
Pov Aris
Beberapa minggu sudah berlalu, setelah keputusanku untuk menyerah. Mengikuti kemauan ibuku, untuk tidak berhubungan lagi dengan Shila. Sebenarnya aku masih mencintai Shila, tetapi apalah dayaku karena ibuku tak merestuiku.
Sejauh ini aku belum memberi tau Shila tentang keadaan ini. Karena aku pun belum tau isi hati Shila padaku. Karena ego ku mengatakan, kalau Shila belum memiliki perasaan padaku.Jadi untuk apa aku memberi tau dia, bahwa aku sudah tak mengharapkannya karena terkalahkan dengan keinginan ibuku. Takutnya dia menganggap aku kepedean.
Jika saja Shila memberiku kepastian, atau jawaban atas ungkapan hatiku padanya.Dan dia juga membalas perasaan suka ku dengan perasaan yang sama. Pasti aku akan berjuang lebih keras,untuk mendapat hati ibuku, agar bisa merestuiku dan Shila.
Aku memang sudah lama tak menghubungi Shila, bahkan tak pernah lagi bertemu dengannya. Mungkin rasa lelahku yang membuatku untuk menyerah pada keadaan.
Aku lelah berharap sesuatu yang tak pasti. Selama ini Shila hampir tak pernah mengirim pesan, jika bukan aku dulu yang mengiriminya pesan.Aku berkali-kali mengajak dia untuk ketemuan, tetapi dia selalu beralasan. Aku tak tau alasan itu nyata atau hanya sekedar alasan. Di tempat kerja pun, walau kami satu perusahaan tetapi kami hampir tak pernah bertemu.
Aku mulai lelah berjuang sendiri, karena hanya aku yang memiliki perasaan itu. Dan Shila, akupun tak tau perasaan yang dimiliki Shila padaku seperti apa. Dan ditambah ibuku yang memintaku untuk tidak berhubungan lagi dengan Shila, membuatku semakin yakin, untuk menyerah memperjuangkan Shila.
Saat ini aku sedang rebahan di kamarku. Hari ini aku tak masuk kerja, karena sedikit tak enak badan.
Mungkin aku terlalu memikirkan tentang keputusan yang aku ambil ini, sehingga makan pun rasanya tak berselera. Sehingga mengakibatkan asam lambungku naik ke ulu hati.
Tok.. Took.. Tokk....
"Ris, Ibu masuk ya? " Ibuku mengetok pintu kamarku.
"Masuk aja ,Bu," jawabku yang masih rebahan.
"Ris, ini Ibu buatin kamu bubur. Dimakan biar anget perutmu."
Ibuku masuk dengan membawa nampan, yang berisi semangkok bubur dan segelas air putih.
"Terimakasih, Bu," jawabku seraya mengambil bubur yang dibawakan ibuku, dan langsung memakannya.
"Kamu itu kenapa? kok tiba-tiba bisa naik asam lambungmu? kamu salah makan, atau kamu banyak pikiran? " tanya ibuku khawatir.
Aku hanya diam dan melihat ibuku. Wajah yang sudah mulai muncul keriput, mata yang sayu, tubuh yang semakin lemah, masih mau mengurus ku.Aku melihat raut kekhawatiran di wajah ibuku.
Aku merasa sangat bersalah, karena selepas perdebatan ku dengan ibu dulu, hubunganku dengannya agak renggang. Tepatnya aku sering diam ketika di tanya oleh ibuku. Teringat beberapa hari yang lalu saat aku pulang kerja.
"Ris, kamu udah pulang? sini makan dulu.Ibu sudah masakin makanan kesukaan kamu loh," ucap ibuku yang sedang menata makanan di meja. Aku terus melangkah menuju kamarku, mengabaikan ucapan ibuku.
"Ris, Aris? " ucap ibuku sambil memegang lenganku.
"Eehh … iya ,Bu? " jawabku kaget karena sedari tadi aku melamun.
"Kamu kenapa?Masih marah sama Ibu, karena menyuruhmu melupakan Shila? " tanya ibuku melihatku, dan aku hanya menggelengkan kepala.
"Maafkan Ibu ya Ris. Ibu berbuat seperti itu, karena Ibu ingin yang terbaik buat kamu," ucap ibuku menunduk.
Aku kaget saat ibuku menunduk pundaknya seperti bergetar. Aku langsung mengangkat wajah ibuku mengahadapku, dan ternyata ibu ku menangis. Aku tak bisa melihat air mata orang yang sudah melahirkanku ke dunia ini, langsung ku peluk ibuku.
"Jangan nangis, Bu. Aris nggak marah sama Ibu kok. Maafkan Aris yang tak mengerti keinginan Ibu. Aris sudah melupakan Shila kok ,Bu. Shila juga nggak memiliki perasaan apapun pada Aris kok, Bu.Jadi ibu jangan membenci Shila ya Bu.mungkin memang dia bukan jodoh Aris," ucapku masih memeluk ibuku. Dan aku merasakan ibuku mengangguk.
"Maafkan Ibu ya Ris.Ibu doakan kamu mendapat yang lebih baik," ucap ibuku melepas pelukkan kami.
__ADS_1
"Aamiin, Bu," ucapmu sambil menghapus sisa air mata ibuku.
"Ya sudah, habiskan makanmu dulu, dan ini obatnya diminum. Ibu mau keluar dulu," ucap ibuku bangkit dari duduknya.
"Iya Bu. Terimakasih." Ibuku berlalu keluar kamar.
Mungkin keputusan yang aku ambil sudah benar. Merelakan cinta ku demi meraih cinta orang yang sudah melahirkanku.
***
Di minggu pagi yang cerah ini, aku sudah siap dengan sepeda yang aku kayuh ini, menuju rumah Cahya.Saat sudah hampir sampai rumah Cahya aku melihat, Cahya dan Danang juga sudah siap dengan sepeda masing-masing.
Tadi malam kami sudah janjian, ingin bersepeda santai di minggu pagi ini.
"Assalamualaikum, gaes," sapaku ketika sudah berada didepan mereka.
"Wa'alaikumussalam," jawab mereka serempak.
"Wah, kelihatannya ada yang lagi bahagia nih. Auranya berbunga-bunga," ucap Danang memutari tumbuh ku.
"Apasih Nang? biasa aja kalik." Aku heran dari mana dia bisa mengatakan kalau aku sedang bahagia. Padahal aku merasa biasa-biasa saja. Hanya sedikit lega karena sudah tak ada perdebatan diantara aku dan ibuku. Ya walaupun aku harus mengorbankan perasaanku.
"Ya sudah yok, kita mau sepedaan kemana? " Cahya sudah menaiki sepedanya.
"Ke daerah persawahan aja yuk. Pasti pagi-pagi gini udaranya masih seger deh," usulku asal.
"Ya udah yuk." Cahya mulai mengayuh sepedanya.
Aku dan Danang segera mengikuti Cahya. Melewati beberapa desa, kami sampai di area persawahan. Kami berhenti di jalan dekat sawah, hanya untuk istirahat sejenak. Aku menselojorkan kakiku. Sementara Danang asyik berfoto dengan Cahya.
"Gaes .Nanti kita putar arah aja ya," ucapku agak keras, karena Cahya dan Danang sedang asyik berfoto di pematang sawah.
Kalau lewat jalan depan rumah Shila, aku takut bertemu dengan Shila. Karena aku masih berusaha menghilangkan perasaanku pada Shila, aku khawatir kalau bertemu Shila hatiku semakin sulit melupakannya.
"Kenapa? bukannya enak kalau kita jalan lurus terus? " tanya Danang yang melangkah ke arahku, dan ikut duduk di dekatku.
"Jalan depan masih ada perbaikan soalnya," ucapku beralasan, tapi memang terakhir aku lewat sini jalan masih dalam perbaikan. Semoga mereka percaya, dan tak curiga.
"Udah selesai Ris perbaikannya. Kemarin gue main ke rumah Shila, jalannya udah bagus kok. Uuuppsss … gue baru ingat, kalau kita jalan lurus kita akan melewati rumah Shila," ucap Cahya.
"Aduh gawat!! " gumamku sambil menelungkupkan wajahku ke kakiku yang ku tekuk.
"Jangan bilang kalau lo pingin kita putar balik itu gara-gara itu? gara-gara kalau kita lurus terus, kita akan melewati rumah Shila? " selidik Danang ,aku yakin mereka sedang menatapku penuh curiga.
"Aku harus ngomong apa nih??Aduuh,"bathinku lagi.
"Bener itu Ris?" tanya Cahya.
Aku mengangkat wajahku, dan benar Cahya dan Danang sedang melihatku penuh selidik. Seperti aku ketahuan mencuri.
"I-iya," jawabku terbata.
__ADS_1
"Iya apanya Ris? kalau ngomong tu yang jelas! " tanya Cahya penasaran.
"Iya, gue minta kita puter arah karena gue nggak mau ketemu Shila, gue takut," jawabku menunduk.
"Ya Allah Ris. Apa yang lo takutin? Bukanya lo udah ngomong baik-baik sama Shila tentang keputusan lo?" cerocos Cahya dan aku hanya bisa diam.
"Jangan bilang lo belum ngomong ke Shila Ris? " tanya Danang, aku hanya menggeleng ragu.
"Gue hanya takut ketemu Shila. Gue itu masih berusaha mengikhlaskan Shila. Kalau nanti ketemu dia gue takut, semakin berat gue melupakan dia," ucapku pelan tetapi masih bisa didengar mereka, karena tak ingin mereka tahu kalau aku belum menjelaskan pada Shila tentang keputusanku.
"Ya udah Ris. Kalau gitu kita cari jalan lain aja. Gimana,Yak? " ucap Danang menepuk punggungku.
"Aku sih nggak masalah," ucap Cahya datar,sambil melangkah mendekati sepedanya.
"Ya udah, yuk kita lanjut," ajak Cahya yang sudah mengayuh sepedanya meninggalkan aku dan Danang.
Entah kenapa Cahya tidak terlihat senang, dengan keputusanku yang harus melupakan sahabatnya. Atau cuma perasaanku saja, aku tak tau.
Kami melanjutkan perjalanan kami. Hingga kami menemui warung soto tengah sawah yang cukup ramai pembelinya. Kami mampir di situ untuk mengisi perut kami yang kosong.
Selama makan tak ada obrolan membahas tentang keputusanku. Aku berharap mereka terus mendukungku dengan apa yang aku putuskan.
Kami selesai mengisi amunisi. Kami langsung mengayuh sepeda kami untuk pulang. Karena matahari semakin tinggi, yang artinya sudah semakin siang.
Sesampainya di desa kami, kami berpisah kerumah masing-masing. Akupun mengayuh sepedaku menuju rumahku.Saat sudah berada di depan rumah aku memasukkan sepedaku ke garasi.
"Assalamualaikum," ucap salamku ketika sudah memasuki rumah.
"Wa'alaikumussalam, dari mana Ris? " tanya bapak yang asyik menonton TV.
"Dari sepedaan sama Cahya dan Danang ,Pak," jawabku ikut duduk disamping bapakku, dan bapak hanya manggut-manggut.
"Ibu kemana, Pak? " tanyaku tak menemukan ibu.
"Lagi di dapur masak," ucap Bapak. Fokus keberita di TV.
"Aku mau ambil minum, Bapak sekalian di ambilin nggak? " Tawarku pada bapak.
"Bawain kopi aja, Ris," jawab bapakku.
"Oke." Aku pun berlalu menuju dapur.
"Bu ,Bapak suruh buatin kopi," ucapku ketika menemukan ibuku yang sedang memasak.
"Oohh iya, sebentar. " Ibu langsung mengambil gelas dan segera membuat kopi. Sementara aku membuka kulkas dan mengambil air dingin.
"Ris, nanti temani Ibu ya, ketemu sama teman Ibu," ucap ibuku sambil mengaduk segelas kopi untuk bapakku.
"Nggak sama Bapak toh, Bu? " tanyaku penasaran, soalnya tak biasanya ibu meminta ditemani. Biasanya kalau ibu mau pergi mesti diantar bapak.
"Bapak kamu nanti ada urusan Ris, " jawab ibuku meletakkan secangkir kopi di nampan.
__ADS_1
"InsyaAllah ya, Bu." Aku mengambil nampan berisi secangkir kopi itu dan berbalik badan.
"Nanti Ibu kenalin sama anak teman Ibu Ris! " ucap ibuku yang membuatku berhenti melangkah.