
Satu tangkai mawar merah.
Satu batang cokelat manis.
Satu kecupan di dahi, ketika hari valentine.
‘It’s just for the boys and the girls, Dear.’, kataku dalam benak. Aku masih terus menghisap rokok ini, di tengah kasur yang berantakan dengan jendela hotel yang terbuka lebar dan semilir angin malam menari dengan tirai warna abu-abu malam ini. Baju tidurku sudah tak semulus setengah jam yang lalu, rambutku kacau karena dia terus menjambakku ketika kita melakukannya.
Hari ini adalah hari kasih sayang, Valentine’s Day, dan seluruh dunia merayakannya sebagai hari yang penuh dengan cinta, hari yang penuh dengan bunga, dan hari yang penuh dengan cokelat.
Sepuluh tahun yang lalu, aku masih duduk di bangku kelas 3 SMA, dan saat itu, aku pertama kalinya merayakan hari kasih sayang dengan orang yang sangat spesial. Namanya Robert, kupanggil Ubet. Dia adalah salah satu cowok tertampan di sekolah ini, mungkin karena hidungnya yang mancung atau karena badannya yang tinggi, yang jelas, dia memilih aku dari puluhan cewek lainnya di sekolah ini. Sedikit rasa, aku merasa bangga.
Aku meringis.
Hari itu, 14 Februari 2005. Penuh dengan kebahagiaan, penuh dengan bunga, penuh dengan cinta, dan penuh dengan kecupan. Ubet memberiku kecupan pertama di bibir setelah selama ini aku mengidamkannya ketika melihat film-film Hollywood. Bibirnya yang halus dan kumis tipisnya mendarat halus di bibirku yang malu sekaligus merasa takut kalau ini tidak akan berakhir mulus. Ah, akhirnya sepersekian detik lewat, dan setelah itu aku hanya menunduk dan tersenyum malu.
Setelah seharian kami berkeliling mengitari Jakarta yang sibuk mengejar waktu, akhirnya motor bebek ini mendarat di rumah kontrakannya jauh dari pusat kota. Rumah yang cukup untuk 4 orang ini ia tinggali sendiri, hanya ada pembantu dan satpam. Orang tuanya bekerja di luar kota. Dia mengajakku ke dalam kamarnya, aku duduk di kasur, dan sebuah batang cokelat sudah ada di kedua tangannya, dia bersujud seperti melamarku menggunakan batangan cokelat ini. Aku tertawa kemudian tersenyum mengambilnya. Ini cokelat batangan biasa, tapi hari ini Ubet membuat cokelat ini menjadi ‘luar biasa’. Aku terjebak di keindahan hari ini.
Malam itu juga, aku memberikan keperawananku ke dia, mahkota yang kujaga agar tidak tersentuh oleh siapapun, akhirnya disentuh oleh sang pangeran bermata cokelat. Aku benar-benar menikmati keindahan dan rasa yang berjalan semalaman.
“Pangeran Bajingan…”, kataku pelan sambil menghisap rokok ini.
__ADS_1
Dan 15 Februari 2005, Ubet meminta hubungan ini segera berakhir, dan alasannya masih menempel di benakku: “Felicia… dia hamil.”, katanya sambil menunjuk ke arah perempuan berseragam yang tidak asing wajahnya.
Felicia tertunduk dari jauh, berseragam dan wajahnya basah oleh air mata. Aku kenal dengan dia, seorang perempuan yang cerdas dari kelas sebelah. Dia terkenal kokoh akan pendiriannya dan kecerdasannya, tapi yang kulihat sekarang berbeda. Seorang perempuan yang gugur dan jatuh dari kecerdasannya sendiri.
Dia sahabatku sendiri. Aku melihat Ubet, “Felicia?”, aku tahu pembicaraan ini akan mengarah kemana.
Segeralah aku mengakhiri pembicaraan ini dengan tamparan tangan kanan ke wajah Si Pangeran Bajingan itu. Tamparan itu seperti meneriakkan kata-kata kotor yang tidak ingin ku ucap waktu itu, aku berjalan pergi menjauh dari kedua pasangan jahanam itu. Sumpah serapah yang ku ucapkan dan ku teriakkan dalam benak meneteskan air mataku sepanjang jalan pulang. Aku tidak lagi kenal dengan siapa diriku sekarang.
Setelah itu, mereka menikah setelah lulus sekolah.
“And they’re happily ever after…”, nadaku seperti membaca akhir cerita di setiap dongeng, rokok ini masih sisa setengah.
Mereka bahagia. Aku merana.
Hidupku?
Hidupku sudah hancur karena bayang-bayang suram masa depanku, orang tuaku meninggal karena kecelakaan setahun setelah aku lulus sekolah, aku hanya memiliki satu kakak perempuan yang memutuskan untuk jadi TKW di Malaysia, dan setelah itu tidak ada kabar lagi darinya setelah setahun orang tua kami meninggal.
Aku hidup di kesendirian, dan hampir mengakhiri hidupku saat itu yang masih muda. Tapi, seseorang mengulurkan tangannya, dan memberiku jalan ke hidupku yang selanjutnya. Sebuah proses pendewasaan.
Salah satu pekerjaan yang menyelamatkan hidupku saat ini adalah ‘Pelacur’. Pekerjaan yang dipandang hina oleh banyak orang, dan pekerjaan yang paling dibenci oleh banyak tetanggaku. Tapi hanya ini satu-satunya napas yang tetap membuatku hidup dan makan di bumi ini.
__ADS_1
Aku terjerumus ke dunia gelap ini, dari jalanan hingga booking-an pejabat. Banyak pejabat yang menyerukan melarang PSK sepertiku ini berkeliaran, pernah tidur denganku, dan dia menikmati setiap sentuhan yang telah kuberikan selama kami melakukannya.
“Munafik keparat.”, ini adalah hisapan rokokku.
Bayangkan sudah dimana hidupku sekarang jika aku tidak menjadi pelacur dari dulu, mungkin aku sudah hanyut di sungai dengan bunga mawar dan bungkus cokelat yang bertaburan di Hari Valentine itu.
Pak Toriq keluar dari kamar mandi. Dia sudah rapi dengan setelan jas dan dasi. Dia tersenyum padaku. Sebenarnya, kerutan wajahnya membuatku mual. Tapi apa boleh buat?
“Happy Valentine’s Day, Sayang.”, katanya tersenyum
Aku tersenyum.
Tidak ada lagi hari kasih sayang bagiku, seribu bunga mawar pun sekarang tak ada artinya, dan sebongkah cokelat batangan mahal sekarang sudah hilang rasa di lidahku. Kecupan di dahi yang dulu romantis, sekarang tidak berarti apa-apa lagi bagiku.
Pak Toriq datang kehadapanku, mencium bibirku.
Ciuman ini tidak punya rasa lagi, hati ini tidak lagi memiliki cinta, cinta hanya auman singa yang tak lagi memiliki gigi taring.
Pak Toriq melemparkan sekepal uang ratusan ribu kekasur. “Sampai ketemu lagi.”, katanya sambil berjalan keluar dari kamar ini.
Inilah Hari Valentine untukku, untuk para pelacur sepertiku. Karena aku dibayar untuk menciptakan hari-hari mereka menjadi bergairah. Hari-hari mereka menjadi penuh dengan cinta.
__ADS_1
“Happy Valentine’s Day…”, kataku pelan.