Lampu Kota

Lampu Kota
Jaring Laba-Laba


__ADS_3

Ini tak kunjung berhenti.


Waktu sengaja memainkan takdir yang kini berubah menjadi teka-teki. Jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan yang kian membesar, takkan didapat walau sandi kehidupan diretas. Lebih baik mana, mati atau merintih?


Kekosongan dalam pikiran muncul tak kenal jadwal, kadang di tengah-tengah rapat aku bisa menatap kertas tanpa memikirkan apapun, melihat bayangan bukan tulisan yang ada di tanganku. Aku merasakan lamunan ini sedikit demi sedikit merenggut realitas yang ada.


Selama ini aku selalu dipuji oleh banyak teman dan keluarga, tentang ‘berapa beruntungnya’ saya mendapatkan pekerjaan ini.


‘Pekerjaan yang cocok’, kata mereka. Menurutku, ini pekerjaan yang sangat ‘terpaksa’, menjadi seorang manajer di perusahaan iklan, dan berhadapan dengan manusia-manusia ceria yang nafsu dengan naik jabatan.


“Bos... jadi, gimana?”, kata Mamet menyadarkan lamunanku.


Si gendut ini baru saja mempresentasikan idenya di ruang rapat. Klien perusahaan makanan ingi perusahaan iklan kita untuk membuat ide iklan yang nantinya akan ditayangkan di televisi. Tapi, Mamet si Gendut benar-benar ngawur. Dia punya ide kalau iklannya hanya berisi satu wanita seksi yang memakan produk makanan dan berakting seksi sambil menggoda pemirsa untuk membeli produknya.


Aku melempar kertas di tanganku ke tengah meja.


“Met, kita ini bakal jual snack yang nantinya bakal dimakan sama anak-anak juga. Lo pikir ***** mereka bisa berdiri kalau nge-liat ide iklan buatan lo? Ngaco nih, ngaco.”, kataku berintonasi agak tinggi. Aku melihat Julia di sudut meja menahan tawa di tengah suasana yang tegang. “Eh, Jul. Lo buat idenya, gue tunggu besok malem. Rapat bubar.”


Rapat itu diakhiri dengan wajah kaget Julia, dan wajah melas Mamet.


Aku berjalan keluar ruangan, hal semacam ini sudah sering terjadi, aku tidak hanya keluar ruangan, tapi aku mulai berjalan ke luar gedung ini. Aku ingin sekali berjalan, tanpa tujuan hingga nanti aku sadar kalau itu ide yang bodoh.


Gedung tempatku bekerja berada di area elit perkantoran di tengah Jakarta, setelah aku keluar, aku disambut dengan macetnya suasana sore di Jakarta. Aku berjalan ke arah matahari mulai tenggelam.


Langkah kakiku yang panjang lebih cepat daripada sepeda-sepeda motor yang berjalan seperti kura-kura. Tidak lama, aku melewati pedagang penjual minuman segar yang dikerubuti oleh mereka yang juga berdasi. Ada obrolan petang di sekitarnya, dan bau rokok yang bercampur dengan bau asap knalpot tak berkabut.


Aku melihat mereka sebagai manusia yang terperangkap, sepertiku. Mau tidak mau, suka tidak suka, bekerja adalah perangkap mutlak di kehidupan. Mereka mencari sekutu untuk diajak bicara, yang berakhir dengan bercinta. Melakukan hal yang sama, berputar dan berputar.


Berkumpul di satu titik yang punya tempat nyaman dan ada makanan, seperti di bawah pohon itu. Mereka rela menghabiskan waktu untuk mencari sekutu, di pinggir mereka yang sedang mengejar waktu. Tujuan yang bertolak belakang yang berada tak jauh sama lain.


Lalu, aku melewati sebuah kafe yang sudah penuh dengan para penghasil asap di atas, dan warnet dadakan di lantai bawah. Sebuah tempat yang kuhindari selama aku kuliah dulu. Menurutku, tidak ada gunannya mengerjakkan sesuatu di sana, tidak ada yang tenang, karena tidak semua orang punya tujuan yang sama.

__ADS_1


Aku cukup kaku jika diajak kompromi soal tempat mengerjakan tugas. Jika aku tidak cocok, lebih baik aku mengatakannya, daripada memendamnya.


Teman-teman yang ku kira akan awet, ternyata tidak beda dengan lainnya. Mengatai di belakangku dengan kata ‘licik’, padahal aku tidak melakukan apapun. Lebih baik aku meninggalkan orang-orang munafik daripada harus tetap berteman dan saling menjelekkan di belakang.


Ah, kenapa aku tiba-tiba nostalgia?


Kedua kakiku sudah mulai lemas, aku berhenti, melihat kanan-kiri. Sepertinya aku sudah sangat jauh dari kantor. Sekitar 20 menit lagi, kantor akan sepi. Aku melihat ke depan, dan aku memutuskan untuk berjalan kembali ke kantor.


Sekarang mata-mata yang tadi tidak memerdulikan, menatapku seakan ingin bertanya tentang keadaanku. ‘Apa orang ini baik-baik saja?’


Aku sudah biasa dengan keadaan seperti ini, canggung dan berjalan di tengah hal yang paling tidak ku sukai: dilihat banyak tatapan tanya. Dengan acuhnya, aku berjalan hingga melihat siluet gedungku yang disinari sedikit cahaya matahari sore ini.


Di tengah perjalananku, aku hanya menganggap mereka sebagai semut yang tidak mengerti laba-laba. Karena laba-laba hanya berjalan di tengah jaringnya yang sudah melekat di satu sudut, jika sudah usang dan bobrok, maka laba-laba itu akan mencari tempat nyaman yang baru.


Sama sepertiku, aku berada di area nyamanku, dan bergerak seolah ini adalah tempat yang baru dan tidak memerdulikan pikiran orang lain terhadapku. Apakah aku terjebak di zona nyaman ini untuk selamanya? Maksudku, bekerja di tempat yang sama, beraktifitas di tempat yang sama, berinteraksi dengan orang-orang yang kutemui seminggu lima kali. Sepertinya tidak. Mungkin suatu hari, aku akan pindah. Jika jaring ini sudah rusak.


Julia berada di depan kantor, membawa tas kecil dan tumpukkan kertas di tangannya. Dia melihatku dari kejauhan, dan melepas senyum kecil untuk menyapaku. Aku tidak membalas senyumnya, senyum sia-sia yang penuh dengan maksud.


“Halo.”, aku berhenti di sebelahnya. “Gimana, idenya udah ada?”


Dia menggeleng dengan senyum kecut, “Belum, Pak. Besok ya.”


Aku melihat sekitar, “Nungguin siapa? Pacar”, pertanyaan basa-basi, setidaknya aku menyempatkan ngobrol dengan karyawanku.


Dia menggeleng lagi, “Ojek, Pak.”


“Oh...”, aku mulai mengangkat kakiku untuk melangkah masuk.


“Pak...”, nada Julia pelan, dia menunda rencanaku untuk segera masuk dan mengakhiri perbincangan.


“Ya?”

__ADS_1


Genggaman di tumpukan dokumen di dadanya terlihat sedikit mengeras, “Pak, mungkin saya belum begitu pengalaman bekerja di bidang advertising, apalagi membuat ide untuk iklan, dan bapak sudah tau kalau saya baru kerja di sini hanya tiga bulan, apalagi saya ini cuma lulusan...”


“Jul. Langsung aja. To the point”, aku menyela omong kosongnya barusan.


“Gimana biar ide saya besok bisa bagus dan diterima sama klien?”, tanya Julia. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang banyak orang tanyakan saat mereka sedang terpojok dan buntu akan ide-ide baru. Terakhir kali, aku tidak menjawab pertanyaan ini dari salah satu pegawaiku dan berakhir dengan dia mencontek ide dari iklan luar, aku memecatnya setelah dia presentasi.


Aku menyilangkan tanganku, “Hm... gimana ya.”


Wajah Julia tegang saat aku menyilangkan tangan. Mungkin dia berpikir kalau aku akan memecatnya seperti temannya beberapa bulan lalu.


“Waktu kamu datang ke tempat kerja, kamu akan pakai pakaian atau setelan yang rapi, ya kan?”


Dia mengangguk.


“Pasti, yang kamu pikirkan adalah ‘wah ini cocok buat ke kantor’, nah sama dengan ide atau rencana yang bakal kamu buat. Setelan yang kamu pakai itu adalah ide iklan, dan kantor adalah publik, tubuh kamu hanya klien yang pengin terlihat pantas di dalam setelan yang kamu pakai. Yang penting ‘appropriate’ alias pantas. Jangan lupa tentang embel-embel keseruan dan kebahagiaan.”, jelasku yang semakin membuat wajahnya melongo.


Dia mengangguk, sama seperti sebelumnya.


“Ok then... bye?”, aku mengakhiri perbincangan singkat itu.


Mengingat manusia-manusia seperti Julia, Mamet, dan lain-lainnya. Aku jadi semakin putus asa untuk tetap melanjutkan pekerjaan ini. Dengan hal sesederhana sepert itu, mereka malah berimajinasi liar kemana-mana yang menghasilkan hasil cabul seperti ide Mamet.


Aku duduk di kursi di ruanganku, melihat secarik kertas kosong di depanku.


Mungkin ini saatnya aku mengakhiri jaring laba-labaku, bukan hanya karena memiliki bawahan yang tidak becus, tapi sisi lain di hatiku menyuruhku untuk melakukannya. Aku mulai menulis pengunduran diriku di secarik kertas itu, yang nantinya akan diketik lewat komputer, aku hanya ingin memastikan aku benar-benar yakin sebelum aku mengetiknya nanti.


Dan yap, aku benar-benar yakin. Aku ingin keluar dari jaring laba-laba ini, dan mencari tempat nyaman lainnya untuk ku jadikan sarangku kelak. Biarkan nanti teman atau orang tuaku berteriak karena sayang dengan pekerjaanku ini. Persetan mereka semua.


Aku ingin nyaman di tempat yang baru.


Aku tidak ingin terjebak di jaring yang sama, aku ingin hidup bebas tanpa ada peraturan dan sanksi di sekitarku. Yang paling penting, aku ingin menemukan jati diriku yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2