
Lily memasuki Villa Devian, Dia melihat sekeliling tidak menemukan Devian sama sekali.
" Bi, Devian kemana ya ?" tanya Lily pada salah satu pelayan Devian.
" tadi Tuan muda sedang keluar bersama Nyonya besar Nona" jawab pelayan itu ramah.
" ohh, ya sudah. terimakasih." ucap Lily dengan senyumannya lalu melangka ke kamarnya.
Lily mengganti pakaiannya dengan piyama lalu merebahkan tubuhnya di ranjang, " Devian kemana ya malam malam begini, sepi juga rasanya kalo Dia tidak di rumah." gumam Lily dalam hatinya.
Lily sebenarnya tidak enak hati tinggal di sini terlalu lama, tapi Devian memintanya untuk tetap tinggal.
Entah sudah jam berapa saat ini dan sudah berapa lama Lily tertidur. Perutnya terasa sangat lapar malam itu, Dia turun menuju dapur mencari sesuatu yang bisa di makan. Dia membuat roti bakar dan susu hangat untuknya.
" Aku juga dong" kata Devian yang tiba tiba berada di belakang Lily membuat Lily hampir saja dibuatnya loncat.
" Devian... kamu kapan pulang?" tanya Lily gugub.
" Sudah dari tadi,,, " jawab Devian sambil memeluk pinggang Lily dari belakang membuat jantung Lily berdetak lebih cepat.
" Devian kamu kenapa? tidak ada Mama kamu, tidak perlu berpura pura seperti ini kan" ucap Lily dengan dada yang berdebar.
Devian menggeleng lalu meletakan kepalanya di bahu Lily, saat kulit wajahnya menyentuh leher Lily, Lily merasakan suhu panas pada wajah Devian.
" Devian,,, kamu sakit." ucap Lily cemas.
" hanya tidak enak badan." jawab Devian terus memeluk Lily .
Lily pun tidak menolak perlakuan Devian, Dia sendiri tidak tahu kenapa tidak bisa menolaknya, Dia merasa nyaman seperti ini.
" Devian,,, kamu ke kamar saja dulu, nanti Aku antarkan makananmu ke sana, dan kamu harus istirahat Ok." ucap Lily perlahan melepaskan pelukan Devian.
__ADS_1
" Baiklah, Aku tunggu ya." ucap Devian tersenyum sambil melangkah menuju kamarnya. Rambutnya terurai begitu saja , meskipun terlihat acak acakan tapi tidak menghilangkan ketampanannya.
Lily melanjutkan membuat makanan lalu mengantarnya ke kamar Devian.
Lily masuk ke dalam kamar Devian, dilihatnya Devian berbaring tengkurap di ranjangnya, Lily menaruh makanan dan obat untuk Devian di meja sebelah ranjang lalu melangkah hendak keluar, langkahnya terhenti karna Devian menarik tangannya.
" Ada Dev?" tanya Lily sambil duduk di tepi ranjang.
" jangan pergi,,, " pinta Devian sambil menggemgg tangan Lily lalu menariknya kedalam pelukannya.
" Eehhhh......" pekik Lily.
" Ssttt.... menurutlah, Aku tidak akan melakukan apapun padamu." bisik Devian .
" tapi, kamu belum minum obat," ucap Lily canggung.
" kamu obatku, jadi biarkan Aku memelukmu." kata Devian yang memeluk Lily dari belakang, Dia membenamkan wajahnya di tengkuk Lily, aroma wangi tubuh dan rambut Lily seperti candu baginya , Devian merasakan detak jantung Lily yang begitu kencang membuatnya tersenyum.
" seandainya Aku ingin kau jadi kekasihku sungguhan apakah Kau mau ?" bisik Devian di telinga Lily yang Secara tidak langsung Devian mengungkapkan perasaannya.
" sudahlah,, jangan di fikirkan. tidurlah." ucap Devian mengecup ujung kepala Lily yang masih dalam pelukannya.
Lily hanya terdiam seribu bahasa. Dia nyaman dengan semua perlakuan Devian, tapi Dia belum sadar perasaan apa yang Dia rasakan saat ini. Karna pada dasarnya Lily belum pernah menjalin hubungan Asmara dengan laki laki manapun.
Malam itu Lily terlelap dalam pelukan Devian,sesaat beban beban yang ada di fikirannya terlupakan, hanya kenyaman yang ia rasakan saat ini.
.
.
.
Tak tak tak......
__ADS_1
terdengar suara langkah sepatu yang melangkah naik. Ruben yang mengetahui kedatangan Amanda di Villa Devian langsung menghampiri Amanda.
" maaf Nona, Tuan muda masih istirahat," ucap Ruben sopan.
" eh Ruben, kamu itu siapa hahh ,,, berani beraninya melarang Aku bertemu Devian." kata Amanda sambil menunjuk nunjuk Ruben.
" maaf Nona ini perintah Tuan muda." tegas Ruben.
" Aku tidak peduli." kata Amanda tetap melangkah menuju kamar Devian. Dia berusaha membuka pintu kamar Devian tetapi tidak bisa karna terkuci dari dalam.
Amanda mengetuk kamar Devian keras keras ...
" Devian..... Devian..... buka gak , Aku mau ketemu sama kamu." teriak Amanda dari balik pintu.
" Maaf Nona, tolong jangan ganggu Tuan muda dan segera keluar dari sini, sebelum saya bersikap kasar dengan Anda." ucap Ruben menahan emosinya.
" berani kamu ngancam saya,,,sudah bosan hidup kamu hah..." teriak Amanda pada Ruben.
Devian yang mendengar ribut ribut dari luar akhirnya beranjak dari ranjangnya, dilihatnya Lily masih tertidur dengan pulas, Devian menyelimutinya lalu melangkah menuju pintu kamarnya.
Devian membuka pintu kamarnya.
" Ada apa kamu pagi pagi sudah ngajak ribut Ruben." tanya Devian pada Amanda .
" Dev,,, akhirnya kamu keluar juga. Aku...." kata kata Amanda terhenti saat Dia melihat ada seorang wanita yang sedang tertidur di ranjang Devian.
" Siapa Dia Dev?" tanya Amanda sambil mengerutkan keningnya.
" Siapa Dia bukan urusanmu. tunggu Aku di bawah , sampaikan urusanmu nanti?" ucap Devian dingin sambil menutup pintu kamarnya kembali .
Amanda terpaku di depan kamar Devian. " siapa wanita itu, tidak mungkin ada wanita yang bisa mendekati Devian." gumam Amanda dalam hatinya sambil melangkah menuruni tangga.
Terimakasih Like dan Komennya Kakak😊🙏
__ADS_1
Selamat Membaca😊