
Pov Shila
Entah kenapa beberapa hari ini, hatiku merasa gelisah. Rasanya tak bersemangat melakukan aktifitas. Di tempat kerja pun, aku juga tak bersemangat.
"Shila, kamu udah punya calon suami apa belum? " tanya Ifah teman kerjaku, disela-sela kami bekerja. Kebetulan pekerjaan kami tidak terlalu banyak, jadi bisa sedikit santai.
"Hmmmmm, belum. Kenapa? " ucapku tak bersemangat.
"Kamu kenapa sih Shil? kayak nggak semangat gitu. Kamu sakit? " tanya Ifah menempelkan telapak tangannya ke dahiku.
"Eehh ... enggak kok Fah. Aku baik-baik saja," jawabku tersenyum.
"Emmm ... Shila. Kamu kan belum punya calon suami nih. Kamu mau nggak aku kenalin sama temenku. Soalnya dia minta aku buat ngenalin dia ke cewek," jelas Ifah.
"Gimana ya Fah. Aku nggak biasa soalnya. "
"Ayolah Shil. Mau ya plis. Cuma kenalan doang kok Shil. Adapun nanti cocok Alhamdulillah. Kalau nggak cocok nggak apa-apa. Mau yaa Shil plisss," ucap Ifah sambil menangkupkan telapak tangannya memohon.
Aku hanya diam memikirkan ajakkan Ifah. Sebenarnya aku masih kepikiran tentang keinginan dari Bapak dan pernyataan dari adikku Putri.
Waktu itu aku sedang duduk di depan rumah bersama Bapak. Tiba-tiba ada tetangga kami, seorang laki-laki paruh baya seumuran Bapakku, yang jalan-jalan sore menggendong seorang gadis kecil bersama dengan istrinya.
"Lagi jalan-jalan sore,Pak Budi? " sapa Bapak pada Pak Budi tetangga kami.
"Iya nih, Pak Adi. Pumpung cucu saya kesini jadi diajak jalan-jalan dulu, " ujar Pak Budi yang menggendong gadis kecil, sementara istrinya, Bu Nina sedang menyuapi gadis kecil itu.
"Wahh, cantik nya. Namanya siapa ini? " tanyaku sembari menghampiri si kecil itu.
"Namanya Via, Tante," jawab Bu Nina dengan suara anak kecil. Dan bergantian menggendong Via, sementara Pak Budi ikut duduk bersama Bapak.
"Hai Via.Kamu lucu banget sih. Mamahnya mana budhe? " Tanyaku pada Bu Nina, sambil memainkan pipi gembil Via.
"Rini lagi keluar sama suaminya tadi. Jenguk temennya yang sakit katanya, " jawab Bu Nina dan aku hanya mengangguk faham. Rini adalah temanku waktu kecil.
"Ya udah yok, Bu. Kita lanjut jalannya," ajak Pak Budi pada istrinya. Dan Bu Nina hanya mengangguk.
__ADS_1
"Mari Pak Adi. Saya mau lanjut jalannya," pamit Pak Budi pada Bapak. Dan melanjutkan langkahnya.
"Daaa … Via cantik," ucapku kemudian kembali duduk disamping Bapak.
"Nduk," ucap bapak melihat lurus kedepan.
"Iya, Pak.Kenapa? " tanyaku menghadap Bapak.
"Kapan ya Bapak punya cucu? Temen-temen Bapak udah punya cucu semua, " ucap Bapak tanpa melihatku. Aku hanya bisa diam aku tahu apa yang dimaksud bapakku. Beliau menginginkan aku segera menikah.
"Bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Aris, Nduk? " tanya Bapak tiba-tiba.
"Eeee … Shila juga nggak tau, Pak. Sudah lama juga mas Aris nggak kontekan dengan Shila, " jawabku jujur. Kami kemudian diam dengan pemikiran masing-masing.
Sementara beberapa hari setelah itu,adikku Putri dia mengabari kalau ada pria yang berniat ingin mempersunting nya. Dia adalah pria yang dulu membuat dia sempat ilfill.
Saat itu kami sedang melakukan panggilan video. Disitu adikku menanyakan pendapatku.
"Mbak, Mas Amir kemarin bilang sama aku kalau dia pingin serius denganku Mbak. Gimana menurut Mbak Shila? " Tanya Putri disebrang sana.
"Emmm.Anu Mbak. Itu …." Putri kelihatan salah tingkah.Dia mengusap tengkuknya, dan juga mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Ona... Anuu... jawab yang jelas dong, Dek," ucapku kesal.
"I-iya Mbak. "
"Iya apa? iya kamu suka sama cowok itu? " tanyaku penasaran.
"Iyaa," jawab Putri lirih, tetapi masih bisa kudengar. Saat mendengar jawaban Putri, tawaku langsung meledak.
"Hahahahahahha.........Dari benci jadi cinta nih ceritanya. Hahahah... Mbak kan sudah pernah bilang sama kamu, kalau jangan terlalu membenci seseorang apalagi lawan jenis, karena siapa tau malah jadi cinta. Malah sekarang kamu jadi suka kan sama cowok yang bikin kamu ilfill. Hahahhaha."
"Udah dong Mbak, jangan gitu. Aku malu nih," ucap Putri menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"HAhahahahah," tawaku semakin meledak.
__ADS_1
"Sudah lah Mbak. Jadi bagaimana menurut Mbak, aku harus bagaimana? " tanya Putri serius.
"Mbak sih nggak bisa ngasih pendapat. Itu semua keputusan mu. Cuma Mbak berpesan kamu supaya istikhoroh dulu minta petunjuk sama Allah," ucapku menghentikan tawaku.
"Sudah Mbak.Aku sudah istikhoroh, "ucap Putri malu-malu.
"Terus jawabannya udah ada? " tanyaku lagi.
"Sudah Mbak. Setelah aku istikhoroh aku merasa ada debaran aneh kalau ketemu atau kepikiran mas Amir," jawab Putri malu.
"Ya sudah sampaikan aja, " ucapku.
"Tapi Mbak. Dia ngajak nikah secepatnya. Tapi ... " ucapan Putri terhenti seperti ragu untuk melanjutkan.
"Tapi kenapa, Dek? " tanyaku.
"Tapi aku pengennya nikah, kalau Mbak Shila udah nikah.A-aku nggak mau duluin Mbak Shila, " ucap Putri lirih.
Bagai duri yang mengenai hatiku, rasanya perih. Karena aku belum menikah, sehingga adikku merasa tak ingin mendahuluiku menikah.
"Yaa. Mbak sih nggak masalah, Dek. Kalau kamu nikah duluan, " ucapku mencoba tegar.
"Nggak,Mbak. Pokoknya aku maunya nikah kalau Mbak Shila udah nikah duluan, " ujar Putri.
Aku bingung harus menjawab apa lagi. Segera aku tutup panggilan video itu. Aku terdiam memikirkan apa yang harus aku perbuat. Secara tidak langsung Bapak dan Putri memintaku segera menikah. Aku pun juga ingin segera menikah, tetapi apa daya belum ketemu jodohku.
Saat ini harapanku cuma Mas Aris. Karena aku tak ingin memyakiti perasaan Mas Aris, sehingga setiap ada yang datang aku selalu mengatakan kalau aku sudah ada pilihan. Tetapi semenjak tak ada kabar lagi dari Mas Aris, hatiku menjadi bimbang. Entah kenapa akupun juga tak tau.
"Heeehhh ... Shila. Kok malah diam! " ucap Ifah dengan suara keras.
"Eehh … i-iya, Fah," jawabku kaget.
"Iya apa Shila. Iya kamu mau kenalan sama temanku ya. Oke nanti aku kasih tau temanku dulu, kalau ada yang mau kenalan sama dia. Nanti aku chat ya Shila, dimana dan kapan ketemuannya. Ya udah ya Shila aku kebelakang dulu, udah kebelet nih," jelujur Ifah tanpa memberiku waktu untuk bicara.
"A-apa? eehh... ehhh.. Fah tunggu. Aku tidak ... " ucapan ku berhenti ketika Ifah sudah melenggang pergi ke toilet, dan ada atasannku yang lagi berkeliling. Terpaksa aku diam dan melanjutkan pekerjaanku.
__ADS_1
Aku harus bagaimana ini ya Allah, apa aku harus terima tawaran Ifah. Tapi aku takut nanti aku sakit hati lagi, karena aku teringat dengan ucapan mas Fajar dulu ketika aku menolaknya. Bagaimana ini ya Allah. Aku masih mengharapkan Mas Aris, tetapi kenapa dia tidak memberiku kabar.