Lampu Kota

Lampu Kota
Munafik


__ADS_3

Suara sendu hujan mengiringi tapak kakiku yang begitu yakin menghantam tanah, tas hitam yang ku pegang tak berdaya menahan air untuk menyentuh wajah dan kepalaku. Mereka berdatangan, beribu menyerang tanpa menyakiti, hanya membasahi.


Ku terobos hujan ini tanpa bantuan kain atau plastik apapun. Aku tidak takut.


Jalan ini seketika tampak sepi saat aku berjalan.


Tak pernah kulihat jalan se-sepi ini sebelumnya, mereka bersembunyi, tak punya nyali untuk bertahan diri dibawah serangan hujan ini.


Aku sendiri, berjalan dengan tegar tanpa malu untuk dilihat ratusan mata yang sedang memandangiku dibawah atap. Mereka mungkin mengiraku orang gila atau orang bodoh, tapi lebih bodoh mana aku atau mereka yang takut akan air?


Aku hidup di kota yang tidak pernah tidur, kehidupan berjalan dan berlari dari pagi hingga pagi. Aku hanya salah satu dari sekian ratusan juta penduduk kota ini. Sekian ratus juta yang tidak mau terlihat bodoh di hadapan orang lain, tidak mau terlihat jelek di hadapan orang lain. Apakah aku sama dengan mereka? Apakah aku ini hanya salinan dari mereka?


Mereka yang berteriak ‘TIDAK TAKUUUUT!’ tapi ketika hujan turun mereka akan berteduh dan berbisik, “takut basah…”.


Mereka yang berteriak, “Anak kecil tidak boleh merokok!”, tapi mereka sedang menikmati asap cukai yang menari di paru-paru mereka.


Mereka yang berteriak, “Jangan merusak alam!”, tapi mereka sedang duduk di bangku kayu yang membunuh seribu pohon untuk membuat sebuah kursi.


Dunia apa ini?


Hari ini adalah hari perlawananku untuk dunia seperti ini, untuk keadaan seperti ini. Aku tidak betah hidup di antara dua sisi kehidupan, aku tidak ingin berjalan di jalur yang berbeda.


Beberapa detik yang lalu aku resmi menjadi pengangguran, aku sudah tidak mau bekerja dengan ular berkepala dua. Aku tidak hanya berbicara atasan, aku berbicara ke SEMUANYA. Bahkan teman sekantorku pun, memiliki dua wajah dan dua kehidupan yang berbeda. Terlalu banyak wajah yang tak seharusnya muncul di kantor.

__ADS_1


Bawahan akan selalu senyum di depan atasan. Padahal mereka sedang berbisik menyumpah serapah atasan mereka di belakang pantry.


Aku pun juga sudah muak dengan teman kantorku yang selalu lupa dengan pinjaman alat tulis, aku memasang wajah ‘Oh, nggak apa-apa kok santai aja’, padahal di dalam hati berkata: ‘Anjing! Kamu kira itu murah!?’


Beberapa menit yang lalu, aku datang ke ruangan bos-ku.


Aku menggebrak mejanya.


Dia kaget, aku tidak.


Aku berteriak kencang di mukanya. Teriakanku terdengar dari luar ruangan.


Aku meneriakan kekesalanku, kebanggaanku, kesetiaanku, ketidaksetiaanku, kebodohanku, kemarahanku, kebaikanku, dan semuanya yang pernah ku berikan kepadanya.


Setelah itu aku keluar dari ruangan, dan seluruh wajah dan mata menusukku dengan pertanyaan tanpa suara, “Apa yang sudah terjadi?”


Aku tidak peduli.


Aku akan pergi.


Dari kota yang penuh wajah seperti ini.


Aku sudah tidak betah hidup seperti ini.

__ADS_1


Biarkan aku pergi ke utopia.


Biarkan aku mandi dengan air hujan ini.


Biarkan aku membasuh suci diriku dari air alam ini.


Aku ingin menjadi orang baru.


Aku ingin menjadi orang yang lebih baik.


Mulai hari ini,


Mulai detik ini,


Aku bukan orang hipokrit,


Aku bukan orang munafik.


 


 


(versi revisi diambil dari kumpulan cerpen 'Yang Sedang Bermain')

__ADS_1


__ADS_2