
Hari ini bos tempat Shila bekerja, membagikan makan siang gratis, bagi semua karyawannya tanpa terkecuali.Dalam rangka akan memasuki bulan Ramadhan.
Kini Shila dan Cahya tengah duduk di kantin, sambil makan nasi kotak yang dibagikan bos mereka tadi. Tak lupa mereka memesan es teh, karena hari ini sangatlah panas.
"Shil, besok sudah puasa. Nanti kita planing Buber ya Shil," usul Cahya.
"Hadeh Neng. Puasa saja belum, sudah mikir Buber segala," ucap Shila sambil menepok jidat.
"Hehehehhe, kan nggak apa-apa. Namanya aja planning." Cahya cengengesan.
"Ntar kita udah planning mau Buber, pas hari H ada yang sibuk, terus diganti hari lain, eh satunya lagi ganti yang sibuk. Akhirnya sampai lebaran nggak jadi tuj yang namanya Buber, hahahaha."
"Iya juga ya Shil, kebanyakan gitu ya. Ya udah, nanti dadakan aja ya kita bubernya."
"Iya, sekarang yang penting kita berusaha supaya lima sukses kita berhasil," nasehat Shila.
"Iya Bu Ust,heheheh."
"Ehh, kapan-kapan Buber sama Aris cocok nih Shil," lanjut Cahya.
"Uhuk … uhuk … ." Shila tersedak makanannya, karna mendengar ide Cahya.
__ADS_1
"Kamu kenapa toh, Shil? setiap kali aku bahas Aris pasti keselek, hahahah," ledek Cahya sembari menyodorkan minum untuk Shila.
"Eehh … enggak kok. Perasaan kamu aja, Neng." Wajah Shila memerah karena tersedak dan juga menahan malu.
"Hahahaha, wajah kamu merah tuh, hahaah," tawa Shila meledak, sehingga menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di kantin.
"Sssttt … kamu tuh Neng. Malu tau dilihatin banyak orang."
"Hehehe, maaf-maaf kelepasan." Cahya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal dibalik hijabnya.
"ngomong-ngomong Shil, gimana hubungan kamu sama Aris? " tanya Cahya penasaran.
"Eeh Neng, jam istirahat sudah habis nih. Yuk masuk," ajak Shila mengalihkan pembicaraan.
"Apaan toh Neng.Ayo masuk keburu nanti dimarahin atasan," ucap Shila sambil menarik tangan Cahya untuk masuk.
Kebetulan juga makanan mereka sudah habis tepat pas jam istirahat habis, jadi Shila bisa menghindari pertanyaan Cahya. Bukannya tidak ingin menjawab, tapi Shila takut menjawab jawaban yang salah.
Selama ini Shila tidak berani curhat tentang Aris pada Cahya. Bukannya tidak percaya, tetapi lebih menjaga persahabatannya dengan Cahya. Karena Aris adalah sepupu Cahya.Sehingga kalau dia cerita tentang Aris yang tak memberi bukti keseriusannya,Shila takut Cahya akan lebih memihak Aris ketimbang dirinya, dan akan merusak persahabatnnya.
Hari ini semua karyawan tidak ada lemburan, sehingga bisa pulang lebih awal. Ketika Shila akan keluar gerbang dia berpapasan dengan Aris.
__ADS_1
Selama ini mereka tidak pernah bertemu walau mereka satu perusahaan. Karena Aris dan Shila beda bagian dan kebetulan Aris adalah salah satu karyawan yang defisinya lebih tinggi dari defisi bagian Shila. Jadi jam pulangnya sering berbeda. Ketika istirahat pun Aris tak pernah keluar, soalnya untuk defisi Aris sudah disediakan makan siang dari catering.
Saat berpapasan dengan Aris, Shila hanya tersenyum dan mengangguk. Aris pun membalasnya dengan senyuman.
"Tunggu Shila." Aris menghentikan langkah Shila yang berlalu melewatinya.
"I-iya Mas.Ada apa?" tanya Shila gugup, sembari menoleh ke arah Aris.
"Kamu pulang bareng siapa? " tanya Aris.
"Sendiri Mas.Kebetulan bawa sepeda motor sendiri," jawab Shila sambil menunjuk motornya yang berada di parkiran depan.
"Oohh... . " Aris ber oh ria.
"Kamu tadi melihat Cahya nggak, katanya mau pulang bareng tadi," tanya Aris.
"Eemm … aku nggak melihat Cahya tuh, Mas."
"Oww, ya sudah."
"Kalau gitu aku pulang dulu ya Mas, Assalamualaikum," pamit Shila sambil berlalu ke parkiran.
__ADS_1
"Iya,hati-hati.Wa'alaikumussalam," jawab Aris, sambil melanjutkan mencari Cahya.