Lampu Kota

Lampu Kota
Lampu Kota


__ADS_3

Dion duduk sendiri di taman kecil tengah kota. Rambutnya sesekali terurai ketika ada kendaraan lewat di jalur cepat di depannya. Dia menatap kosong lurus ke depan, merasakan kenyamanan yang mengerikan: sebuah kesendirian.


Baru kemarin, dia sudah berada di ujung penat hidupnya. Semua perasaan cemas dan kecewa menyatu menutupi semua kebahagiaannya. Dia terlalu lelah untuk melakukan sesuatu yang sama, kerja-pulang-kerja-pulang dan seterusnya.


Ia merasakan kesendirian hingga bulan bersembunyi di atas kepalanya, menunggu kehadiran yang bisa menemaninya kali ini. Tapi dia mulai putus asa, mungkin masa kecilnya terlalu cepat berlalu.


Wajah keriput, dengan jenggot dan kumis tipis berwarna putih yang selalu menemaninya di rumah. Pria lanjut usia yang sekarang sudah berada di surga, kakeknya. Satu-satunya sahabat masa kecilnya. Dion terlahir di keluarga yang super sibuk, sepasang orang tua yang bekerja di dunia bisnis, mau tidak mau, Dion selalu tinggal bersama kakeknya dan satu adik perempuannya yang suka main dengan pembantu.


Dion teringat kata-kata kakeknya, “Kalau kamu takut sendirian, jangan lupa… lampu-lampu itu sedang menemanimu, Nak.”, katanya sambil menunjuk ke arah lampu-lampu jalan di sebrang rumah.


Memang benar, katanya dalam hati. Dia sekarang melihat lampu-lampu yang menerangi jalan walaupun sudah sepi dan sunyi, tapi lampu-lampu itu tidak pernah mengeluh dan asyik dengan lampu-lampu yang lain.

__ADS_1


Dion sekarang membayangkan kakeknya duduk di sebelahnya, dengan tongkat kayu jati kesukaannya, kakek tersenyum menatap Dion yang sedang senyum melihat lampu-lampu di jalanan.


“Jangan lupa… lampu-lampu kecil yang di sekitarnya, mereka juga teman-mu malam ini.”, nadanya yang samar dan hampir tidak nyata, terdengar di pendengaran Dion dan sedikit demi sedikit menghilangkan rasa kesepiannya.


Dion tersenyum lebar, kehangatan menlenyapkan kekhawatirannya malam ini. Dia merasa ditemani kakeknya malam ini.


Masa remajanya harus dijalani tanpa kakeknya yang meninggal dengan tenang di lelapnya. Tidak ada yang lebih hancur hatinya selain Dion dan adik perempuannya. Kakek meninggalkan segudang dongeng dan cerita yang tidak akan pernah bisa dilupakan selama Dion tumbuh hingga kini. Masa-masa singkat bersama sahabat yang akhirnya harus diputus waktu.


Dion mengangguk pelan. Kakek benar, aku pernah melihat anak-anak kecil tidur di jalanan, pria jadi-jadian yang mengemis meminta rupiah, dan orang-orang gila yang merasa dirinya juara. 


Apalagi dia pernah merasakan penghianatan dari teman-temannya sendiri, dan merasa dijauhi walaupun kebenaran berada di tangannya. Semua orang yang pernah dikenalinya, menghancurkan hubungan demi ke-ego-an masing-masing.

__ADS_1


Kota ini benar-benar gelap karena kemunafikan sejuta manusia dan buta akan realitas yang ada. Kecemasan akan kesendirian terlalu merajai kota ini.


“Tapi beruntung, lampu-lampu itu tetap menyala terang untuk mereka yang tidak sadar jika mereka berada di masa kegelapannya. Iya, kan?”, suara kakeknya menjawab batin Dion.


Dion tersenyum.


Beruntung, aku masih punya jiwa dan akal, adik perempuan yang sekarang kuliah di luar negeri tapi tetap sering menghubungiku hanya untuk menanyakan kabar, orang tua yang sudah pensiun dan menyisakan banyak waktu di rumah masa kecil, aku beruntung sekali. 


“Jadi, Dion… bersyukurlah kamu masih hidup di kehidupanmu sekarang, karena milyaran manusia lain menginginkan di posisimu sekarang, kalau mereka tanya ‘siapa temanmu’, kamu tinggal tunjuk lampu-lampu kota itu adalah sahabat dan saksi hidupmu.”, kakek menasehati, bayangannya mulai pudar mengikuti aliran angin.


Lampu-lampu kota… terima kasih telah menjadi saksi kesendirianku, kecemasanku, dan ketakutanku sepanjang waktu. Dion menghela napas, dia mengakhiri kegundahan dan kepenatannya malam ini.

__ADS_1


__ADS_2