
Pov Aris.
Sudah beberapa bulan ini, aku berkomunikasi dengan Shila. Aku menyukai Shila, karena dia seorang yang ceria, lembut,dan penyanyang. Aku tau semua itu dari melihatnya, dan dari cerita Cahya. Akupun sudah menyatakan perasaanku padanya, ya walaupun hanya dari chatingan. Karena beberapa kali aku mengajak Shila keluar,kebetulan Shila ada acara lain.
Aku sudah menyatakan keseriusan ku dengan Shila, pada orang tua ku.Bapakku setuju setuju saja, tapi ibuku seperti kurang setuju. Aku ingat kala aku cerita pada ibuku.
"Bu, aku mau seriusin anak orang, Bu," tanyaku pada ibu, ketika kami selesai makan malam.
"Apa? maksudnya kamu mau nikah secepatnya?." Ibuku terkejut dengan penuturanku.
"I-iya Bu.InsyaAllah, " jawabku ragu, karena aku mencium bau ketidaksetujuan ibu.
"Sama siapa? " tanya ibuku.
"Sama Shila Bu.Cewek desa A anaknya pak Adi," jawabku.
"Emm … pak Adi yang petani itu? " Aku mengangguk, tapi aku merasa jawaban ibuku seperti meremehkan pak Adi, tapi mungkin hanya perasaanku saja.
"Dipikir dulu yang bener, nikah itu sekali seumur hidup. Jangan hanya modal suka aja, kalau cuma modal suka, tidak menjamin hidupmu bahagia, apalagi dia cuma anak petani," lanjut ibu.
Entah kenapa aku tidak menyukai jawaban ibuku yang terakhir.
"Apa Ibu tidak suka, karena Shila hanya anak petani? " jawabku sedikit curiga.
"Nak, kamu itu seorang atasan di tempatmu kerja, masak mau sama anak petani," jawab ibu.
"Ibuu ! sejak kapan Ibu memandang status sosial? " tanyaku sedikit emosi. Dan berlalu dari meja makan, agar tak terlalut dalam emosi. Karena aku masih sadar, yang aku hadapi adalah orang yang melahirkan aku dulu.
__ADS_1
Dan saat aku masuk kamar, aku masih mendengar bapak yang menasehati ibuku.
"Bu, koq kamu ngomong gitu toh Bu? biarkan anak kita memilih apa yang membuat dia bahagia," tegur bapakku pada ibu.
"Ibu yang tau apa yang terbaik untuk anak kita Pak. " Ibu masih kekeh dalam pendiriannya.
Beberapa hari kemudian setelah pulang kerja, aku merebahkan badanku di kasur. Setelah pembicaraan ku pada orang tuaku dulu, aku tak membahasnya lagi.
Tiba-tiba ada notif pesan masuk diponselku, segera ku buka dan ternyata dari Cahya.
[Aya]
[Bos ayo keluar, dah lama kita nggak kumpul bareng.]
[Yok, gas! Bentar tak mandi dulu]
Setelah membaca chat dari Cahya, aku segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian aku selesai mandi, dan sholat isya. Aku segera keluar karena aku mendengar si aya sudah menunggu di depan rumahku.
"Lama banget si lo mandinya Ris? kayak perawan aja," ejek Danang, teman nongkrong kami. Ya di rumah aku bersahabat dengan tiga orang yang terdiri dari aku, Cahya, dan Danang.
"Iya nih Ris. Gue aja yang gadis, mandinya gak selama mandi lo." Cahya mengejekku.
"Biarin lah, biar wangi biar cewek pada klepek-klepek," ucap ku tak mau kalah, tapi malah membuat mereka tertawa mengejekku.
Setelah memutuskan mau nongkrong dimana, kami langsung menuju ke sana.
__ADS_1
Setelah sampai di angkringan, kami memesan makanan dan minuman. Karena hawa sedang dingin, aku memesan wedang jahe.
Ditengah obrolan kami si Cahya bertanya padaku.
"Ris gimana hubungan lo sama Shila? " tanya Cahya.
"Nggak gimana-gimana Yak, masih menunggu kepastian. Apa lo nggak di curhatin Shila? " tanya ku penasaran, karena setahuku Shila dan Cahya merupakan sahabat dekat.
"Dia nggak pernah curhat tentang lo sama gue, jadi gue gak berani tanya-tanya," jawab Cahya,dan aku hanya mengangguk mengerti.
"Hla … lo udah cerita sama orang tua lo belum? " Danang ikut menanggapi.
"Udah," jawabku sambil menyruput wedang jahe ku.
"Terus, bagaimana tanggapan pakde sama budhe? " tanya Cahya.
Ya dia memanggil orang tua ku pakde sama budhe soalnya dia adik sepupuku.
"Bapak gue sih setuju-setuju saja.Tapi ibu gue mungkin kurang setuju," jawabku.
"Kenapa? " tanya danang kepo.
"Entahlah," jawabku sambil mengedihkan bahu, karena tak mungkin aku menjelekkan ibuku. Sebab alasannya yang tak menyetujui hubunganku dengan Shila, pada mereka.
"Ya sudah, yang sabar aja ya bro. InsyaAllah kalau memang jodoh nggak akan kemana kok," ucapan Danang bijak.
Dan aku hanya mengangguk, karena apa yang Danang katakan memang benar.
__ADS_1