
Devian membuka matanya, dia terjaga dari tidurnya, di buka ponselnya terlihat jelas saat itu masih jam 02.00, di lihatnya Lily masih tertidur pulas di sofa, Devian masuk ke kamar Lily memgambil selimut dan memasangkannya ke tubuh gadis itu. Wajahnya yang cantik terlihat polos.
Devian melangkahkan kakinya menuju jendela rumah Lily, di luar hujan sudah reda, dia pun menghampiri Lily yang sedang tertidur pulas , menggoncang goncangkan badannya dengan perlahan.
" Lily,,, Lily... " panggil Devian dengan suara pelan.
" Ehhhmmmmm...." sahut Lily masih dengab mata yang tertutup rapat.
" Lily,,, bangunlah..." Devian menggoncangkan badan Lily sambil memanggil manggil namanya.
Sebenarnya Dia bisa saja pergi tanpa memberi tahu Lily, hanya saja Devian khawatir dengan Lily jika tidak mengunci pintu rumahnya setelah Dia pergi nanti.
Perlahan Lily membuka matanya,, " hemmm... Ada apa Dev,, apa ini sudah pagi?"
" Belum, ini masih jam 2 pagi,, hujan di luar sudah reda. Aku harus pergi." jawab Devian
Lily yang masih belum sadar sepenuhnya tiba tiba terduduk dan memeluk lengan Devian dengan eratnya.
" Kau akan pergi, pergi kemana?." tanya Lily dengan cemas.
" ya, Aku akan pulang lah, kemana lagi." jawab Devian sambil memutar bola matanya.
" jangan pergi Aku Takut. Aku takut Dia akan membunuhku" tiba tiba Lily merasa takut , keringat dingin keluar dari kening dan lehernya...
" Heiii,,, kau kenapa, siapa yang akan mencelakaimu ?" Tanya Devian yang khawatir melihat Lily seperti itu.
Devian menepuk nepuk pipi Lily berusaha menyadarkan Lily. Devian terus memanggil namanya dan menggoncang goncangkan tubuh Lily sedikit kasar.
Entah apa yang membuatnya sedih, air mata Lily keluar dengan derasnya tanpa di suruh.
" Lily ,,, Apa Kau baik baik saja?" tanya Devian sambil menatap mata Lily dan menghapus air matanya.
__ADS_1
Lily balas menatap Devian dengan kesadaran yang berangsur normal.
" Devian,,, Maaf." ucap Lily saat tersadar dan melihat laki laki di hadapannya itu mencemaskannya.
" Lily, apa kau baik baik saja, kau ada masalah?" tanya Devian dengan nada cemas.
" tidak Devian, Aku baik baik saja. hanya mimpi buruk. maaf membuatmu cemas." jawab Lily tak enak hati pada Devian , teman yang baru di kenalnya itu.
" Ok, Aku lega jika Kau baik baik saja . Aku akan pulang , Kau sebaiknya mengunci pintu rumahmu ." ucap Devian sambil mengenakan Jacketnya yang sudah di keringkan oleh Lily semalam.
" Ya, kamu hati hati, dan Terimakasih atas bantuanmu Devian." jawab Lily .
Devian telah berlalu menjauh dengan motornya, Liky segera mengunci pintu rumahnya. Meskipun saat ini Dia berada di jarak yang jauh dari Lary tapi tak menutup kemungkinan Lary akan mencari dirinya dan Ibunya kemari.
Devian melajuka motornya dengan cepat menuju rumahnya. Sepanjang perjalanan Dia terus memikirkan Lily. " Ada apa sebenarnya? apa yang di alami gadis itu? membunuh,,, siapa yang akan membunuhnya?" berbagai pertanyaan tentang Lily berputar putar di kepala Devian.
Devian memarkirkan motornya lalu melangkah memasuki rumahnya.
" Ya ampun Mama.... ngapain malam malam di situ . ngagetin aja." jawab Devian yang kaget melihat sosok Mamanya di kegelapan dan menyalakan lampu ruangan tersebut.
" Nih anak, di tanya malah bales nanya... Dari mana Kamu, jam segini baru pulang, kamu nginep di tempat siapa??" tanya Liana yang melihat anaknya dari atas kebawah.
" kenapa Mama bisa berfikiran Aku nginep di tempat orang??" tanya Devian heran, Mamany tau saja apa yang di lakukannya.
" ya tau lah, itu kamu pake baju siapa, celana siapa. orang tadi perginya aja pake baju kerja naik mobil. pulangnya pake kaos sama celana training naik motor." ucap Liana yang membuat Devian tercengang dan tertawa terbahak bahak..
" hahahaha.... Mama tuh tau aja ,,, paling perhatian sama Aku." jawabnya sambil tertawa dan merebahkan badannya di Sofa.
Mama Devian hanya menggelengkan kepalanya , menuju dapur membuatkan Kopi panas untuk anaknya itu.
" Kamu gak nginep di rumah Amanda kan?" tanya Liana cemas sambil menaruh kopi di meja.
__ADS_1
" Enggak lah Ma,, Aku gak suka sama Amanda, buat apa Aku kerumahnya." jawab Devian sambil menyruput kopi buatan Mamanya pelan pelan.
" Syukurlah,, kamu bisa saja di paksa menikah kalo sampai tidur di sana Dev." ucap Mamanya.
" enggak Mama.... Aku tadi di rumah temanku. Nunggu hujan reda. Bajuku basah jadi dia minjemin baju Ayahnya ke Aku." jelas Devian pada Mamanya.
" teman?? laki laki apa perempuan? tanya Mama Devian penasaran.
" Perempuan." jawab Devian Singkat.
Liana terkejut.
" tqpi kamu gak ngapa ngapain kan Dev? tanyanya sedikit khawatir.
Devian tertawa kecil mendengar pertanyaan Mamanyanyang berfikir terlalu jauh.
" enggak lah Ma,,, mana mungkin Aku macem macem,, Mama tenang aja." jawab Devia sambil melangkahkan kaki hendak menuju kamarnaya.
" Bener ya Dev, Mama percaya lho sama Kamu." ucap Liana menghentikan langkah Devian.
" Mama tenang aja." jawab Devian sambil menoleh ke arah Mamanya lalu melanjutkan langkahnya masuk ke kamar .
Liana bernafas lega dengan jawaban Anaknya itu, Dia sangat percaya dengan Devian. Dia yakin Devian bukanlah laki laki yang memakai nafsu untuk menghadapi seorang wanita.
Devian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Terlintas di benaknya wajah Lily yang sedang ketakutan tadi.
" Lily ,,, sebenarnya siapa kamu sebenarnya" gumam Devian . Dia menatap kaos yang dia kenakan . Meskipun kaos ini terlihat biasa saja, tapi dari Brand Merknya ini bukan kaos yang biasa, bisa di cek ke asliannya. tapi kenapa Lily hidup dengan sangat sederhana, bahkan bekerja di caffe untuk memenihi kebutuhan dirinya dan ibunya.
Haiiissss,,, entah lah. Lily Kau mengisi penuh kepalaku hingga Aku hanya memikirkanmu dari tadi. Gumam Devian sambil menutup matanya melanjutkan tidurnya yang tertunda.
Terimakasih Like dan Komennya Kakak๐๐
Selamat Membaca ๐๐
__ADS_1
Ilustrasi๐