KUPU - KUPU PENGGODA

KUPU - KUPU PENGGODA
Episode 19


__ADS_3

***


Lily dan Devian melangkah menyusuri lorong lorong Rumah Sakit menuju ruangan dimana Ibu Lily di rawat. Tidak sengaja mereka bertemu dengan Rafael di tengah lorong, lalu Rafael mengantar Lily dan Devian ke Ruangan Dhira.


Rafael membuka pintu ruangan tersebut,,, terlihat Dhira masih terbaring lemah pasca Oprasi.


Lily melangkahkan kaki mendekati Ibunya lalu mencium kening Ibunya itu.


" Bagaimana keadaan Ibuku Dokter ?"


" Ibumu masih sangat lemah Lily,,, " jawab Rafael yang melirik Devian.


" ehm, Devian Aku ingin berbicara denganmu sebentar" kata Rafael pada Devian.


Devian menatap Rafael yang sudah jalan keluar dari ruangan Ibu Lily.


" Sebentar ya Honey..." kata Devian pada Lily lalu mengikuti langkah kaki Rafael.


Rafael duduk di salah satu bangku ruang tunggu yang agak jauh dari ruangan Dhira. Di ikuti Devian yang duduk di sebelahnya.


" Ada apa Dokter??" tanya Devian pada Rafael.


" Ini tidak terlalu baik Devian,,, Nyonya Dhira mengalami komplikasi ,,, sehingga meskipun sudah melakukan Oprasi pun keadaannya belum tentu bisa membaik." ucap Rafael pada Devian.


Devian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


" Apa yang harus kami lakukan Dokter? " tanya Devian .


Rafael heran mengapa Devian begitu perhatian dengan masalah Lily.


" Nyonya Dhira harus di bawa ke Jerman agar mendapatkan pengobatan yang bagus dan terapi ." ucap Rafael sedikit ragu.


" ya sudah, segera pindahkan Nyonya Dhira ke Jerman Dok." kata Devian tanpa berfikir panjang.


" Gila Kamu Devian,,, itu membutuhkan biaya yang sangat mahal, bagaimana Lily bisa menanggungnya." ucap Rafael terkejut dengan ucapan Devian.


" Tidak masalah Dokter,,, Aku yang akan menanggung semuanya." kata Devian . Dia hanya berharap Ibu Lily bisa segera sembuh agar Lily bahagia, karna hanya Ibunya lah satu satunya keluarga Lily yang tersisa.


" kenapa Devian?" tanya Rafael heran dengan sikap Devian yang selalu membantu Lily.


" kenapa??? karna Aku ingin Lily bahagia." jawab Devian singkat lalu beranjak dari duduknya melangkah kembali menghampiri Lily yang masih ada di ruangan Dhira.


Devian menghanpiri Lily dan memeluk nya dari belakang.


" jangan sedih Honey,,, Ibumu akan mendapatkan perawatan yang terbaik." ucap Devian sambil mencium pipi Lily dari belakang, wajahnya basar karna air mata nya terus mengalir melihat keadaan Ibunya yang tak kunjung membaik.


" bagaimana bisa ,, Aku sudah tidak memiliki apapun, " jawab Lily dengan terisak.


" Kamu masih memiliki senyum yang membuat Ibumu dan Aku bahagia,,, tersenyumlah Honey, Aku akan berusaha." bisik Devian di telinga Lily sambil terus memeluknya dengan erat dari belakang.


Lily membalikan tubuhnya lalu membenamkan wajahnya di dada bidang Devian. Dia tidak tahu harus dengan cara apa lagi Dia harus berterima kasih pada Devian,,,


" Sudah Honey, jangan menangis lagi ya. Dokter Rafael akan segera mengurus keberangkatan Ibumu ke Jerman untuk pengobatan yang jauh lebih baik." ucap Devian sambil memegang wajah Lily dengan keduan tangannya.


Lily menganngukan kepalanya sambil mengusap air mata yang terus mengalir di wajahnya dan memncoba tersenyum kepada Devian.

__ADS_1


Devian tersenyum melihat ketegaran Lily, lalu menciun kening gadis yang di Cintainya itu.


" Begitu dong,,, kamu jauh lebih cantik jika tersenyum." kata Devian kepada Lily.


.


.


.


Amanda melangkah mencari ruangan Ayahnya di rawat. Ayah Amanda syok dan sakit saat mwngetahui perusahaannya telah di Blokir oleh group Martin. Tidak ada satupun perusahaan yang mau bekerja sama dengan Perusahaan miliknya. Banyak kerugian yang harus di tanggung keluarganya saat itu, sehingga harta yang mereka milikipun terkuras untuk menutupi kerugian tersebut.


Dari kejauha Amanda seperti melihat seseorang yang familiar. Dia menatap sosok itu, ya ternyata itu adalah Devian yang sedang berjalan bergandengan tangan dengan seorang Gadis.


" hah.... Devian, sedang apa Dia di Rumah Sakit ini? Dan gadis itu sepertinya Aku pernah melihatnya, tapi dimana ya." gumam Amanda.


Amanda bersembunyi dari pandangan Devian dan diam diam mengikuti mereka. Hingga sampai di sebuah ruangan perawatan, mereka berdua memasuki ruangan itu bersamaan.


Amanda mendengarkan pembicaraan mereka dan tersungging senyum jahat di bibirnya.


" Dasar wanita Sialan, lihat saja kamu. Kamu sudah membuat hidupku hancur, Aku juga akan membuat hidupmu hancur nantinya.." gumam Amanda dengan rasa dendam yang menggebu gebu dalam hatinya lalu melangkah pergi dari sana menuju ruangan Ayahnya.


.


.


.


" Dokter Rafael,,, semua ku serahkan padamu. Aku minta berikan yang terbaik untuk Nyonya Dhira." kata Devian pada Rafael.


" Lily,,, Aku akan merawat Ibumu di sana, kamu tidak usah khawatir." kata Rafael menenangkan Lily.


" Terimakasih Dokter." jawab Lily penuh harap.


Devian tersenyum melihat kelegaan di wajah Lily, Dia berharap Dhira bisa segera pulih dan tinggal bersama mereka .


Devian menggenggam tangan Lily lembut, Rafael yang melihat kejadian itu mengalihkan pandangannya. " benar benar sudah tidak ada harapan tentunya. ya sudahlah..." gumam Rafael dalam hatinya.


.


.


.


.


Hari dimana Dhira terbang ke Jerman pun datang, Lily terus memeluk Ibunya sebelum Ibunya terbang.


" Mom,,, Aku mohon sembuhlah,,, Aky sangat merindukanmu." ucap Lily terisak.


Devian mengusap usah punggung Lily untuk menenangkannya.


" Devian, tolong jaga Lily, jangan pernah kamu menyakitinya." kata Rafael yang mendekati mereka berdua.


" tidak akan Dokter, Aku akan segera menikahinya." jawab Devian dengan tegas.

__ADS_1


" Baiklah ,,, Aku percaya padamu. " kata Rafael sambil menepuk bahu Devian dengan senyuman di bibirnya.


Rafael pun melambaikan tangannya pada Devian dan Lily sebelum memasuki pesawat. Dia berharap Lily bisa hidup bahagia dengan Devian. Meskipun di hatinya menyimpan perasaan terhadap Lily, tapi Dia tidak akan memaksakan itu. Rafael hanya bisa membantu memberikan perawatan yang terbaik untuk Dhira dan melepaskan Lily untuk Devian agar Lily bahagia.


.


.


.


.


Ruben menghentikan mobilnya di halaman Villan Devian, lalu Devian dan Lily pun keluar dari mobil itu.


Mereka melangkah memasuki Villa, di lihatnya Liana ternyata sedang duduk santai di Sofa.


" Kamu sudah pulang Dev." kata Liana yang menyadari kedatangan Putranya.


" Iya Ma, Mama kapan kemari? kok tidak memberi labar." tanya Devian pada Mamanya.


" sudah sejak tadi,,, Kamuuu....." kata Liana sambil melihat Devian yang sedang menggandeng tangan Lily sejak tadi.


" ehm,, iya Ma,,, Aku berencana akan menikahi Lily." kata Devian melirik ke arah Lily.


Lily terkejut mendengar pernyataan Devian,,, Dia cukup senang tapi juga agak bingung.


" kamu serius??" tanya Lily .


" ya Aku serius,, bagaimana menurut Mama?" kata Devian kembali menoleh ke arah Mamanya.


Liana terdiam sesaat, Dia berfikir mungkinkan Devian hanya bermain main, karna pernikaha bukanlah sebuah permainan.


" Devian, kamu jangan asal bicara." ucap Liana pada anaknya.


" Tidak Ma,,Aku sungguh sungguh. " jawab Devian serius.


Liana merasa lega mendengarnya lalu menghampiro Devian dan Lily.


Lily merasa sedikit takut saat wanita cantik itu mendekatinya.


" Baiklah,,, Mama merestui kalian." ucap Liana dengan senyuman manis di wajahnya.


Lily tersenyum mendengar jawaban calon mertuanya itu.


"Terimakasih Ma...." ucap Devian sambil memeluk Ibunya.


" iya Dev, Mama hanya ingin kamu bahagia , Papamu juga pasti akan merestui kalian." jawab Liana tersenyum.


" Terimakasih Tante..." ucap Lily sopan.


" jangan panggil Aku Tante, panggil Aku Mama Ok." kata Liana tersenyum pada Lily .


Devian sangat senang melihat Mamanya dan Lily sangay akrab sepeti benar benar Ibu dan Anak. Mereka duduk bersama dan berbincang dengan Asyiknya. Devian berharap semua lancar hingga hari pernikahan, dan kebahagiaan berpihak padanya dan Lily.


( Terimakasih Kakak Like dan Komennya. 😊🙏. Selamat membaca 😊 )

__ADS_1


__ADS_2