
Rafael melangkah menuju ruang ICU tempat Dhira di rawat, langkahnya terhenti sesaat , Dia melihat Lily yang tertidur sambil menyandarkan kepalanya di bahu seorang laki laki di sampingnya. " Siapa laki laki itu?" Gumam Farel dalam hatinya. Dia melanjutkan langkahnya lalu memasuki Ruang ICU untuk mengecek keadaan Dhira.
Devian dengan perlahan menurunkan sandaran Lily , merebahkan kepalanya di sofa ruang tunggu . Dia bangkit dari tempat duduknya menghampiri kaca besar, melihat Dokter yang sedang memeriksa Ibu Lily.
" Bagaimana Dok keadaan Nyonya Dhira ?? tanya Devian saat melihat Rafael keluar dari ruangan ICU.
Rafael melirik Lily yang tertidur di sofa ruang tunggu. Terlihat raut kesedihan di wajahnya meskipun dalam keadaan tertidur.
" Belum ada perkembangan yang memuaskan." jawab Rafael.
Devian terlihat cemas, dia teringat kata kata terakhir Dhira saat Dia akan pulang malam itu.
" Apakah ada harapan? tanya Devian ragu.
Rafael menyandarkan tubuhnya di kaca besar itu, ragu untuk mengatakan tentang keadaan Dhira.
" Nyonya Dhira sudah stadium Akhir, hingga saat ini belum mendapatkan pendonor yang cocok,,," Jawab Rafael sambil melirik Dhira dari balik kaca besar itu.
Devian melangkah mendekati Rafael , matanya terus menatap Dhira dengan iba, Dia tidak bisa membayangkan jika itu yang berbaring itu Ibunya bagaiman, pasti sangat sedih, apalagi Lily yang tak memiliki siapapun lagi selain Ibunya.
" Tolong berikan perawatan yang terbaik untuk Nyonya Dhira hingga Dia mendapatkan pendonor yang cocok Dok." Ucap Devian masih dengan menatap Dhira lalu beralih ke Lily.
Rafael sedikit terkejut mendengar ucapan Devian. Bagaimana mungkin, Dia sudah membantu Lily dengan tidak memasukan jasanya sebagai Dokter dalam tagihannya saja Lily sudah kewalahan membayar biayanya, apalagi jika perawatan intensif yang terbaik, mana mungkin Lily bisa membayar tagihannya nanti. gumam Rafael dalam hatinya.
" Itu akan sangat menguras biaya, bagaimana Lily akan mencarinya. " ucap Rafael ragu.
" Aku yang akan menanggung semua biaya Nyonya Dhira. Usahakan yang terbaik Dokter. "
" Kau Serius? tanya Rafael ragu.
" ya,,, segera hubungi Aku jika ada pendonor yang cocok dengan Nyonya Dhira ." Ucap Devian sambil duduk di sofa bersebelahan dengan Lily yang tertidur pulas. Perlahan di usapnya ujung kepala Lily dengan lembut.
Rafael merasa tidak nyaman melihat pemandangan itu.
__ADS_1
" Baiklah,,, Aku akan mengurus prosedurnya. Aku permisi dulu. " ucap Rafael melangkah keluar dari ruang runggu itu. Dia merasakan hawa panas di dadanya saat melihat Devian dengan lembutnya mengusap usah kepala Lily. Siapa Devian sebenarnya? mengapa Dia mau menanggung semua biaya Nyonya Dhira, Dia kekasih Lily kah??? berbagai pertanyaan berputar putar di kepala Rafael membuatnya tidak nyaman dan penasaran.
.
.
.
Lily perlahan membuka matanya, dia tidak sadar jika saat ini ternyata masih di Rumah Sakit. Dia tak pernah merasakan tidur senyaman ini. Di tatapnya sekitar, Devian sedang berdiri di depan kaca besar itu, Lily langsung menghampiri Devian.
" Maaf, Devian tadi Aku tertidur. Apakah Dokter sudah memeriksa Ibuku? tanya Lily yang baru sadar jika Devian menemaninya dari tadi siang.
" Iya, tadi Dokter sudah memeriksa Ibumu Lily, Kqu harus bersabar, ber Do'alah semoga Tuhan mengembalikan kesehatan Ibumu lagi." jawab Devian .
Lily mengerutkan keningnya, matanya terus menatap Ibunya yang terbaring dari balik laca besar itu.
" Mom please... Don't leave Me..." ucap Lily sambil mengusap usah kaca itu seoalah olah wajah Ibunya.
Devian mendekati Lily sambil mengusap usap punggunya.
" Aku akan mengantarmu pulang, Kau terlihat sangat lelah Lily." ucap Devian.
" Ok, marilah ku antar kamu ke Caffe,, ." ucap Devian sambil menggandeng tangan Lily membawanya keluar.
Devian menghampiri mobil JLR hitam nya membukakan pintunya untuk Lily.
Lily hanya terdiam bingung menatap mobil mewah di hadapannya.
" Mana Sepeda Motormu Devian ?? tanyanya polos
Devian terkekeh sambil mengusap rambut panjangnya,,
" Naiklah, Bos ku meminjamkan mobilnya padaku." jawab Devian berbohong.
" Ohhh,, Bos mu baik sekali Devian." ucap Lily tersenyum memperlihakan giginya yang putih dan rapi, menambah kecantikannya.
__ADS_1
Devian hanya tersenyum menanggapi ucapan Lily. Dia melajukan mobilnya dengan cepat menuju Caffe tempat Lily bekerja.
Sesampainya di sana Lily segera turun .
" Thank's Devian..." ucapnya sambil membungkukan badannya dan melambaikan tangannya ke arah Devian.
Devian hanya tersenyum sambil membalas lambaian tangan Lily lalu melajukan mobilnya dengan perlahan. Saat melihat Lily sudah masuk dia memasuki sebuah hotel sebelah caffe tempat Lily bekerja.
Dalam kamar Devian segera mengubungi Asistennya.
" Ruben, segera antar pakaian untukku , Aku di Hotel MM sebelah Caffe biasa." perintah Devian.
" Apa Bos, Hotel?? Baik Baik Boss...."jawab Ruben menuruti perintah Bosnya dengan heran.
.
.
" Hai Lily , kau sudah datang." sapa Darel saat melihat kedatangan Lily.
" Ya, Makasih Darel kamu beri Aku job malam ini." ucap Lily dengan senyuman.
" Sama sama Lily, Aku hanya bisa membatumu seperti ini." jawab Darel sambil duduk di sebelah Lily , memberikan satu minuman kaleng untuknya.
" tak apa Darel, begini aja Aku sudah makasih sekali ." kata Lily menerima pemberian Darel.
Tak beberapa lama menunggu kini saat nya Lily menghibur para pelanggan Caffe dengan suaranya yang merdu .
Lagu INSOMNIA By Craigh David , yang dinyanyikan dengan jenis Akustik oleh Band Darel dan dengan Vocal Lily yang empuk membuat para pendengarnya terbawa suasana.
Dari kejauhan Devian menatap tajam ke arah Lilly, di pandangnya gadis itu dari ujung kaki hingha ujung kepala, Dia merasa heran. Bagian mana coba yang membuatnya tertarik mendekati gadis itu? Lily bukanlah wanita yang elegan dan Feminim, tidak seperti wanita wanita yang selalu mengejarnya. " Kau adalah wanita yang Unik, mungkin itu yang membuatku tertarik" gumam Devian dalam hatinya.
Jika ada gambar yang di tampilkan , itu hanya selingan saja ya kakak. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan di hati para pembaca. 🙏
__ADS_1
Terimakasih Like dan Komennya kakak 😊🙏
Selamat Membaca.😊