Ku Menantimu Imamku

Ku Menantimu Imamku
Shaka


__ADS_3

Tok... tok... tok!


"Shaka! "


"Shaka! " teriak seseorang dari luar kamar seorang pria, yang dipanggil Shaka.


"Iya, Mas. Sebentar! " teriak Shaka dari dalam kamarnya. Kemudian melangkah menuju pintu kamarnya. "Ada apa, Mas? " tanya Shaka, ketika sudah membuka pintu kamarnya.


"Kamu jadi ikut, kan. Kondangan ke Kampung Biru? "


"InsyaAllah jadi,Mas. Soalnya yang ngontrak dirumah sana, kemarin juga ngabarin. Katanya mau pindah ke luar kota. Jadi mereka mau memberikan kunci rumah padaku,sama mau ngasih kurangan pembayaran tahun ini," ucap Shaka.


"Lah, mau pindah? berarti nanti rumah itu kosong lagi dong? "


"Mungkin, Mas. Semoga ada yang mau ngontrak lagi. Jadi rumahnya bisa tetap terpakai.Kalau nggak ada ya,kemungkinan aku mau tinggal disana,Mas," ucap Shaka.


Seketika kakaknya mengerutkan keningnya."Kamu mau tinggal sendiri disana? nanti yang ngurusin kamu siapa coba? terus usaha kamu yang disini siapa yang mau ngurus? Mas sibuk kerja, Mbakmu sibuk ngurus Rifan yang baru masuk sekolah. Wes... kamu disini aja toh, Kha. Pindah kesananya nanti aja, kalau kamu sudah nikah."


"Ya Allah, Mas. Kan baru kemungkinan. Belum pasti secepatnya aku mau pindah kesana, Mas. Tapi Mas udah meberondongku dengan banyak pertanyaan. Haduuh... Mas. " Shaka menggelengkan kepalanya, heran dengan kakaknya.


"Hla, kan Mas khawatir sama kamu, Kha. "


"Hahaha.Makasih hlo Mas udah khawatirin aku, " ucap Shaka terkekeh. "Ooh... iya, Mas. Nanti mau berangkat jam berapa? " tanya Shaka.


"Jam tujuh aja. Soalnya perjalanan dari sini ke sana kan hampir satu jam lebih. Padahal undangannya, kan jam sembilan. "


"Oh... ya sudah, Mas. Kalau begitu aku siap-siap dulu. " Shaka masuk ke kamarnya, dan bersiap-siap untuk mendatangi undangan di Kampung Biru. Kampung yang merupakan kampung kelahirannya dulu.


Dia adalah Arshaka Alfarizqi, keluarga dan teman-temannya memanggilnya Shaka. Anak bungsu dari tiga bersaudara.Kedua orangtuanya sudah meninggal dunia.


"Shaka! ayo kita berangkat! kami tunggu di mobil, " teriak Aksa, kakak Shaka.


"Iya, Mas." Shaka buru-buru memakai sepatunya.


"Dek, Rifan mana? "tanya Aksa pada Dilla, istrinya.


" Sudah dimobil, Mas, "jawab Dilla.


" Ya sudah, ayo ke mobil!"ajak Aksa pada istrinya.


"Shaka! Ayo! " teriak Aksa memasuki mobil.


"Iya, Mas. " Shaka segera mengikuti kakaknya masuk ke mobil.


Shaka duduk di belakang bersama keponakannya, Rifan. Bocah laki-laki umur 6 tahun. Sementara Aksa menyopir mobil dan istrinya duduk disampingnya.


"Ayah, nanti kita kerumah mas Aldo ya. Aku pengen main mobil-mobilan sama mas Aldo,"ucap Rifan,ketika ditengah perjalanan. Aldo adalah anak dari kakak pertama Shaka.

__ADS_1


" InsyaAllah ya, Nak, "ucap Aksa yang sedang fokus menyetir.


" Om Shaka. Nanti antar aku beli es krim ya, Om. "Rifan beralih menatap Shaka yang sedang melihat ponselnya.


" Di antar aja, apa mau dibeliin, hemm?"tanya Shaka memainkan alisnya.


"Dua-duanya.Hehehe, " jawab Rifan cengengesan, memperlihatkan gigi kelincinya. Yang membuat Shaka gemas, dan mencubit pipi Rifan gemas. "Iihh... Lucu banget sih, keponakan Om ini. "


"Aaaa... Sakit, Om, " rengek Rifan yang membuat semua orang yang berada didalam mobil tertawa.


"Tapi nanti nggak boleh banyak-banyak beli es krimnya hlo, Dek! takutnya nanti jadi pilek. Terus kasihan juga Om Shaka-nya, " tutur Dilla, yang menghadap kebangku belakang.


"Kenapa kasihan Om Shaka, Bunda? " tanya Rifan memiringkan kepalanya.


"Nanti Om Shaka nggak bisa nabung buat nikah,kalau uang Om Shaka habis untuk beli es krim banyak, " jawab Dilla,sambil melirik Shaka yang mengerutkan keningnya. Yang membuat Dilla terkekeh.


"Kan, Om Shaka belum mau nikah, Bunda. Jadi nggak apa-apa kalau uangnya habis buat beli es krim banyak, Bunda.Ya kan,Om?"tanya Rifan polos, sembari melihat Shaka. Sementara Shaka hanya tersenyum sambil mengangguk.


" Tetap aja nggak boleh, Dek. Nanti jadi pilek kalau makan es krim banyak, "ucap Dilla melihat kearah anaknya.


" Aku nggak makan es krim banyak kok, Bunda. Aku mau beli es krim banyak, nanti buat dibagi sama teman-teman mas Aldo, yang ngaji di masjidnya pakde Abi sama budhe Ana. Boleh kan Om? "tanya Rifan. Abi adalah kakak pertama Shaka, dan Ana adalah istrinya.


" Tentu boleh dong, Fan. Baik banget sih keponakan Om ini, "jawab Shaka sambil mengelitiki Rifan, yang membuat Rifan tertawa karena merasa geli. Sementara Aksa dan Dilla tersenyum bangga dengan kebaikan anaknya.


***


Tak terasa mereka sudah sampai di Kampung Biru. Mereka memilih memarkirkan mobilnya di pelataran rumah Abi. Kedatangan mereka disambut keluarga Abi dengan senang.


" Mas, mau bareng sekalian nggak berangkat kondangannya? " tanya Aksa pada Abi. Mereka sekarang sedang berkumpul di ruang tamu.


"Ya sudah. Sekalian aja kita bareng-bareng kesananya. Ayo! " ajak Abi pada adik-adiknya dan istrinya.


"Rifan, Aldo, mainnya nanti lagi ya. Ayo kita berangkat kekondangannya, " ajak Shaka pada keponakannya. Rifan dan Aldo segera menggandeng tangan Om mereka.


Tempat kondangan nikahan itu, berada tidak jauh dari rumah Abi di Kampung Biru. Kampung Biru ini adalah tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua mereka.


Rumah yang ditempati Abi adalah rumah masa kecil mereka. Kedua orang tua mereka meninggal ketika Shaka lulus SMA. Sejak saat itu Shaka ikut tinggal di rumah Aksa, karena Shaka akan melanjutkan kuliah di Universitas yang dekat dengan rumah Aksa.


Setelah mendatangi undangan nikahan, adzan Dhuhur sudah berkumandang. Mereka sholat dhuhur dan kemudian istirahat sejenak, di rumah Abi.


"Mas, aku mau ke rumahku dulu ya. Soalnya orang yang ngontrak ngabarin dia mau pindah sekarang. Dan kuncinya mau diserahkan ke aku, " pamit Shaka pada kedua kakaknya.


"Ohh... sudah mau pindah toh?Berarti nanti kosong lagi dong? nanti biar Mas carikan pengontrak baru.Insyaallah, " ucap Abi, yang diangguki Shaka.


"Ya sudah, Mas. Aku kesana dulu. Assalamualaikum, " pamit Shaka.


"Wa'alaikumussalam, " jawab kedua kakaknya.

__ADS_1


Saat Shaka baru keluar rumah dua keponakannya, berlari menyusulnya.


"Om, Om. Kami ikut ya. Kata Rifan dia mau beli es krim, buat dibagiin sama yang ngaji di masjid nanti, " ucap Aldo, bocah umur sepuluh tahun.


"Ya sudah, ayo! " Shaka mulai melangkah yang diikuti kedua keponakannya.


Setelah selesai dengan urusannya. Shaka mengantar kedua keponakannya untuk ke warung membeli es krim. Kedua bocah itu dengan semangat, langsung memborong semua es krim di warung itu. Shaka hanya bisa geleng-geleng. Saat sudah membayar semua es krim itu, Shaka akan beranjak dari warung. Tetapi Shaka bertemu dengan wanita paruh baya bersama gadis muda berjilbab lebar, yang sepertinya pernah dia lihat sebelumnya.


"Assalamualaikum, Bu Siti, " ucap Shaka pada wanita paruh baya itu. Dia Bu Siti ibu tugasan Putri, adik Shila.


"Wa'alaikumussalam... eeehh, Mas Shaka. Apa kabar? baru datang ya? " tanya Bu Siti.


"Alhamdulillah, baik, Bu. Sudah dari tadi kok,Bu.Habis datangi undangan tadi, " jelas Shaka, dan Bu Siti mengangguk.


"Mbak Putri! "ucap Aldo ketika keluar dari warung.


" Eeeh... iya, Do. Kenapa? "Putri agak kaget dengan panggilan Aldo, karena sedari tadi dia mengingat-ingat siapa pria didepannya ini.


" Mbak Putri, ini ada es krim. Katanya Rifan suruh bagiin ke teman-teman nanti pas ngaji, "jelas Aldo sambil menunjukkan sekresek besar es krim.


" Ohh... iya, Alhamdulillah. Terimakasih ya Rifan. Kamu mau ikut bagiin, kan? "


"Mau, Mbak, " ucap Rifan semangat.


"Oke.Nanti es krimnya dibawa aja ke masjid ya. Nanti kamu bagiin, oke. "


"Oke, Mbak, " jawab Rifan dan Aldo serempak.


"Ya sudah, Bu. Saya pamit dulu, Bu. Assalamualaikum, " pamit Shaka.


"Waalaikumussalam." Shaka pun, beranjak meninggalkan warung dengan membawa sekresek es krim yang diborong kedua keponakannya, untuk sementara akan ditaruh dikulkas. Dan nanti sore akan dibawa ke masjid.


"Do! " panggil Shaka ketika mereka berjalan pulang kerumah Abi.


"Iya, Om. Ada apa? " tanya Aldo.


"Itu tadi siapa?yang bareng budhe Siti, "tanya Shaka.


"Oo.. itu Mbak Putri, guru ngaji sini. Kenapa, Om? Om suka ya? jangan Om nanti mas Amir marah lo, " ujar Aldo mendongak keatas melihat Om nya.


"Enggak kok. Om cuma nanya. Lagian mas Amir itu siapa? "


"Mas Amir itu, cowok yang lagi deketin Mbak Putri. Dia suka sama Mbak Putri, " jelas Aldo.


"Kamu itu masih kecil, udah tau masalah suka sukaan, Do! " ucap Shaka sambil mengacak-acak rambut Aldo. Sementara Aldo hanya nyengir.


"Kamu inget nggak Do, dulu sebelum lebaran kan Om kesini. Trus pas di masjid kamu nyapa mbak Putri. Hla yang sama mbak Putri itu siapa, Do? " tanya Shaka, yang dari tadi mengingat-ingat pernah melihat Putri. Dan setelah ingat dia kembali terbayang dengan senyum manis seseorang yang bersama Putri.

__ADS_1


"Eemmm... siapa ya Om. Aku lupa. Heheh! " jawab Aldo sambil jari telunjuknya di taruh di dagunya, seperti orang berfikir.


"Ya sudah, kalau lupa. Ayo cepat kita taruh es krim nya dikulkas keburu mencair," ucap Shaka, dan mempercepat langkahnya untuk segera sampai kerumah, dan segera menaruh eskrim ke kulkas.


__ADS_2