Ku Menantimu Imamku

Ku Menantimu Imamku
Berpaling


__ADS_3

Pagi harinya, setelah sholat subuh aku ingin kembali tidur, mumpung hari minggu. Tetapi sebelum aku terlelap, tiba-tiba ibuku mengetok pintu kamarku.


"Ada apa, Bu? " tanyaku saat sudah membuka pintu.


"Ibu cuma mau bilang, nanti ada acara pengajian rutin hlo Nduk, jangan lupa," jawab ibuku.


"Oh ... iya ya, Bu. Nanti jam berapa Bu berangkatnya?"


" Pengajiannya mulai jam setengah sembilan, nanti kita berangkat jam delapan saja ya, Nduk."


"Iya Bu."


"Bu, aku mau rebahan dikamar dulu, nanti kalau aku ketiduran tolong bangunin ya Bu," pintaku saat ibuku akan beranjak dari kamarku.


"InsyaAllah."


Kemudian aku menutup pintu, dan kembali ke kasurku. Aku hanya rebahan saja, sambil menscroll akun sosmed ku.


Tling......


Ada bunyi notifikasi pesan masuk. Saat ku buka ternyata dari Cahya.


[Neng aya]


[Shilaaa?????]


Kebiasaan nih anak, bukannya salam dulu. Segera kubalas pesannya.


[Assalamualaikum Neng😌]


[Heheheh,, lupa😅]

__ADS_1


[Wa'alaikumussalam Shila 🤗]


[Kebiasaan😌]


[Ada apa Neng?]


[Shila, nanti kan ada pengajian didekat rumahku, kamu berangkat kan?]


[InsyaAllah Neng]


[Nanti aku berangkat bareng orang tuaku]


[Materinya apa ya, Neng? ]


[Al-Quran sama nanti ada nasehat]


[Oke, sampai ketemu nanti ya Neng]


[Iya]


[InsyaAllah, nanti kirim share loc posisi kamu,biar cepet ketemu heheheh🤣]


[Hahahah, siap😇]


[Ya sudah Shila, aku cuma mau ngomong itu saja]


[Aku mau lanjut tidur dulu 😅😅]


Setelah berkirim pesan dengan Cahya, aku jadi tidak merasa ngantuk lagi. Aku keluar rumah, dan aku melihat bapakku sedang menanam tanaman hias nya.


"Pak, aku mau bantu, boleh? " tanyaku seraya duduk di dekat bapakku.

__ADS_1


"Hloh, Nduk kata ibumu tadi, kamu mau lanjut tidur? "


"Hehehehhe, nggak jadi Pak, sudah nggak ngantuk," jawabku cengengesan.


"Ya sudah kalau mau bantu. Tolong ambilin pot yang Bapak beli kemarin," ujar bapakku.


"Dimana, Pak?"


"Dibelakang pintu, Nduk."


Aku segera mengambil pot yang bapak maksud, dan memberikan pot itu pada bapak.


"Isi pot itu dengan tanah dan pupuk, terus kamu tanam bunga-bunga ini," intruksi bapakku.


Akupun melakukan apa yang bapak intruksikan tadi. Ternyata menyenangkan aktifitas menanam ini, aku sampai menikmatinya.


Setelah selesai acara tanam menanam, aku mandi, dan bersiap untuk berangkat ke pengajian.


Aku berangkat dengan Ibu naik sepeda montor, sedangkan bapakku dibonceng Arif.


Sesampainya di tempat pengajian. Aku memarkirkan sepeda montorku terlebih dahulu, sedangkan ibuku menunggu di tempat absensi.


Saat aku akan menyusul ibuku. Aku berpapasan dengan ibunya mas Aris. Saat aku akan menyapanya, Beliau memalingkan muka, seperti tak mau melihatku.Aku mengurungkan niatku untuk menyapa Beliau. Saat aku memikirkan kenapa ibu mas Aris seperti itu, aku dikejutkan seseorang.


"Assalamualaikum Shila," salam dari Cahya yang membuatku terkejut.


"Wa'alaikumussalam, ya Allah Neng. Kamu ngagetin aku."


"Kamunya aja yang ngalamun. Aku sudah panggil nama kamu berkali-kali tapi kamu malah nggak nyaut, " ucap Cahya.


"Hehehehhe, maaf.Yuk itu ibuku sudah menunggu di tempat absensi,"ajakku pada Cahya seraya mengapit lengannya,sebelum dia memberondong dengan pertanyaan yang sulit aku jelaskan.Kemudian kami mencari tempat duduk, dan mengikuti pengajian dengan khidmat.

__ADS_1


" Allah tidak pernah salah dalam menyusun skenario hidup. Jadi, sebagai pemeran kita hanya di tuntut untuk melakoni apa yang Allah mau. Sudah. Hanya itu. Hasil akhirnya? Jangan khawatir itu sudah menjadi keputusan sang Sutradara kehidupan. Selama apa yang di perintahkan padamu kau kerjakan dengan baik dan bersungguh sungguh . Maka bersiaplah untuk menerima sesuatu yang luar biasa dari-Nya."


Salah satu nasehat tadi, terngiang-ngiang di pikiranku. Benar aku tidak perlu mengkhawatirkan tentang hidupku. Karena semua sudah di qodar Allah, dan aku tinggal melakoninya saja, diiringi dengan beribadah dan berusaha. Nanti kedepannya bagaimana, ku pasrahkan semua pada Allah.


__ADS_2