KUPU - KUPU PENGGODA

KUPU - KUPU PENGGODA
Episode 2.


__ADS_3

 


" Lily, Lily, Heiii," panggil Darel rekan kerjanya sabil melambai lambaikan tangannya di depan wajah Lily.


" Ehh, ah, iya. Ada apa Darel," jawab Lily gugup sambil mengusap pipinya yang tanpa di sadari air matanya mengalir saat mengingat masa lalunya.


" Kamu melamun Lily, apakah Kau sedang ada masalah?" Tanya Darel dengan hati hati.


"Oh, tidak Darel, aku baik baik saja," jawab Lily dengan senyumnya.


Darel lega melihat Lily tersenyum, " Kenapa senyuman itu sangat manis, Lily," gumam Darel dalam hatinya.


Lily adalah gadis yang sangat cantik, kulitnya putih merona, bola matanya biru rambutnya berwarna Coklat berkilau, sungguh benar benar gadis yang cantik.


" Syukurlah Lily, come on saatnya kau bekerja bersama Bandku seperti biasa," ajak Darel.


" Baiklahh, wait." jawab Lily merapikan pakaiannya.


" Ehhmmm ... sorry Lily kau hanya dapat 2 lagu saja," kata Darel sedikit tak enak hati.


" Tidak masalah, setidaknya Aku dapat tambahan hari ini," ucap Lily dengan senyuman manisnya.


Darelpun membawa Lily menuju panggung kecil diCafe itu.


Lily mengambil sebuah gitar Akustik, mengatur nada dan juga memetik satu persatu senar itu untuk memastikan petikannya indah. Dia duduk di sebuah kursi yang menghadapkan nya pada sebuah microfon.


Lily mulai memainkan Gitar nya di imbangi dengan Band Darel.


Lagu pertama yang dia mainkan '🎼 Because of You. By. Kelly Clarkson '


Lily menghayati setiap lirik yang keluar dari bibirnya, suaranya yang lembut sedikit serak membuat lagu milik Kelly Clarkson itu lebih menyentuh di hati pendengarnya.


Usai menyanyikan lagi pertama, Lily kembali memainkan gitarnya untuk lagu ke dua.


Lagu Kedua, Lily menyanyikan lagu milik ' Andmesh Kamaleng. 🎼 Hanya Rindu '


Lily sangat menghayati lagunya.


" Bukanya diri ini tak terima kenyataan..., oohhh Bukanya diri ini tak terima kenyataan. Hati ini hanya Rindu...." Lily mengakhiri permainan musiknya. Membungkuk kepada semuanya dan turun dari panggung kecil itu.


Ada sepasang mata dengan bola mata abu abu sejak tadi menatap Lily dengan tajam, mata itu tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Lily. Sambil menyilangkan tangan di dadanya dia menikmati lagu yang di nyanyikan Lily.


Jam di tangan Lily sudah menunjukan pukul 7 malam. Lily bergegas mengganti pakaiannya dengan yang tadi pagi dia pakai.


Lily melangkah keluar dari Cafe tempatnya bekerja, tapi tiba tiba langkahnya terhenti karena terdengar Darel memanggilnya.


" Lily." Panggil Darel.

__ADS_1


Lily membalik badannya, " Ya ada apa Darel," tanya Lily.


" Ini bonusmu Lily dan ini tadi ada seorang baik hati memberimu uang tip," ucap Darel menguluran uang dan amplop yang masih tertutup rapat kepada Lily.


" Benarkah, terimakasih Darel, jika ada Job lagi Aku mau ya ikut denganmu," ujar Lily sambil tersenyum.


" Tidak masalah, Aku akan terus infokan padamu, titip salam untuk Ibumu," kata Darel tersenyum.


" Baiklah, Aku pergi dulu ya, bye."


Lily melambaikan tangannya pada Darel, lalu melanjutkan langkahnya menuju Rumah Sakit tempat Ibunya di rawat.


Dengan memakai jacket hodie dengan jumper menutupi kepalanya, Lily terus melangkah menyusuri ramainya kota Denpasar. Jaraknya lumayan jauh, sekitar dua kilo meter. Tetapi Lily sudah terbiasa berjalan kaki ke sana, baginya itu tidaklah melelahkan.


Sesampainya di Rumah Sakit dia melihat Dokter Rafael keluar dari ruangan Ibunya. Merasa khawatir Lily segera berlari menghampiri Dokter Rafael.


" Ada apa dengan Ibu saya Dok?" Tanya Lily dengan Cemas.


" Tadi kondisi Ibumu menurun, jangan khawatir sekarang sudah stabil," Jawab Dokter Rafael pada Lily.


Lily terduduk di kursi yang ada di depan ruangan Ibunya, Dia merasa lega Ibunya baik baik saja.


" Terimakasih Dokter," ucap Lily menengadahkan wajahnya.


Dokter Rafael tersenyum sambil mengusap kepala Lily, " Okey, sama sama." Lalu dia melangkah pergi meninggalkan Lily.


Lily memasuki ruangan Ibunya di rawat. Dia melihat ibunya yang berbaring lemas. Air mata Lily menetes melihat rambut Ibunya mulai menipis akibat terapi Radiasi yang di jalaninya. Dia cepat cepat menghapus air matanya.


" Lily, kau sudah datang sayang," ucap Ibu Lily, " Belum sayang, Mom menunggumu." sambung Ibu Lily dengan senyuman yang sayu.


" Mom, istirahatlah, Aku akan selalu datang setiap pulang kerja Mom. Hanya saja terkadang Aku pulang lebih malam, jadi Momy bisa tidur dulu, jangan malam malam Mom tidurnya." Ucap Lily sambil duduk kursi yang ada di sebelah tempat tidur.


Ibu Lily mencubit hidung Lily gemas." Anaku sudah besar ya, jadi sudah bisa nasehatin Momy nya," canda Dhira pada anak kesayangannya itu.


Lily hanya tersenyum dan memeluk Dhira. Hanya Ibunya lah keluarga satu satunya yang dia miliki saat ini.


" Aku menyayangimu Mom, apapun akan ku lakukan agar Mom sembuh dan selalu ada di sisiku." Gumam Lily dalam hatinya.


Lily lega melihat Ibunya sudah tertidur. Dia berencana akan pulang setelah Ibunya tertidur.


Saat akan melangkah keluar tiba tiba pintu terbuka dan ternyata itu adalah Dokter Rafael.


" Kau sudah akan pergi Lily ? " tanya Dokter Rafael.


" Iya Dok, besok Saya harus bekerja," jawab Lily dengan ramah.


" Baiklah, hati hati Lily. Ini ada makanan untukmu nanti di rumah," kata Dokter Rafael sambil menyodorkan sebuah bungkusan pada Lily.

__ADS_1


" Terimakasih Dokter, terimakasih, saya permisi dulu ya Dok."


Lily sangat berterimakasih pada Dokter Rafael. Dia sangat baik padanya dan ibunya.


Lily melangkahkan kakinya dengan cepat agar segera sampai rumah. Tubuhnya sudah sangat kelelahan. Jam di tangannya sudah menunjukan pukul 10 malam.


" Haiss, sudah malam sekali ternyata, pantas saja Aku merasa lelah," gumam Lily.


Saat Lily dalam perjalanan pulang tiba tiba ada sebuah Mobil berhenti di sebelah Lily lalu membuka kaca jendela mobilnya.


" Nona, silahkan masuk, Tuan saya memberikan tumpangan untuk Anda," sapa seseorang dari dalam mobil mewah tersebut.


Lily agak ragu, Dia sedikit takut, takut jikalau mereka adalah orang orang Pamannya Lary.


" Tidak Tuan, terimakasih ." Lily menolaknya dengan ramah sambil membukukan badannya lalu pergi dengan cepat.


Laki laki tersebut hendak keluar menghampiri Lily, tetapi langkahnya di hentikan seseorang.


" Berhenti, tidak perlu di kejar, pulang kerumah." Perintah Devian pada Asistennya.


" Baik Tuan."


" Gadis yang menarik," gumam Devian dalam hatinya sambil tersenyum.


.


.


DEVIAN🖤


Baru satu bulan kembali Devian sudah sangat merasakan Bosan, ingin kembali ke Inggris saja mengurus perusahaan Ayahnya yang di sana.


"Haisss ...." Dengus Devian.


Saat sedang menikmati kesendiriannya, tiba tiba salah satu teman kecilnya datang kerumahnya, Dia adalah Amanda.


" Devian, hei ayolah kita jalan jalan. Aku antarkan kamu keliling Kota Denpasar," ajak Amanda pada Devian.


Karena Amanda terus saja memaksa, akhirnya Devian mengikutinya untuk menghilangkan rasa bosannya.


Amanda mengajak Devian memasuki sebuah Cafe, lalu Dia manggil salah seorang pelayan.


Karena malas, mata Devian terus menatap ke arah luar cafe, dari pantulan kacanya Dia melihat pelayan itu menghampiri meja dimana Devian dan Amanda duduk.


Tanpa pelayan itu sadari, Devian sejak tadi terus melihat wajahnya dari pantulan kaca dengan senyumam tipis di bibirnya.


Terimakasih Like dan Komennya Kakak 🙏😊

__ADS_1


Selamat Membaca😊



__ADS_2