
Devian menggandeng tangan Lily memasuki Villanya.
Dilihatnya dari kejauhan Ibunya sedang duduk santai menunggu kedatangannya.
" Ada apa Ma..." kata Devian sambil menggenggam tangan Lily yang ada di sampingnya.
" ehh,, Hallo Tante." sapa Lily membungkukan badannya pada Liana.
" ya Hallo juga, ehm Devian , bisakah kita.bicara sebentar? tanya Liana pada Anaknya.
" tentu..."
" sayang sebentar ya Aku mau bicara sama Mamaku dulu." ucap Devian sambil mengusap Wajah Lily dengan lembut.
" ohh,, Ok. Mari Tante saya permisi." ucap Lily lalu melangkah ke belakang menuju dapur.
Devian pun duduk di sebelah Mamanya ,,,
" ada apa Ma??" tanya Devian .
" tadi Amanda menghubungi Mama , katanya kamu tidak menyetujui berkas yang di ajukan Papanya, kenapa?" tanya Liana pada anaknya.
" ini berkasnya Devian bawa, Mama baca saja sendiri, Mama pasti mengerti kenapa Devian menolaknya." ucap Devian menyodorkan Map itu.
Liana menerima Map dari Devian lalu mempelajarinya dengan seksama. Seketika matanya terbelalak.
" jadi ini alasan Kamu menolaknya Dev?" tanya Liana.
" Iya Ma,,, Maaf " ucap Devian
" tidak masalah Dev,,, Papamu mungkin juga tidak akan setuju jika seperti ini ." ucap Liana sambil mengusap punggung anaknya.
Devian tersenyum, merasa lega Mamanya mau mengerti dengan keputusannya.
Liana melirik arah dapur, di lihatnya Lily sedang sibuk bersama para pelayan, entah apa yang sedang di lakukannya.
" Dia siapa?" tanya Liana sambil melirik arah dapur.
__ADS_1
" ehmmm...." Devian ragu menjawabnya, Sebenarnya Diapun tidak mau Lily hanya berpura pura jadi kekasihnya, hanya saja Dia takut hubungan ini akan menjauh jika Dia mengutarakan perasaannya.
" Sudah lah,,, Mama sudah tahu isi hatimu. Utarakan saja jika memang Kamu serius." ucap Liana dengan lirikan yang menggoda anaknya.
Devian hanya mengangguk anggukan kepalanya sambil tersenyum.
Lily melangkah mendekati Devian dan Mamanya dengan membawa sesuatu di tangannya, dan menyajikannya di meja untuk Devian dan Liana.
" Silahkan Tante ,,, " ucap Lily ramah.
" Terimakasih ..." jawab Liana dengan senyuman.
" Devian , Aku harus ke Caffe, ada job dari Darel." kata Lily pelan.
" Ohh,, ayo Aku antar." kata Devian cepat.
" em, tidak usah, Aku bisa sendir." jawab Lily tersenyum.
" Baiklah biar Ruben mengantarmu ya." ucap Devian.
" Ok, terimakasih... Tante, saya permisi dulu." ucap Lily berpamitan pada Liana.
.
.
.
.
.
Mobil yang di kendarai Ruben pun sampai di depan Caffe tempat Lily bekerja. Lily membuka pintunya lalu melangkah keluar.
" Nona , nanti hungungi saya jika akan kembali, karna Tuan Devian meminta saya menjemput anda nanti setelah selesai." ucap Ruben pada Lily.
" Baik Ruben,,, Terimakasih." jawab Lily ramah.
Lily mendorong pintu kaca itu, lalu masuk kedalam Caffe, Dia melangkah menuju bagian dapur menghampiri rekan kerjanya .
__ADS_1
" Haii Deboraa..." panggil Lily dengan senangnya.
" Lily.... ya ampun, kamu kemana saja akhir akhir ini ?" tanya Debora dengan senyumannya.
" hanya sedang sibuk saja Debora, bagaimana kabarmu?"
" Aku baik baik saja Lily, kau bagaimana. Caffe ini sepi tanpa kamu." ucap Debora sambil memberi Lily orange jus.
" Puji Tuhan, Aku sangat baim Debora." jawab Lily dengan senyumannya lalu meminum orange jus yang di berikan Debora.
Darel keluar dari ruangannya, dari kejauhan Dia melihat Lily yang sedang berbincang dengan Debora. hatinya sangat senang karna akhirnya bisa melihat Lily lagi setelah beberapa minggu dia cuti .
" Lily akhirnya kau datang juga, aku kira kau tidak akan datang." ucap Darel menghampiri Lily.
" iya , maaf Darel. Akhir akhir ini Aku ingin fokus dengan Ibuku,,, " jawab Lily tidak enak hati.
" Tidak apa Lily, Ibumu lebih penting, Aku akan selalu memberi info job untukmu " ucap Darel dengan senyumannya. Dia tau beban yang di tanggung Lily begitu berat.
" Terimakasih Darel" jawab Lily .
Lily naik ke atas panggung kecil di Caffe itu, Dia menyanyikan beberapa lagu bersama Band Darel untuk menghibur para pengunjung Caffe.
Suara tepuk tangan dari para pengunjung terdengar riuh mengakhiri permainan Lily.
Darel meletakan stiknya lalu mengajak Lily keruangannya.
" ini Lily bayaranmu hari ini." ucap Darel menyodorkan sebuah amplop pada Lily.
" Terimakasih Darel,,, " ucap Lily menerima amplop itu dengan senang
" sama sama Lily,, oh ya Lily mari Aku antarkan kamu pulang" ucap Darel menarwarkan diri.
" tidak usah Darel , Aku sudah di jemput. Kalo begitu Aku permisi dulu ya. " kata Lily tersenyum lalu mengundurkan diri.
Di luar sudah ada Ruben yang menunggunya,,, Lily masuk kedalam mobil dan Ruben melajukan mobilnya dengan cepat menuju Villa Devian.
Darel yang melihat itu diam diam mengikuti mobil yang di kendarai Ruben. Dia terus mengikuti mobil itu. Darel merasa heran kenapa Lily memasuki gerbang kawasan Villa Elite, hanya orang orang tertentu yang bisa tinggal di sana. Dia tidak dapat mengikuti hingga kedalam, karena gerbang di jaga ketat . " Kenapa Lily kesana, bukankah rumahnya bukan di sana." gumam Darel dalam hatinya.
Terimakasih Like dan Komennya Kakak.🙏
__ADS_1
Selamat Membaca 😊