KUPU - KUPU PENGGODA

KUPU - KUPU PENGGODA
Episode 4


__ADS_3

 


Devian bersiap siap untuk berangkat ke kantornya. Dengan kemeja salur Navy,dan jas hitam senada dengan celananya. Di ikatnya rambut ikalnya yang sebahu, membuatnya tampak cool, dengan wajahnya yang tampan, badanya yang atletis dan tinggi badan sekitar 185cm makin prefeck lah penampilannya.


Dia berlari kecil menuruni tangga menuju lantai satu rumahnya.


Ibu Devian yang sejak tadi menunggunya untuk sarapan menatap bangga terhadap anak laki laki nya. " Haisss,,, anak yang tampan, tapi belum punya kekasih,,, wanita seperti apa yang kau cari ," gumam Ibu Devian dalam hatinya.


Sampai ruang makan Devian memcium pipi Ibunya dan melangkah hendak keluar dari rumah.


" Devian kamu tidak makan dulu?" Tanya Ibunya menghentikan langkahnya.


" tidak Ibu, Aku tak terbiasa sarapan. Nantinlah Aku akan cari di luar." Jawab Devian yang langsung masuk mobilnya dan melaju menuju kantor.


Sampai di kantor, Devian melangakah menuju ruangannya, banyak pasang wanita wanita yang melirik genit terhadapnya, Devian tidak suka dengan wanita seperti itu, tak ada yang tulus dari wanita seperti itu, yang di suka hanya uang dan jabatan. Andai saja Devian hanyalah seorang biasa, akan kah mereka akan merayunya. Termasuk Amanda. Meskipun Amanda adalah teman kecilnya, Devian tau betul dengan sifat dan wataknya. " Haiiisss,, kenapa semua wanita sama, tak jauh jauh dari kata uang dan uang ." Gerutunya dalam hati.


" Selamat pagi Pak Pesdir." Sapa salah satu wakil Derektur di perusahaan itu.


" Pagi." Jawab Devian lalu masuk keruangannya.


Devian duduk di kursi kerjanya, di tatapnya sekeliling ruang kerjanya itu,, " Papa benar benar paling tau seleraku, ruangam ini begitu elegan, tapi tidak terlalu monoton, Aku harus bekerja keras di sini. Akan ku perluas Group Martin di Negara ini.


Tok Tok Tok....


" Masuk."


" selamat siang Pak, ini saya ingin memberikan laporan penheluara minggu lalu." Ucap seorang sekretaris yang berpakaian sexy, buah dadanya sangay menonjol, membuat semua mata pria melotot di buatnya , kecuali Devian.


Devian membuka dan membaca dengan teliti laporan tersebut, lalu menandatanganinya .


" Ok, silahlan keluar." Ucapnya singkat kepada sekretarisnya.


" ehm Baik Pak. Oh ya, Pak Devian ingin saya buat kan Kopi.? Tanya sekretatis itu dengan genit.

__ADS_1


" Tidak. Terimakasih." Jawab Devian dingin.


Sekretaris itupun keluar dengan perasaan kesal." Hiss , kurang apa coba Aku ini, dia bahkan tak menatapku sama sekali." Gerutunya sambil melangkah ke meja kerjanya.


Sebagian Karyawan terkekeh mengejek melihat tingkah si sekeretaris itu.


Hari sudah Sore, Devian segera meninggalkan kantornya dan menuju ke tempat yang santai diana dia bisa menikmati waktunya yang membosankan.


Devian mencopot jas nya dan di longgarkannya kancing lengan kemejanya. Devian memasuki Caffe itu , mencari tempat duduk ternyaman yang bisa membuatnya santai dan melihat pemandanga di luar dan di dalam Caffe.


Di sandarkannya badannya di sebuah Sofa paling Pojok nomor 35, agak remang tapi dia bisa melihat ke segala arah.


Devian tersenyum, tampak dari kejauhan seorang pelayan yang sedang menyandarkan punggunya di dinding terlihat lelah, Devian melambaikan tangannya memanggil pelayan tersebut.


Lily menghampiri meja Nomor 35 yang memanggilnya.


" Selamat Sore Tuan, Ada yang bisa saya bantu." Tanya Lily sambil menundukan kepala tersenyum dengan ramah.


" ya, tolong catat pesananku." Ucap Devian sambil membacakan Menu yang dia pesan. Sesekali matanya melirik pelayan itu.


" Baik Tuan, Tunggu sebentar. Pesanan akan segera siap." Ucap Lily sambil mengundurkan diri.


Lily melangkah menuju Debora dan memberikan catatannya, sambil menunggu tersaji Lily melayani pelanggan yang lain dengan ramahnya. Meskipun Dia terlihat lelah tapi jika mengingat Ibunya, semangatnya kembali penuh.


Dari kejauhan Devian terus menatap setiap gerakan Lily, kulitnya yang putih, rambut coklat, dan bola mata yang biru, Dia nampak bukan orang pribumi sini.


Devian mengambil ponselnya dan menghubungi Asistennya Ruben.


" Ruben , susul Aku ke Caffe X dengan sepeda motorku, dan jangan lupa Jacketku , nanti kau kembali dengan mobilku." Perintah Devian pada Asistennya itu.


" Baik Bos." Jawabnya cepat .


" Meja 35 Ready." Teriak Debora.

__ADS_1


Lily mengambil pesanan di meja saji dan membawanya ke pelanggan meja 35.


" Silahkan Tuan, pesanan Anda sudah siap." Ucap Lily sambil menyajikan makanan di meja.


" Selamat menikmati." Ucap Lily sambil membalikan badannya ingin melangkah pergi.


" Tunggu." Panggil Devian


Lily memutar badannya , " Apakah Aku melakukan kesalahan?" Gumamnya dalam hati.


" ya Tuan, Ada pesanan lagi?" Tanya Lily dengan ragu ragu.


" Tidak, siapa namamu? Tanya Devian sambil menatap Lily.


Lily mengangkat wajahnya alisnya mengerut heran.


" saya Lily Tuan." Jawabnya


Devian tersenyum dalam remangan cahaya, " Ok. Terimakasih."


Tak lama setelah mengantar pesanannya, Lily kembali bergabung dengan Darel menghibur semua pelanggan Caffe dengan suara merdunya,,


Pekerjaan apapun akan Lily untuk mencari uang tambahan demi kesembuhan Ibunya.


Devian menatapnya dari kejauhan, tak sengaja pandangan Lily mengarah ke Devian, sambil memainkan gitarnya, Lily melempar senyuman untuk Devian yang sedang manatapnua dan menikmati lagunya. Lily merasa senang jika orang orang merasa terhibur dengan lagu lagunya itu.


Devian tak mengerti, saat Lily tersenyum padanya tiba tiba darah di jantungnya terpompa dengan cepat, sehingga membuat rasa yang ngilu di dadanya.


" Apa ini, mungkinkah Aku benar benar tertarik pada gadis yang bernama Lily itu? Hahh... sudah lah. Aku akan cari cara agar bisa dekat dengannya, setidaknya jadi temannya dulu, untuk memastikan apakah Aku benar benar tertarik padanya." Guman Devian dalam hati...


Terimakasih Like dan Komennya Kakak.😊🙏


Selamat Membaca😊

__ADS_1



__ADS_2