
Lily membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia memejamkan matanya, tiba tiba Lily loncat turun dari tempat tidurnya teringat amplop yang di berikan Darel.
Lily membuka Amplop tersebut, matanya membelalak melihat uang Tip yang di terimanya.
" Hahh ... ini sungguh sungguh tip buat Aku kah? Ini gajiku dua minggu, ya Tuhan siapa orang baik ini." Gumam Lily dalam hati. Dia sangat terharu melihat isi amplop tersebut.
" Syukurlah, besok Aku bisa memerikan uang ini kepada Dokter Rafael untuk pengobatan Momy hingga dapat pendonor." Ucap Lily dengan mata yang berkaca kaca. Lily sangat besyukur dengan apa yang dia dapatkan hari ini.
**
Devian memasuki Villanya, dia melangkahkan kakinya menuju kamar.
" Devian ...." Panggil Ibunya menghentikan langkah Devian.
" Ya Ma, ada apa?" Tanya Devian pada Ibunya.
" Devian, mulai besok kamu sudah mulai mengurus perusahaan Papa yang di sini ya, jika kau bosan di kantor Mama akan meminta Amanda menemanimu." Kata Liana.
" Aku akan bekerja, tidak perlu bersama Amanda. Aku bisa sendiri, tak perlu bersama Amanda. Aku lebih bosan jika dia ada bersamaku." Jawab Devian sambil meneruskan langkahnya .
__ADS_1
" Apakah Kau sama sekali tidak ada rasa padanya Devian? Dia sudah menunggumu lama sekali." Ujar Ibu Devian.
" Tidak Ma, dan Aku juga tak pernah menyuruhnya menungguku." Jawab Devian tegas sambil melangkah masuk ke kamarnya.
Meskipun Amanda adalah teman masa kecil Devian, Devian merasa tidak nyaman akan kehadiran Amanda . Devian sama sekali tak ada rasa dengannya, hanya sebatas teman biasa saja.
Ibu Devian hanya geleng geleng kepala saja, " Dasar anak itu , sangat kokoh pendiriannya. Terserahlah, Aku tak akan memaksamu ingin dengan siapa." Gumanya Ibu Devian .
Devian membaringkan tubuhnya, di pejamkan matanya dan lagi lagi wajah gadis itu yang muncul. Suaranya sangat lembut dan merdu, entah kenapa membuatnya tertarik.
" Siapa Dia ya? Haiiissss ... kenapa Aku sangat penasaran dengannya." Gumam Devian dalam hati.
.
.
*Sisi Lain Di Rumah Saki*t.
Dhira membuka matanya setelah Lily pergi, di lihatnya Dokter Rafael duduk di Sofa ruangannya. Dokter muda yang sudah merawatnya selama dua tahun ini.
" Anda sudah bangun Nyonya?" Sapa Rafael dengan Sopan sambil memeriksa selang infusnya.
__ADS_1
" Dokter, menurutmu apakah Aku akan bertahan lama?" Tanya Dhira pelan.
" Kau harus semangat Nyonya, Anakmu selalu berusaha untuk kesembuhanmu." Jawab Rafael dengan senyumnya.
" Benar kah? Apakah dia akan sedih jika Aku tiada?" Tanyanya datar.
" Pasti sedih Nyonya, meskipun sangat sulit menemukan pendonor untuk Anda, Anda harus tetap semangat untuk Sembuh demi Anakmu." Ucap Rafael.
" Ya Dokter, semoga saja Tuhan masih memberiku kesempatan hidup." Senyum Dhira menyemangati dirinya sendiri.
Tangannya membelai rambutnya dengan lembut, di dapatinya helaian rambut yang menempel di jari jarinya, lalu mengepalkan tangannya. Butiran butiran air matanya mengalir di pelipisnya.
" Beristirahatlah Nyonya, hari sudah malam." Ucap Rafael dengan lembut sambil meninggalkan Dhira agar segera tidur.
" Baiklah Dokter, terimakasih." Jawab Dhira sambil tersenyum sayu.
Dhira memejamkan matanya perlahan. Teringat bayangan bayangan masa lalunya yang hidup bahagia bersama Keluarga kecilnya dulu. Hari hari mereka selalu di hiasi dengan senyuman dan canda tawa. Andai saja saat itu David tidak menolong Lary, mungkin semuanya tidak akan menjadi seperti ini. Mereka pastilah masih hidup dengan damai.
Terimalasih Like dan Komennya Kakak. 😊🙏
Selamat Membaca😊
__ADS_1