maaf ya Neng, nggak bisa nemenin kamu malam mingguan😔]
[Owalah, nggak masalah Sayang. Lain kali aja ya. Aku ini udah keluar kok sama Aris]
[Owalah, ya udah. Maaf ya Neng,🙏]
[Silakan dilanjut]
[Apanya Shil? ]
[Ya malam mingguannya Neng☺]
[Owalah.Jangan cemburu ya😅😅]
[Haa cemburu?? Ngapain Cemburu? ]
[Aku kan lagi malam mingguan sama babang tampanmu.. Hahaha]
Aku terkekeh, aku suka menjahili Shila. Pasti dia salah tingkah.
"Lo kenapa Yak? Gue perhatiin dari tadi lo senyum-senyum sendiri? " tanya Danang disela-sela makannya. Makanan Danang memang datang lebih cepat, karena Kami memilih menu yang berbeda, di stan yang berbeda pula.
"Heheheheh.Nggak ada kok, " jawabku asal, dan fokus lagi ke layar ponselku untuk melihat reaksi Shila.
[Apaan sih Neng??? Babang tampan dari mane?? ]
Pasti Shila membalas pesanku,sambil senyum-senyum salah tingkah, dan itu menghiburku.
[Ya babang Aris yang paling tampan lah Shil! 🤣🤣🤣]
[Neeeeng Cahyaaaaa!!!!!]
"Eh Iya Yak. Lo nggak jadi ngajak Shila? " tanya Aris tiba-tiba. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke Aris.
"Eehhhemmm … Cieee," ledek Danang, yang mendapat toyoran dari Aris.
"Aduh, sakit Ris! " Danang mengusap kepalanya yang di toyor Aris.
"Hahahahah.Rasain lo Nang," ejekku, dan Danang langsung memelototiku.
"Ohh, Iya.Shila nggak bisa katanya. Nih aku lagi chatingan sama dia, katanya dia lagi pulang dari pengajian," lanjutku.Aku kembali fokus ke ponselku ingin membalas pesan Shila.
[Kenapa sayangnya mas Aris??😘😘]
[Hahahahahahah🤣🤣🤣]
Aku semangat sekali menjahili Shila.
__ADS_1
[Jangan gitu lah Neng, 😩]
[Eh, Neng. Udah dulu ya Neng.Baterai ponselku lowbat nih"
[Oke]
Dan benar juga, pesan terakhirku hanya centang satu. Artinya ponsel Shila nggak aktif.
Aku menutup Ponselku, ketika pesananku baru saja sampai.
"Terimakasih, Mas," ucapku pada pelayan yang mengantarkan makanan yang aku pesan.
Setelah pelayan itu pergi, aku melihat Aris dan Danang ternyata sudah melahap makanan mereka.
"Hloh... kok udah pada makan duluan kalian? kapan pesanan lo sampainya Ris? " Aku mengalihkan pandanganku ke Aris. Pasalnya aku tak melihat ketika pelayan mengantarkan pesanan Aris.
"Lo sih, terlalu serius chatingan sama Shila. Jadi kami tinggal makan aja. Ya nggak Ris? " ucap Danang yang diangguki Aris.
"Huuh, ya udah deh. Tapi jangan tinggal gue ya, kalau makanan lo udah pada habis, " ucapku memulai makan.
"Iya...Ngomong-ngomong rajin ya, si Shila itu," ucap Danang.
"Memang dia anak rajin Nang. Udah Cantik, baik, rajin, sholihah pula. Makannya Aris suka," ucapku sambil mengunyah makananku.
"Udah tuh ditelen dulu, baru ngomong," tegur Aris.
"Ngomong-ngomong Ris, gimana kelanjutan hubungan lo sama Shila? " tanya Danang ,yang membuatku ikut melihat Aris.
"Entahlah," jawab Aris mengendihkan bahu.
"Hla kok entahlah? emang kenapa? " tanya Danang penasaran.
"Shila belum ngasih kepastian? " tanya Danang. Dan Aris hanya menggeleng lemah.
"Ibu gue sepertinya juga kurang setuju kalau gue sama Shila, " ucap Aris, yang membuatku tersedak.
"Uhuuuuk … uhuuuk." Aku tersedak karena ucapan Aris, mengingatkan tentang pesan Budhe Tika tadi.
"Eeehh … eeeh. Lo kenapa Yak? " tanya Aris sembari menyodorkan minum. Aku langsung meminumnya.
"Kenapa lo Yak? keselek cicak? " ledek Danang.
"Bukan, tapi keselek Buaya," ucapku menekan kata terakhir, sambil melihat Danang.
"Ngomong buayanya, nggak usah nglihat Gue kelez! " ucap Danang kesal.
"Udah-udah kalian ini berantem terus. Nanti berjodoh baru tahu rasa kalian. " Ucap Aris.
"Apaa? gue berjodoh sama Danang? Huuh … amit-amit! " ucapku sambil mengetok-ngetok meja.
"Gue juga ogah punya istri lo,Yak."
Danang tak mau kalah.
"Udah lah udah," ucap Aris.
"Ohh, Iya kenapa Budhe nggak suka sama Shila Ris? " Tanyaku penasaran. Karena pertanyaan itu terus terngiang di benakku.
__ADS_1
"Huuuh …." Aris menghembuskan nafas berat. Sepertinya ada beban yang sangat berat untuk cerita.
"Ya udah...Kalau nggak mau ngasih tau, nggak masalah kok Ris," ucapku lagi.
"Karena Shila cuma anak petani," jawab Aris sambil menunduk.
"Ma-maksd lo? " tanyaku terkejut. Danang pun juga nampak terkejut.
"Iya... Ibu gue nggak suka sama Shila, lantaran Shila hanya anak petani," jawaban Aris membuat aku melongo kaget.
"Ya Allah... masak Budhe kaya gitu sih Ris," tanyaku masih shok.
"Gue juga kaget Yak ... Kok Ibu bisa berfikir seperti itu. " Aris seperti tertekan.
Haruskah aku ngomong sama Aris, tentang permintaan budhe Tina padaku. Tapi aku takut kalau Aris dan Budhe Tina malah bertengkar.Biarlah jadi rahasiaku dulu lah.
"Terus Shila, udah tau masalah ini belum Ris? " tanya Danang yang dari tadi hanya menyimak.
"Belum.Dia pernah tanya gue, tentang keseriusan gue, terus gue jawab aja kalau ibu gue belum ada dana, kalau segera nikah, " ucap Aris yang lagi-lagi hanya menunduk.
"Terus keputusan lo gimana Ris? "tanya Danang menepuk bahu Aris.
" Gue juga bingung. Ibu gue nggak suka sama Shila, terus Shila nya belum ngasih kepastian ke Gue! " ucap Aris bimbang.
"Ris, Gu-gue mau ngomong ka-kalau..." ucapku ragu-ragu, karena aku masih bingung antara ngomong apa yang budhe ucapkan, ataukah aku harus diam saja.
"Ngomong aja Yak. Ngapain gugup gitu? " tanya Aris menoleh ke arahku.
"Sebenarnya tadi Budhe Tina, nyuruh gue supaya ngomong sama Shila buat ngejauhin lo. " Akhirnya aku sampaikan juga, karena aku juga bingung aku harus bagaimana.
"Apa? " Aris berucap lantang, hingga beberapa orang disekitar kami melihat ke arah kami.
"Sudah Ris tenang dulu, dilihatin banyak orang tuh! "ucap Danang menenangkan Aris.
Beberapa menit Aris diam. Aku dan Danang hanya diam tak berani bertanya lagi.
" Haaaah!!"Aris menghembuskan nafas besar, sepertinya dia tertekan. Kasihan Aris, tapi kalau aku nggak ngomong, aku takut Budhe langsung melabrak Shila. Dan menyuruh Shila untuk menjauhi Aris.
"Haruskah gue menyerah? " Aris berucap sendu.
"Maksudnya Ris? " Tanyaku bingung.
"Ya.. Haruskah gue menyerah untuk mendapatkan hati Shila? Shila tak memberiku kepastian, dan ibu gue ... Ahhh sudahlah gue bingung." Aris semakin frustasi.
"Ya udah bro. Tenangin diri lo dulu, sebelum mengambil keputusan. Kalau perlu sholat Istiqoroh lagi, minta petunjuk sama Allah," ucap Danang menasehati Aris, yang menangkupkan wajahnya ke meja dengan dua tangannya sebagai bantalan.
"Iya, Ris.Maaf gue malah nambah pikiran lo. Tentang ucapan Budhe sama gue tadi, " ucapku merasa bersalah.Aris mengangkat wajahnya, dan mengusap wajahnya dengan tangannya.
"Nggak apa-apa Yak. Terimakasih sudah ngasih tah gue tentang itu."
"Jangan kasih tau Budhe ya Ris, kalau gue ngasih tau lo tentang ini," ucapku khawatir.
"Iya.Yak," ucap Aris mengangguk.
Tak terasa waktu sudah larut malam. Kami memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang aku terus memikirkan, keputusan apa yang akan diambil oleh Aris.
Apakah dia akan menyerah mengejar Shila, atau dia akan terus berjuang, walaupun Budhe Tina nggak suka dengan Shila.
__ADS_1
Tapi semoga keputusan yang diambil Aris, tak menyakiti Shila, dan juga tak membuat jarak antara Aris dengan Budhe Tina.