KUPU - KUPU PENGGODA

KUPU - KUPU PENGGODA
Episode 7.


__ADS_3


Rafael melangkahkan kakinya menuju ruangan Dhira, Dibukanya pintu ruangan tersebut , alangkah terkejutnya saat Dia melihat keadaan Dhira pagi itu, wajahnya sangat pucat tak sadarkan diri di tambah darah mengalir dari lubang hidungnya,


" Ya Tuhan,,,"


Rafael memanggil beberapa perawat agar membantunya membawa Dhira ke ruang ICU,,, Rafael bergegas memberikan pertolonga untuk Dhira yang kondisinya kritis saat ini.


Kesulitan mendapatkan Donor sum sum tulang belakaan membuat Kondisi kesehatan Dhira makin menurun setiap harinya meskipun sudah melakukan Terapi Radiasi.


Setelah memeriksa Dhira Rafael segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Lily, meskipun khawatir Lily akan sedih , tapi bagaimanapun Dia harus tau kondisi Ibunya.


" Lily, ada yang harus di bicarakan denganmu. Bisakah Kau datang ke Rumah Sakit sekarang? tanya Rafael lewat ponselnya.


" Iya Dok, saya sedang perjalanan menuju Rumah Sakit. " jawab Lily yang memang sedang cuti dan pagi ini akan menemani Ibunya di Rumah Sakit.


Sesampainya di Rumah Sakit Lily melangkahkan kakinya menuju ruangan Ibunya,, tapi saat Lily masuk Ibunya tidak ada di tempat tidurnya.


Dalam kebingungannya Rafael yang mengetahui kedatangan Lily menghampirinya .


" Lily, ikutlah denganku." perintah Rafael dari depan pintu.


" Baik Dokter. Dokter, Ibuku di mana?" tanya Lily dengan terus mengikuti langkah kaki Rafael.


" Nanti Kau akan tau." jawab Rafael singkat.


Rafael mengajaknya memasuki sebuah ruangan , memberikan masker juga pakaian steril untuk di kenakan dirinya dan Lily.


" Ibumu di sini Lily." ucap Rafael menunjukan Dhira yang berbaring di ruang ICU.


" Mom,,, Dokter Ibuku kenapa Dok?" rintih Lily,, hatinya sakit melihat kondisi Ibunya. banyak alat alat yang terpasang di tubuhnya, entah apa namamya Lily sendiripun tak faham.


" Sebaiknya Kita bicara di ruanganku . Marilah Lily" Ajak Rafael . Merekapun menuju ruang kerja Rafael.

__ADS_1


Rafael mempersilahkan Lily untuk duduk di sofa putih di ruangannya , dia melangkan menuju lemari pendingin mengambil dua kaleng minuman .


" Minumlah dulu." kata Rafael sambil memebrikan satu minuman di tangannya kepada Lily lalu duduk di sebelah Lily.


" Terimakasih Dokter." ucap Lily pelan.


"Ibumu Kritis Lily, untuk mendapatkan pendonor sum sum tulang belakang sangatlah sulit. Jika begini terus ..." Rafael menghentikan kata katanya, Dia tak tega mengatakannya karna saat ini pun Lilu sudah menangis tesedu sedu. Rafael hanya bisa mengusap usap punggung Lily untuk menenangkannya.


Dari awal Dhira di rawat Rafael lah yang menangani Dhira hingga kini, entah kenapa semakin sering bertemu Lily membuatnya makin akrab dengan Lily, Bagi Lily Rafael adalah seorang Dokter yang sangat baik hati, Lily seperti memiliki seorang Kakak . tapi tidak dengan Rafael, ada perasaan yang Dia sembunyikan dari Lily. Perasaan yang melebihi dari seorang Kakak.


" Lalu apa yang harus saya akukan Dok? kenapa tidak ambil sum sum tulang belakangku saja Dok??" tanya Lily sedih.


" Tidak semudah itu Lily, Anak memang ada hubungan darah dengan orang tua, tapi tingkat kecocokannya hanya 0,5% saja. Jika kamu cocok dari dulu sudah Aku Oprasi Ibumu ." jawab Rafael


Lily hanya terdiam tak tau harus bagaimana lagi, pikirannya sedang kalut. Dia segera berpamitan kepada Rafael.


Lily menatap Ibunya dari balik kaca ruang ICU, Sesulit itukah untuk mendapatkan pendonor sum sum tulang belakang . Rintih Lily dalam hatinya.


Lamunanya buyar saat di merasakan getaran ponselnya dari dalam tas.


" Hallo Lily, kamu lagi di mana , tadi Aku mampir rumahmu kamu gak ada?" tanya Devian


" ehm, Aku sedang di Rumah Sakit Dev, Ibuku kritis." jawab Lily


" Ya Tuhan,,, Ok. kamu tunggu ya, Aku segera kesana."


" Ehhhh...." blm sempat Lily mengatakan sesuatu Devian sudah mematikan panggilannya.


Lily duduk di ruang tunggu ICU, sesekali dia berdiri di depan kaca besar itu untuk melihat Ibunya. Tak ada perkembangan yang berati selama Lily menunggu di situ, bahkan Ibunya pun belum sadarkan diri sejak tadi pagi.


" Lily,,, " panggil Devian yang tiba tiba ada di belakangnya dengan pelan.


Lily menoleh dah tersenyum pada Devian, Dia duduk kembali di ikuti Devian.

__ADS_1


" Bagaimana Ibumu? tanya Devian cemas.


" Belum sadar dari tadi pagi." jawab Lily merasa panas di matanya.


Lily menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tubuhnya sedikit tergoncang. Devian dengan lembut merankul Lily, di sandarkannya kepala Lily di dada sambil mengusap usah bahunya.


" Sudah Lily,,, Do'akan yang terbaik untuk Ibumu." ucap Devian .


Devian*


Kulangkahkan kakiku memasuki Loby Rumah Sakit, Sebenarnya Aku tidak kesinipun tak masalah, tapi entah kenapa mendengar suaranya yang sedih Aku merasa khawatir dan cemas.


Sampai di Rumah Sakit Aku melihatnya sedang berdiri di depan ruang ICU. Saat ku sapa Dia tetap tersenyum hanya saja mata yang sembab tidak bisa berbohong jika Dia saat ini sangatlah sedih.


Saat Dia menangis ku rangkul Dia, kusandarkan kepalanya di dadaku. harapanku Dia mendapat kenyamanan dariku. tapi ini membuatku tidak nyaman, jantungku berdetak sangat kencang saat kepalanya menyentuh dadaku, apalagi saat dia menangis. Dadaku mendadak merasa nyeriii...


" Kamu sudah makan? tanya Devian pada Lily.


Lily menggeleng " Aku tidak Lapar Dev."


Devian bangkit dari duduknya menggandeng tangan Lily mengajaknya pergi dari ruang tunggu ICU.


" lhohh, kita mau kemana Devian?" tanya Lily bingung.


" ke kantin, kamu harus makan..kalo kamu gak makan gimana Kamu bisa jagain Ibumu." jawab Devian dengan tegas membuat Lily terdiam dan mengikuti Devian.


sepanjang perjalanan ke kantin banyak pasang mata yang menatap Devian dan Lily .


sangat serasi, laki lakinya tampan, perempuannya juga sangat cantik. Dab terlihat jelas jika LiLy dan Devian itu Blasteran .


Devian menemani Lily makan , sambil ngobrol agar Lily tak terlalu sedih dengan keadaan Ibunya.


Selesai makan mereka kembali ke ruang tunggu ICU.

__ADS_1


Entah apa yang mendorong Devian untuk menemani Lily di Rumah Sakit. Hatinya tidak tega meninggalkan Lily sendirian ,


__ADS_2