
Devian memarkirkan mobilnya lalu menggandeng Lily masuk ke dalam Villanya.
Lily terkejut melihat sebuah Villa yang besar , halaman dan tamannya sangat luas.
" Apa ini juga Villa milik Bos mu??" tanya Lily dengan polosnya. sambil memandang kesana kemari.
Devian hanya tersenyum sambil menyibakan rambutnya.
" Menurutmu? tanya Devian yang tiba tiba berhenti di hadapan Lily.
Lily hanya mengangkat kedua bahunya tanda Dia tak Tahu.
" Bukan Lily, ini Villaku." jawab Devian sambil mengantar Lily ke salah satu kamar di Villanya.
Lily sedikit bingung dengan jawaban Devian.
" Sudahlah , jangan di fikirkan. Bagaimanapun keadaanku. Aku tetap temanmu Lily." ucap Devian yang menangkap kebingungan Lily.
" Terimakasih Devian." ucap Lily dengan senyuman di wajahnya.
" Silahkan masuk, ini kamar kamu Lily, di lemari banyak pakaian yang bisa kamu pakai. sebaiknya kamu mandi dulu." Kata Devian.
Lily mengangguk , lalu masuk ke dalam kamarnya. Mulutnya tak berhenti terbuka , kamar yang sangat besar .
" Gimana, kamu gak apa apa kan di kamar ini dulu." tanya Devian sambil duduk di ranjang kamar itu.
" eng enggak apa apa, ini sangat bagus Devian." ucap Lily dengan mata berkaca kaca.
" kamu gak perlu sungkan, tinggalan di sini hingga keadaan Aman. Aku sangat khawatir denganmu . kamu tenang saja, Aku akan melindungimu dari orang orang jahat itu" ucap Devian menghampiri Lily . Meskipun Devian hanya di anggap teman oleh Lily tapi Dia dengan tulus membantu Lily. Entah apa yang membuatnya begitu menyayangi gadis itu.
Devian memeluk Lily , Lily yang menangis membenamkan wajahnya di dada Devian. Aroma tubuh Devian membuat Lily tenang, Aroma maskulin seperti saat Dia memeluk Ayahnya dulu.
Devian membelai belain rambut panjang Lily dengan lembut.
"Terimakasi Devian,,,Maaf " ucap Lily sambil melepaskan pelukannya. Dia benar benar hanyut dalam pelukan Devian hingga tidak mau melepaskannya.
__ADS_1
Devian hanya tersenyum sambil mengacak acak rambut Lily lembut.
" Kamu mandi dulu trus istirahat. Aku juga mandi. ok." kata Devian sambil melangkahkan Kakinya keluar dari kamar Lily.
" Ok." jawab Lily dengan senyumannya lalu menutup pintu kamarnya.
Lily melangkah hendak menuju ke kamar mandi di kamarnya. Saat membuka pintunya dia sangat tekejut. Bagaimana tidak, mulai dari dinding, lantai, westafel, sampai bathtubnya pun berlapis marmer marbel yang mewah.
" hanya sebuah kamar mandi , semewah ini. Devian , siapa sebenarnya kamu " gumam Lily .
Lily menanggalkan semua pakaiannya,, dia berdiri di bawah Shower yang menjatuhkan rintikan rintikan air hangat di tubuhnya. sangat nyaman. seketika rasa lelah yang Lily rasakan berkurang.
Devian memasuki kamarnya lalu menutup pintunya. Dia membaringkan tubuhnya di ranjang yang besar itu. Tangannya meraba dadanya, jantungnya berdetak sangat kencang . Dia masih merasaka hangatnya pelukan Lily padanya tadi.
Drrrttt..... Drrrtttt...
suara ponsel Devian seketika membuyarkan lamunannya.
di lihatnya, ternyata Amanda yang menghubunginya.
" Devian, besok kamu temenin Aku ke acara temanku ya." pinta Amanda
" gak bisa , Aku gak ada waktu besok, kamu cari temen yang lain aja." tolak Devian. Dia malas pergi dengan Amanda karna di mana mana Dia selalu dikenalkan sebagai kekasihnya, semua temannya mengiara Amanda adalah kekasihnya dan itu membuatnya tidak nyaman.
" ya Ampun Dev, Please help me... Ayolah...." kata Amanda memohon.
" gak bisa, Aku ada acara sama Pacar Aku. sorry." jawab Devian ketus. Berharap Amanda tidak mengejarnya lagi.
" Apa, Devian sejak kapan kamu punya Pacar? Kamu bercanda kan?" tanya Amanda penasaran.
" Bukan urusan kamu." jawab Devian sambil mematikan ponselnya.
Devian kembali memejamkan matanya... Dia berharap Amanda tidak mengganggunya lagi.
Drrrrttttt..... Drrttttt....
__ADS_1
baru saja menikmati tidurnya ponselnya berbunyi lagi. dengan kesal dia membuka ponselnya tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
" Ada apa lagi, kalo Aku bilang gak bisa ya gak bisa." kata Devian di ponselnya.
" Hallo Devian, ini bener Devian kan." tanya seorang pria di dalam ponselnya.
" ehh, iya iya saya Devian. ini dengan siapa ?" tanya Devian saat mendengar suara pria yang menghubunginya.
" Aku Rafael, tolong cepat kerumah sakit ajak Lily sekalian . ini sangat penting! perintah Rafael.
" Apa yang terjadi Dok?" Tanya Devian cemas sambil memakai kaosnya .
" Nyonya Dhira..... cepatlah kemari. Nanti Kau akan tau. Cepat ya! ucap Rafael yang tak sanggup mengatakannya lalu menutup ponselnya.
Devian dengan cepat memakai bajunya lalu berlari ke kamar Lily dengan cepat dan mengetuk pintunya denga keras.
Lily yang masih belum sadar betul membuka pintunya.
" ada apa Devian?" tanyanya masih dengan mata setengah terpejam.
Tidak menjawab pertanyaan Lily Devian langsung menggandeng tangan Lily turun.
" Devian , ada apa? apa orang orang jahat itu menyusul kemari??? tanya Lily yang tersentak dengan tarikan Devian.
" Tidak Lily ,, Kita harus segera kerumah sakit." ucap Devian sambil memasuki mobilnya .
" Apa, Mom,,, ." Lily dengan cepat masuk kedalam mobil saat tau ada kabar tentang Ibunya.
Devian dengan cepat melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
Dia melihat kecemasan di wajah Lily, Dia baru sadar Lily pun tidak memakai alas kaki karna terburu buru tadi.
" Lily, kamu jangan cemas. selalu berDo'a untuk Ibumu ya." kata Devian menenangkan Lily.
Lily hanya menganggukan kepalanya, terlihat kesedihan di wajahnya, matanya berkaca kaca menatap jauh kedepan.
" ya Tuhan, tolong jangan biarkan Momy ku kenapa kenapa. Biarkan Dia sehat kembali Tuhan. Aku Mohon." Do'a Lily dalam hatinya.
__ADS_1
Terimakasih Like dan Komennya Kakak. 😊🙏
Selamat Membaca 😊