
Sampai Basment Rumah Sakit Devian memarkirkan mobilnya lalu dengan cepat melangakah menuju ruangan ICU tempat Ibu Lily di rawat. Devian dan Lily sama sama berlari ,sesampainya di ruang ICU mereka kebingungan karna di sana sangat hening.
" Lily, Devian" Panggil Rafael sambil menghampiri mereka.
" Dok,,, Mana Momy?" tanya Lily dengan nafas tersengal sengal.
Rafael mengambil nafasnya panjang,,,
" Kemarilah !" Perintah Rafael sambil melangkah menuju sebuah ruangan yang berbeda dari yang kemarin.
Lily mengikuti Rafael di belakangnya, mata Rafael sempat melirik ke arah Devian yang selalu menggandeng Lily setiap saat. " Rafael, ini bukanlah saatnya kau memikirkan perasaanmu. sadarlah." gumam Rafael dalam hatinya.
Rafael membuka pintunya perlahan dan masuk lebih dulu.
Lily menggenggam erat tangan Devian, Perlahan Dia masuk keruangan itu, mendekati Rafael.
" Dokter, dimana Momyku?" tanya Lily
Rafael membuka Gorden penutup kaca besar ruangan Isolasi , terlihat Dhira sedang berbaring tak berdaya dengan alat alat pembantu pernafasan dan pemacu jantung agar Dhira bisa terus hidup. Lily syok melihat Ibunya , wajahnya sangat pucat tak bergerak sama sekali.
" Apa yang terjadi Dokter? tanya Lily dengan suara yang tecekat di tenggorokan.
" Daya tahan tubuh Ibumu menurun, sel darah putihnya pun meningkat sangat pesat meskipun kita sudah melakukan tranfusi darah dan terapi radiasi. kondisinya sangat mengkhawatirkan Lily." jawab Rafael memcoba menjelaskan.
Lily merasa tubuhnya melemas seperti tak bertulang. Seketika pandangannya gelap. saat Rafael akan menangkap Lily, Devian dengan cepat menangkap Lily lalu menggendongnya.
" antar Aku keruang perawatan Dok." pinta Devian pada Rafael.
Rafael melangkah menuju ruang perawatan yang tidak jauh dari ruangan Dhira , Devian menhikutinya dari belakang sambil menggendong Lily yang pingsan.
Devia meletakan Lily di ranjang pasien, di genggamnya tangan Lily yang dingin bagaikan es saat itu.
Rafael memberikan pemeriksaan pada Lily dan menyuntikan jarum infus di tangan kanan Lily. Tetesan demi tetesan cairan infus sudah mulai memasuki tubuh Lily.
Rafael dan Devian masih menunggu Lily yang belum jiuga sadarkan diri.
" Dok, adakah jalan lain untuk penyembuhan Nyonya Dhira? tanya Devian.
__ADS_1
Rafael menggelengkan kepalanya.
" hahhh,,, semua sudah kami lakukan yang terbaik untuk Nyonya Dhira. Kemoterapi,Radioterapi, tranfusi darah. itu semua sudah di lakukan . Tapi kanker di tubuhnya sudah mengganas menyerebak keseluruh pembuluh darahnya.
" ucap Rafael menerangkan.
" Apakah di Luar Negeri tidak ada Rumah Sakit khusus untuk menangani Penyakit Nyonya Dhira? tanya Devian kembali.
" Klinik terbaik ada di Jerman. Asklepios Klinik Barmbek, Hamburg, Jerman
Kelebihan dari rumah sakit ini adalah fasilitas dan peralatan medis yang canggih. Hampir semua peralatan kedokteran yang diproduksi oleh perusahaan Jerman diuji coba di rumah sakit ini sebelum diedarkan ke seluruh dunia. Asklepios Group juga merupakan jaringan rumah sakit swasta terbesar di Eropa." terang Rafael.
" Apakah di sana bisa menyembuhkan Nyonya Dhira?
Rafael mengangkat bahunya tanda tidak dapat memberi kepastian.
"Dengan Kondisi Nyonya Dhira yang seperti ini, jalan satu satunya adalah Transplatasi sum sum tulang belakang. Dimanapun Rumah sakitnya jika belum ada pendonor yang cocok hasilnya akan sama saja." jawab Dokter muda tersebut.
Devian hanya terdiam , Dia terus menatap wajah Lily yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang pasien.
" kenapa ujianmu begitu berat Lily..." guman Devian dalam hati sambil menggenggam tangan Lily sesekali mengecupnya.
Melihat hal itu, Rafael semakin yakin bahwa Lily dan Devian bukan hanya sekedar teman. Apa lagi Devian yang menanggung semua biaya perawatan Dhira . Mana mungkin seorang teman biasa memberikan itu semua.
Drrrtttt.... Drrrtttt.....
Devian melihat layar ponsel lalu mengangkat telfon di ponselnya.
" Hallo Ma, Ada apa? tanya Devian pada Liana.
" Hallo Dev,, lagi di mana kamu.? tadi Mama telfon villamu katanya kamu lagi keluar." tanya Liana pada anaknya itu.
" oh iya Ma, Maaf Aku lagi nunggu teman di Rumah sakit Ma." jawab Devian masih dengan menggenggam tangan Lily.
"teman? ucap Liana penasaran...
" emhh.... Devian, Aku dimana? tanya Lily yang mulai sadar saat Devian sedang berbicara dengan Ibunya.
" Lily kamu udah sadar. Syukurlah Aku khawatir banget." ucap Devian yang sedari tadi menggenggam tangannya.
__ADS_1
" Hallo Dev, Devian... teman kamu perempuan ya, Devian ...." kata Liana dalam sambungan telfonnnya. lalu tuuuttt....
" Ehh Anak ini. kok malah di matiin. tadi kaya suara perempuan . apa jangan jangan Pacarnya Devian ya. syukur lah jika Devian sudah punya pacar, Aku bisa segera punya menantu kalo begitu." gumam Liana senang.
.
.
" Dev, mana Momyku, gimana Dia sekarang Dev? tanya Lily dengan nada yang lemas.
" Ibu kamu masih fase kritis Lily, Lily apa Ibu kamu tidak ada saudara sekandung di sini?" tanya Devian
" Aku kurang tahu Dev, sepertinya tidak ada. Mom pernah bilang dia anak tunggal." Jawab Lily
Devian hanya mengambil nafas panjang, Dia menatap Lily yang masih berbaring lemas. Matanya menerawang jauh ke atas tanpa ujung.
.
" Lily,, jangan melamun." kata Devian yang membuat Lily sadar dari lamunannya.
" Devian , maafin Aku , Aku sudah banyak ngrepotin kamu." ucap Lily tidak enak hati.
" apa sih kamu , tidak ada yang merasa di repotin sama kamu. Akunya aja yang emang khawatir sama kamu." jawab Devian dengan senyumnya.
Lily mengalihkan pandangannya ke arah lain menyembunyikan wajahnya yang merah ,, Dia benar benar terpesona dengan senyuman Devian.
Devian hanya tersenyum melihat wajah Lily yang memerah. " Apa Dia malu, kenapa jadi merah seperti itu hihihi....." gumannya dalam hati .
" Lily , Bagaimana jika kita pindahkan Ibumu ke Jerman? tanya Devian.
" Apa? mana mungkin Devian. itu sangat mahal. gajiku perbulan tidak akan cukup untuk membauarnya." jawab Lily terkejut
" kamu bisa cari kerja di tempat lain yang gajinya jauh lebih besar." tawar Devian. Dia ingin membantu Lily dengan cara yang berbeda.
" Aku hanya lulusan SMA,,, mana ada kerjaan itu buat Aku Dev." jawab Lily menundukan kepalanya.
" hemmm,, ya sudah. kita fikirkan lagi besok . sekarang kamu istirahat dulu aja ya." Ucap Devian membaringkan Lily dan menyelimutinya. Lalu Dia melangkah menuju sofa ruangan itu , membaringkan tubuhnya di sofa yang empuk itu dengan nyaman.
__ADS_1
Terimakasih Like dan Komennya Kakak😊🙏
Selamat Membaca 😊