
Pov Shila
Tak terasa sudah seminggu, umat Muslim melaksanakan puasa Romadhon. Dan selama itu, aku jarang sekali berbuka dirumah. Karena kebanyakan pas waktu buka tiba, aku masih berada di pabrik.Dikarenakan di bulan puasa ini, perusahaan banyak menerima orderan. Sehingga mau tak mau, semua karyawan produksi wajib lembur.
Tapi aku bersyukur, karena kalau banyak lemburan artinya gajiku semakin besar, dan nanti juga akan mendapat THR satu kali gaji.Biasanya aku menggunakan uang tersebut, untuk kebutuhan bulanan dan aku akan membelikan baju lebaran untuk kedua orang tuaku dan juga adik-adikku, dan sisanya ditabung.
Alhamdulillah semenjak aku bekerja, sedikit demi sedikit bisa membantu perekonomian keluargaku.Sebenarnya orangtuaku tidak menuntutku untuk membantu perekonomian keluarga. Tapi aku menyadari sebanyak apapun yang aku beri, tidak akan bisa membalas kasih sayang mereka.
Hari ini aku pulang kerja lebih awal. Karena ini adalah hari sabtu, yang seharusnya hari libur, tapi karena pekerjaan yang menumpuk, sehingga semua karyawan masuk untuk lembur.
Ketika perjalanan pulang, aku mampir ke pinggir jalan yang berderet beberapa penjual yang menyediakan berbagai macam takjil.Setelah membeli beberapa takjil, akupun pulang membawa beberapa kantong plastik, berisi macam-macam takjil.
Sesampainya dirumah aku melihat bapak dan ibu sedang duduk di pematang sawah. Saat ini memang beberapa petani tidak menggarap sawahnya, karena sedang musim kemarau,termasuk bapakku. Sehingga beberapa sawah tanahnya kering. Dan kebetulan sawah bapakku berada di depan rumahku.
Setelah meletakkan takjil yang aku beli tadi, aku menyusul orang tuaku yang masih duduk di pematang sawah.
"Assalamualaikum, Pak, Bu," salamku, seraya menyalimi dan mencium tangan kedua orang tuaku.
__ADS_1
"Waalaikumussalam, Nduk," jawab mereka serempak.
"Bapak sama Ibu ngapain disini? " tanyaku sembari duduk disamping ibuku.
"Lagi ngabuburit ya kan, Pak" Jawab ibu sambil menoleh ke bapak.
"Iya Nduk, Bapak sama Ibu mu ini sering kok nunggu buka disini. Kamunya aja yang jarang banget buka puasa dirumah, jadi nggak tau toh," ungkap bapak.
"Heheheheheh, hla si Arif mana bu? Kok kalian cuma berdua aja. Kayak abg yang pacaran ditengah sawah. Hahah," tanyaku sambil tertawa.
"Emang kita lagi pacaran kok ya Bu. Emang kamu? belum ada gandengan," jawab bapakku sambil merangkul pundak ibu ku.
"Udah-udah.Bapak sama anak sama-sama iseng.Arif tadi katanya mau buber sama teman-temannya,Nduk," ibu menjawab pertanyaanku.
Saking serunya kami bercanda,tidak terasa waktu buka semakin dekat. Kami memutuskan masuk rumah.Aku memutuskan mandi terlebih dahulu.
"Nduk,plastik hitam itu milik siapa? " tanya ibuku saat aku keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Ohh, itu takjil buat buka nanti Bu. Aku beli sekalian pas pulang kerja tadi."
" Ya sudah, sana siap-siap dulu, udah mau adzan nih. Ibu mau nyiapin piring dulu."
Saat semua makanan sudah tersaji di karpet depan TV, saat itulah adzan magrib berkumandang. Kamipun memulai berbuka.
"Nduk, tadi Ibu ketemu sama ibunya Aris," tutur ibuku, yang membuat aku sedikit terkejut. Untungnya tak sampai tersedak, tapi segera aku menetralkan raut wajahku.
"Ohh... dimana Bu?" tanyaku tenang.
"Pas tadi Ibu mengambil sembako dari pemerintah, pas Ibu baru datang papasan sama ibunya Aris yang mau pulang dari mengambil sembako juga. Tapi anehnya pas Ibu sapa, ibunya Aris cuek, dan bahkan berlalu dan tidak menanggapi sapaan Ibu."
"Masak toh Bu.Tadi di parkiran bapak Aris malah menyapa Bapak duluan hlo, Bu."
"Oohh... mungkin ibunya mas Aris buru-buru kali, Bu." Aku berusaha tidak berfikir negatif.
Tapi dari cerita ibuku, membuat aku berfikir apakah mas Aris sudah cerita tentang kedekatan kami pada orang tuanya, dan membuat ibunya tidak menyukaiku, sehingga sapaan ibuku tidak di tanggapi. Tapi aku segera membuang jauh-jauh prasangka buruk itu. Dan melanjutkan buka ku.
__ADS_1
Selesai berbuka, bapakku segera menuju masjid untuk sholat magrib dan dilanjutkan tadarus di masjid. Sedangkan aku dan ibuku membereskan bekas bukaan kami tadi.