
Di sebuah rumah makan, ada dua orang anak muda yang sedang duduk berhadapan. Raut muka mereka menampakkan kecanggungan.
"Mas Aris mau pesan apa? " tanya si perempuan membuka obrolan.
"Aku kopmil saja," ucap Aris datar.
"Ba-baiklah," ujar si perempuan gugup, karena mendapat jawaban datar dari Aris.
Si perempuan menulis menu yang akan mereka pesan, dan memberikannya kepada pelayan.
"Langsung saja Rum.Kamu sudah tau tentang rencana Ibu kita, untuk menjodohkan kita? " tanya Aris memandang lekat Arum.
Yaa dua orang yang sedang berada di rumah makan itu adalah Arum dan Aris. Akhirnya Aris melakukan apa yang diperintah ibunya, yaitu mengajak Arum keluar makan malam.
"Su-sudah mas," ucap Arum menunduk, takut dengan tatapan Aris.
"Lalu tanggapan kamu bagaimana? " tanya Aris dengan datar.
"A-aku ikuti kemauan mamahku," jawab Arum yang masih menunduk.
"Berarti kamu... ."
"Permisi Mbak, Mas. Ini pesanan anda," ucap pelayan memotong ucapan Aris.
"Oh ... Iya ... terimakasih," ucap Arum kala pesanan mereka sudah diantar, dan pelayan itu mengangguk dan berlalu pergi.
"Jadi kamu menerima perjodohan ini? " tanya Aris meminum kopmil nya.
"I-iya," jawab Arum mengangguk takut.
"Hufff ... ."Aris menyandarkan badannya di kursi dan menghembuskan nafas berat.
" E-emang kenapa mas? Mas Aris nggak setuju dengan perjodohan ini? " tanya Arum hati-hati.
"Huuuffft ... maafkan aku, Rum," ucapan Aris membuat hati Arum sedikit sakit, karena dari pertama bertemu Arum sudah memiliki perasaan suka pada Aris.
"Ke-kenapa mas minta maaf? " tanya Arum yang matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku sebenarnya belum ada perasaan sama sekali sama kamu, Rum. Tapi karena paksaan dari ibu aku harus menerima perjodohan ini," ucap Aris jujur. Yang membuat air mata Arum menetes.
"Maafkan aku, Rum. Terserah kamu mau melanjutkan perjodohan ini atau tidak," ucap Aris melembut ketika melihat air mata Arum.
"Aku akan tetap melanjutkan perjodohan ini, Mas. Aku nggak mau membuat orang tuaku kecewa dan sedih," ucap Arum sembari menghapus air matanya.
"Baiklah, aku juga akan setuju dengan perjodohan ini. Tapi maaf aku belum memiliki perasaan padamu, " ucap Aris dan Arum hanya mengangguk.
Setelah itu mereka makan malam dengan diam. Suasana menjadi canggung, dan tak ada yang memulai perbincangan.Selesai makan malam mereka memutuskan untuk pulang. Aris pulang dengan motornya sedangkan Arum menaiki mobilnya.
__ADS_1
Selama perjalanan air mata Arum tak mau berhenti, hatinya sakit, hatinya terluka karena mendapat penolakan dari Aris.
"Kamu harus kuat, Rum. Mas Aris hanya belum memiliki perasaan padamu. Tapi dia setuju dengan perjodohan ini. Kamu harus berusaha membuat mas Aris jatuh cinta padamu," ucap Arum mensugesti dirinya agar tak berlarut dalam kesedihan.
Arum khawatir kalau dia terus-terusan menangis, orang tuanya akan curiga dengan matanya yang sembab. Dan membuat sedih orangtuanya.
Aris sampai di rumahnya, ia segera mematikan motornya. Dan masuk kerumahnya dan memasukkan motornya kedalam rumah.
"Gimana ,Ris. Tadi kamu jadi'kan ketemu sama Arum? " tanya Bu Tina semangat, ketika tau Aris sudah pulang.
"Iya ,Bu. Sudah," jawab Aris tanpa ekspresi di wajahnya.
"Terus gimana? " tanya Bu Tina semakin penasaran.
"Bagaimana apanya Bu? " ucap Aris melangkah menuju kamarnya, Bu Tina mengikutinya.
"Ya kamu sudah mau menerima Arum kan? Kamu suka kan dengan Arum? " tanya Bu Tina yang melangkah mengikuti Aris.
"Bu.Perasaan suka itu tidak bisa dipaksakan, Bu. Saat ini aku benar-benar belum memiliki perasaan apapun dengan Arum, " ucap Aris yang berhenti didepan pintu kamarnya dan menoleh ke ibunya.
"Tapi tenang Bu. Aris akan tetap setuju untuk menikah dengan Arum. Walau tak ada perasaan cinta antara kami. " Aris berlalu masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamarnya, meninggalkan ibunya yang berdiri di depan pintu kamar Aris.
"Terimakasih Ris, mau menerima permintaan Ibu. Ibu tau kamu anak yang penurut. Dan Ibu pastikan kamu akan segera jatuh cinta dengan Arum!" teriak Bu Tina dari luar kamar Aris.
Sedangkan Aris, dia masih bersandar pada daun pintu kamarnya yang tertutup.
***
Beberapa hari setelah itu, Bu Tina mengajak Aris ke rumah Bu Siska. Guna untuk melamar Arum untuk Aris.Sesampainya di depan rumah bertingkat dengan halaman yang lumayan luas.Aris, Bu Tina, Pak Huda keluar dari mobil dan menuju pintu utama dan mengetoknya.
Tok took took!
"Assalamualaikum," ucap Bu Tina dengan wajah yang sumringah.
Tak menunggu lama pintu rumah terbuka, dan menampakkan ibu-ibu seumuran ibunya Aris. Dia adalah tuan rumah, Bu Siska.
"Wa'alaikumussalam.Eeee,Jeng Tina sudah sampai. Mari-mari silakan, " sapa Bu Siska sembari memberikan jalan pada tamunya.
Bu Tina masuk dengan senyum bahagia, ketika melihat rumah Bu Siska yang mewah.Pak Huda masuk sambil tersenyum kearah Bu Siska yang masih berada di ambang pintu. Sementara Aris dia masih terdiam di depan pintu enggan masuk. Karena dia masih belum menerima apa yang ibunya putuskan, yaitu melamar Arum.
"Nak Aris, kenapa masih diluar?? Ayo silakan masuk," ujar Bu Siska ketika melihat Aris yang masih berdiri diluar.
"Eehh, i-iya tante. Permisi," ucap Aris kemudian menganggukkan kepalanya pada Bu Siska. Dan menyusul kedua orang tuanya yang sudah masuk duluan.
Saat sudah sampai di ruang tamu, mereka disambut oleh Pak Niko, suami Bu Siska sekaligus ayah dari Arum. Setelah menyapa tamunya, Pak Niko langsung mempersilakan tamunya untuk duduk. Sedangkan Bu Siska, berlalu menuju dapur untuk mengambilkan suguhan untuk para tamunya.
"Mah, Tante Tina sekeluarga udah datang ya?" tanya Arum yang sudah berada di dapur.
__ADS_1
"Iya Dek. Mereka sudah datang. Kamu temuin gih. Mama mau nyiapin minum untuk mereka. Sekalian bawain camilan ini ke ruang tamu,Dek, "ucap Bu Siska yang sedang mengisi gelas dengan minuman yang sudah disiapkan. Karena memang Bu Tina sudah mengabari Bu Siska, kalau mau datang bersama suami dan anaknya.
" Bareng sama Mamah aja ya. Arum malu ketemu Mas Aris sendiri, "ucap Arum malu-malu.
"Cieee … kamu suka ya sama Aris? Itu sampai pipinya merah,"goda Bu Siska yang melihat pipi anaknya memerah karena malu.
"Apaan sih, Mah, " ucap Arum menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ya udah yok, kita keluar. Kamu bawain minumnya atau camilan nya? " tanya Bu Siska.
"Bawa minumannya aja, Mah, " ucap Arum sambil mengambil nampan berisi beberapa gelas minuman.
Akhirnya Bu Siska dan Arum keluar dari dapur, menuju ke ruang tamu. Di ruang tamu Pak Huda dan Pak Niko sedang berbincang-bincang, Bu Tina juga ikut sedikit menyaut. Sedangkan Aris dia memilih diam. Hanya menjawab ketika di tanya oleh Pak Niko.
"Arum duduk samping Papa sini," ucap Pak Niko menepuk sofa kosong di sampingnya,ketika putrinya sudah selesai menyuguhkan minum untuk para tamunya.
Arum segera duduk di samping papanya. Bu Siska duduk disebelah anaknya. Sementara Bu Tina duduk di sebelah suaminya dan Aris duduk di sofa single, berhadapan dengan Arum.
"Langsung saja ya pak Niko. Mohon maaf sebelumnya. Kedatangan kami kesini utamanya untuk menyambung tali persaudaraan, kemudian kami ingin menyampaikan niat kami, untuk melamar Nak Arum. Untuk anak kami Aris.Bagaimana tanggapan Pak Niko selaku orang tua Arum? " ucap Pak Huda membuka perbincangan serius.
"Ohh, iya Pak Huda. Saya sangat tersanjung dengan niat baik keluarga Bapak. Tapi semua jawaban ada di tangan putri kami. Arum," ucap Pak Niko seraya merangkul pundak anaknya.
Mendengar pernyataan Pak Huda, dan papahnya. Arum diam, tidak tau harus menjawab apa. Karena Arum teringat akan ucapan Aris ketika mereka bertemu dulu. Sebenarnya Arum sangat bahagia, tetapi ada rasa sakit yang ia rasakan, ketika mengingat kalau Aris tidak memiliki perasaaan apapun padanya.
"Bagaimana, Nak Arum? apakah Nak Arum mau menerima lamaran ini? " tanya Pak Huda yang menatap Arum.
"InsyaAllah, sa-saya menerimanya." Akhirnya Arum menerima lamaran Aris. Arum bertekat akan membuat Aris jatuh cinta padanya.
"Alhamdulillah," seru semua orang mendengar jawaban Arum. Kecuali Aris, dia hanya diam.
Setelah jawaban yang Arum berikan, orang tua mereka langsung menentukan tanggal pernikahan mereka. Arum senang dan was-was, dia tidak berani memandang ke arah Aris. Sedangkan Aris hanya diam tidak ingin ikut campur, karena hatinya belum menerima kenyataan, dia harus menikah dengan Arum tanpa ada cinta.
Akhirnya keluarga memutuskan, pernikahan Aris dan Arum akan dilaksanakan dua bulan lagi. Setelah selesai dengan urusan mereka, keluarga Pak Huda undur diri.Di perjalanan pulang Bu Tina yang duduk dibangku belakang sangat gembira, sehingga dia terus berbicara mengenai acara pernikahan Aris dan Arum nantinya.
"Pak, nanti kita adakan pesta pernikahan Aris sama Arum yang mewah ya, Pak, " ucap Bu Tina pada suaminya yang duduk di depan samping kemudi.
"Hmm … ." Hanya itu jawaban yang diberikan Pak Huda.
"Bapak nih, dari tadi di tanya cuma Hamm heemm haam heemm. Dan kamu Aris, dari tadi kamu cuma diam saja. Kamu seharusnya seneng, karena sebentar lagi kamu akan menikah dengan Arum," omel Bu Tina pada suami dan anaknya.
"Sudahlah Bu. Jangan bicara dulu. Aku pusing," ucap Aris malas.
"Tapi kamu kan seharusnya …."
"Bu.Sudah Bu. Jangan membuat anak kita tambah pusing. Dia sudah mau menuruti permintaan Ibu, untuk menikahi Arum. Jadi Ibu jangan memaksa Aris lagi semau Ibu, " ucap Pak Huda tegas, karena dia kasihan melihat anaknya menikah dengan orang yang tidak dicintainya.
"Terserah," ucap Bu Tina kesal.
__ADS_1
Setelah perdebatan tadi tak ada lagi yang memulai percakapan, mereka memilih diam dengan pemikiran masing-masing.