
Lily menyandarkan punggungnya , di pejamkannya mata indah Lily. Badannya sangat lelah .
" Lily ,, apakah kau baik baik saja? Tanya Darel menepuk bahu Lily.
" Ya , Aku baik baik saja , hanya sedikit lelah." Jawab Lily . " ehm, Darel Aku ganti pakaian dulu ya, Aku harus ke Rumah Sakit setelah ini." Pamit Lily.
" Okey, eehh sebentar, ini ada tip buat kamu dari orang yang waktu itu memberimu Tip. " ucap Darel sambil mengeluarkan amplop dari sakunya.
" Benarkah? Terimakasih Darel, Siapa orang itu ya?? Dia baik sekali ." Tanya Lily sambil menerima amplop dari Darel.
" entah, Aku juga tidak tahu, Dia memakai masker. Lily, kamu nampaknya sangat lelah, besok Aku memberimu libur. Beristirahatlah..." ucap Darel sambil menepuk bahu Lily
" Terimakasih Darel." Ucap Lily
Darel hanya melihatnya dan tersenyum lalu pergi meninggalkan Lily .
Darel adalah pemilik dari Caffe tempat Lily bekerja, Dia memanfaatkan Band nya untuk menghibur para pelanggan Caffe , agar tidak bosan dan senang berkunjung di Caffenya itu.
Lily bergegas mengganti pakaian kerjanya . Dia menggendong mini ranselnya lalu berpamitan pada teman temannya dan hendak ke Rumah sakit melihat Ibunya.
Sepertinya langit kurang bersahabat malam ini, Langit mulai meneteskan airnya , Lily segera mempercepat langkahnya hingga berlari , tiba tiba sebuah sepeda motor mendekatinya dan berhnti di depan Lily.
" Hendak kemana, mari Aku antar. Hujan semakin deras." Kata Pria di atas motor itu.
" Ke Rumah Sakit, tidak apa apakah Tuan ?? Tanya Lily terengah engah...
" Naiklah..." perintah pria itu.
Lily segera Naik dan motor itu pun melaju dengan kencangnya sebelum hujan turun lebih deras. Dan benar saja, baru saja mereka sampai parkiran Rumah Sakit, hujan langsung turun dengan derasnya.
Lily turun sambil mengusap wajahnya dan sebagian badannya yang basah karna air hujan, pria itu mengulurkan sebuah sapu tangan.
" Pakailah, Kamu basah." Ucap Pria itu sambil membuka Helmnya.
Lily terkejut melihat pria Tampan di depannya itu, seperti pernah melihatnya tapi di mana.
Pria itu terkekeh melihat Lily yang sedang mikir sampai terbengong bengong.
" Kamu kenapa bengong begitu." Tanya nya sambil terkekeh geli.
Lily terkejut, wajahnya merah malu dan tersenyum.
" Apakah kita pernah bertemu, sepertinya saya pernah melihat Anda?" Tanya Lily sopan.
" Jangan sungkan begitu bicaramu, kita memang pernah bertemu Lily, Kamu lupa ya?" Jawab pria itu sambil mengusap rambut panjangnya.
Lily terkejut. " Anda tahu nama saya?"
Lily tampak sedikit bingung, pria itu lalu menggulung rambutnya sambil duduk di atas motornya.
" Jika seperti ini apalah kamu sudah ingat? Tanya pria itu sambil mendekatkan wajahnya ke arah Lily.
Lily merasa wajah pria itu terlalu dekat dengannya, hingga Ia harus memundurkan kepalanya untuk menghindari wajahnya tersentuh oleh pria itu.
__ADS_1
" Apakah Kau pelanggan di caffe meja 35 tadi ? Tanya Lily agak ragu.
"Ah, akhirnya kau mengingatku ... " ucap pria itu sambil memegang kepalanya, membuat Lily tertawa kecil.
" Maaf Tuan." Kata Lily dengan senyuman di wajahnya.
Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangannya.
" Aku Devian, panggil saja Aku Devian, jangan Tuan ." Ucap Devian sambil terkekeh.
" Ohh, Baik Devian, terimakasih atas bantuanmu. Aku harus segera masuk, hujan sangat deras apakah kau mau ikut, sambil menunggu reda?" Tanya Lily, memang nyatanya hujan sangat Deras dan kasian juga jika Devian sendirian di parkiran.
" Bolehh." Jawab Devian sambil mencopot jacketnya yang basah dan berjalan berdampingan dengan Lily.
Lily dan Devian melangkan memasuki Loby Rumah Sakit, para perawat wanita menatap kagum dengan ketampanan Devian.
" Ya ampunnn, ganteng banget ...."
" Ihhh, senengnya kalo punya pacar kaya dia."
" Ihhh, dah ganteng, body nya pun menggoda."
Begitu lah ocehan ocehan setiap wanita yang melihatnya.
Lily melirik Devian, memamg benar benar tampan sih, wanita wanita itu tidak salah lihat. Gumam Lily dalam hatinya.
" Kau tidak apa apa Devian ikut denganku, apakah keluargamu tidak mencarimu? Tanya Lily pada Devian.
" Tidak apa apa. Tidak ada yang mencariku." Jawab Devian sambil melirik Lily.
"Ohhh, Okey. Sudah sampai ." Ucap Lily sambil membuka pintu ruangan tempat Ibunya di rawat. Devian mengikutinya dari belakang, Dia melihat seoramg wanita yang sangat cantik tapi pucat terbaring di ranjang pasien.
" Mom belum ngantuk sayang. Kamu sama siapa?" Tanya Dhira yang melihat sosok Devian di sebelah Lily.
" Ohh, Dia temanku Mom. Di Luar hujan samgat deras , jadi Aku ajak ke sini Mom." Jawab Lily
" Malam, tante saya Devian teman Lily." Sapa Devian memperkenalkan diri dengan ramah.
Dhira tersenyum sambil melihat Devian.
"Akhirnya Lily memiliki teman dekat juga," guman Dhira dalam hati.
Lily pun berbincang dengan Ibunya. Devian sangat senang meihat pemandangan ini, Lily berusaha menghibur Ibunya yang sedang sakit, sesekali Ibunya tertawa mendengar cerita Lily.
" Mom ... istirahatlah ini sudah sangat malam." Ucap Lily membenarkan selimut Ibunya.
" Iya sayang, kamu juga segeralah pulang, malam malam begini sangat bahaya Nak." Kata Dhira sambil membelai wajah putrinya
" Saya akan mengantarnya tante, tante tidak perlu khawatir." Ucap Devian dengan sopan.
" Terimakasih Devian. Titip Lily ya." Ucap Dhira dengan senyuman di bibirnya.
" Mom apa sih, masa Aku di titipin sama Devian." Gumam Lily dalam hatinya.
" Ya udah Mom, Aku dan Devian pamit pulang dulu ya. Mom harus segera tidur." Pamit Lily sambil mengecup pipi Ibunya.
__ADS_1
Lily dan Devian melangkah keluar dari ruangan Ibunya.
" Ehm ... Devian maaf tadi Mom berkata begitu, mungkin dia khawatir denganku. Tolong jangan di masukan ke hati ya." Kata Lily pada Devian.
" Tidak apa Lily, Aku justru senang bisa membantu meringankan kekhawatiran Ibumu. " Jawab Devian sambil tersenyum.
" Terimakasih .... " Ucap Lily tersenyum.
Setelah sampai parkiran mereka pun menaiki motor Devian, Devian melajukan motornya menuju rumah Lily.
Sialnya sampai rumah Lily hujan kembali turun dengan derasnya.
" Ya ampun hujannya deras lagi. Masuk lah Devian, tunggu hujan reda." Ucap Lily tanpa berfikir panjang.
" Kau menyuruhku masuk malam malam, kamu tidak takut kah Lily, kita baru bertemu tadi, kamu tidak takut Aku akan mencelakaimu?" Tanya Devian heran sambil menatap Lily.
Lily hanya mendengus.
" Hufff ... Aku percaya kamu orang baik Devian, lagi pula semisal kamu berniat merampok pun apa yang mau di rampok. Aku tak punya apa apa yang berharga." Jawab Lily sambil membuka pintu rumahnya.
Lily masuk rumahnya dan memepersilahkan Devian masuk dan menyuruhnya duduk. Lily masuk kemarnya lalu keluar lagi dengan membawa sesuatu di tangannya.
" Mandilah dan ganti pakaianmu Dev, bajumu basah, kamu bisa sakit. Kamar mandinya di sebelah dapur ya." Kata Lily menyodorkan handuk dan kaos milik ayahnya pada Devian.
Devian menuruti saja, karna memang benar, Dia bisa saja sakit jika tidak mandi . Devian masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya. Baru kali ini Dia mandi di rumah seorang wanita.
Sambil menunggu Devian mandi, Lily pun sibuk di dapur menyiapkan makam malam untuk mereka, Lily membuat Nasi Goreng udang dan telor untuk menu makan malam mereka.
Devian keluar dari kamar mandi, di ciumnya aroma sedap dari bumbu yang di tumis, di lihatnya Lily sedang sibuk memasak di dapur, Devian hanya tersenyum dan kembali ke sofa di mana dia duduk tadi. Rambutnya yang basah di gerainya sambil sesekali mengusap usapnya dengan handuk.
Lily melangkah ke luar dari dapur, seketika Lily terperanjat hingga menabrak meja hingga terjatuh saat melihat Devian yang duduk di sofa.
" Papi ..." cetus Lily seketika.
" Kamu kenapa Lily?" Tanya Devian menghampirinya dengan cemas.
Lily menatap Devian dengan mata yang berkaca kaca, seolah olah melihat ayahnya tadi.
" Tidak apa apa Devian, Aku baik baik saja. Aku akan mandi sebentar, kamu makan dulu tidak apa apa Dev." Jawab Lily gugup. Lalu melangkah msuk ke kamarnya dan mandi.
Lily berjalan keluar menghampiri Devian di sofa dengan membawa dua piring Nasi goreng di tangannya.
Merekapun makan bersama sambil menonton TV. Hujan tak kunjung reda, malah makin deras membuat Devian bertahan di rumah Lily malam itu.
Entah kenapa Lily tak menaruh curiga sedikitpun terhadapnya, Dia mengijinkan Devian bermalam di rumahnya, benar benar tidak waspada gadis ini.
" Lily, sebaiknya kamu selalu waspada, tidak semua orang boleh bermalam di rumahmu meskipun itu temanmu, okey." Ucap Devian sambil memakan makanan ringan yang Lily buatkan.
" Ya Devian Aku tahu. Kamu laki laki pertama yang bermalam di sini." Jawab Lily
" Ya untung saja Aku, jika orang lain. Kau pasti akan di makan habis hahahaha ...." Canda Devian menggoda Lily.
Lily hanya tersenyum melihat tawa Devian, entah kenapa Dia merasa aman ada Devian di rumahnya, Ia merasa seakan akan terlindungi.
Akan kah rasa aman ini akan bertahan lama, atau kah hanya sesaat saja? Lily pun tidak tahu.
__ADS_1
Terimakasih Like dan Komennya kakak.😊🙏
Selamat Membaca 😊