
Pukulan drum dan suara gitar elektrik yang melengking terdengar dari kejauhan. Suara-suara motor yang lewat tepat di sebelah lapangan tidak mengganggu pendengaran Indra yang memilih melihat konser band favoritnya tampil di tengah kota.
Semuanya berteriak, semuanya berlompat-lompatan.
Indra hanya melihat dari jauh, duduk di kursi rodanya dan tersenyum lebar bahagia melihat penonton bersemangat.
Dia berandai, mungkin kalau dia bisa jalan, dia akan berlari dan menuju ke depan panggung untuk ikut lompat dan berteriak menyanyikan lagu-lagu mereka. Tapi, dia tersadar kalau itu hanya impian yang tidak akan pernah terjadi.
Dua tahun lalu, dia mengalami kecelakaan yang membuat tulang punggung belakangnya rusak dan menyebabkan kelumpuhan dari pangkal pinggang hingga ujung kaki. Dan dua tahunan ini, buminya adalah kursi roda, dan kakinya adalah ayunan tangannya.
Konser itu diadakan di tengah kota, di lingkungan komplek apartemen mewah. Indra hanya bisa melihat dari balkon, walaupun samar-samar, sedikit demi sedikit dia bisa mendengar teriakan dan lagu yang dinyanyikan penyanyinya.
Tiga tahun lalu, Indra berumur 17 tahun. Setelah lulus SMA, dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia, sekaligus, dia mendapatkan wanita impiannya: Hana.
Sudah sejak masuk SMA, Indra selalu memimpikan Hana untuk menjadi kekasihnya, tapi baru lulus SMA dia berani menyatakan perasaannya di tengah keramaian sekolah saat menyambut perayaan lulusan SMA.
__ADS_1
Indra dan Hana membuat janji kelingking.
“Kita nggak akan pernah pisah, dan sama-sama terus, ya? Janji?”, kata Indra.
Hana mengangguk dengan senyum manisnya.
Mereka saling peluk. Merayakan kebahagiaan yang terasa tidak ada akhirnya. Saat itu adalah saat-saat terbahagia dalam hidupnya. Hingga hari terakhirnya merasakan kebahagiaan itu selesai, dan berganti dengan hari-hari kesengsaraannya.
Mereka berdua sudah pacaran lebih dari satu tahun, dan Indra merasakan ekspresi dan sentuhan Hana tidak setulus seperti awal-awal mereka berpacaran. Indra merasakan genggaman tangan Hana tidak sekencang biasanya, tapi Indra menolak semua pikiran-pikiran buruknya.
Hari-hari sengsaranya dimulai, dia menabrak truk besar yang sedang berhenti dan merusak rusuk tulang belakangnya dan menciderai leher dan dadanya. Ia sempat koma untuk beberapa minggu dan saat dia membuka mata, dia tidak bisa menggerakan kedua kakinya dan dia tidak bisa berbicara.
Mamanya mengelus kepalanya yang penuh dengan selang-selang di tubuhnya, sambil meneteskan air mata, ia mengatakan:
“Yang sabar ya, Nak…”, dari kata-kata itu dia mengerti kalau sekarang dirinya sudah lumpuh dan bisu.
__ADS_1
Hari demi hari dia lewati dengan tekanan dan kecemasan yang tidak berakhir, rasanya dia ingin mati saja dan memulai semuanya seperti semula. Berbulan-bulan Indra deperesi karena kondisinya yang tidak mampu untuk berjalan-jalan seperti dulu.
Untungnya, keluarga yang ada di sekelilingnya memberi semangat dan kebahagiaan yang luar biasa. Walaupun mereka tahu, dokter memprediksi umurnya tidak akan lebih dari empat tahun karena kondisinya yang semakin hari semakin memburuk.
Saat ini, dia berada di ruang apartemen yang dilengkapi dengan peralatan canggih dari rumah sakit terdekat, dan setiap harinya dia hanya bisa menulis dan menggambar keresahannya. Jika dia merasa bahagia, dia akan menggambar dengan tenang, tapi jika suasana hatinya sedang kacau, dia akan melampiaskannya melalui coret-coretan abstrak di kertasnya.
Tapi inderanya tidak akan pernah salah, dia tahu dia akan dipanggil tuhan dalam waktu dekat, dan dia sudah bisa merasakan tubuhnya yang melemas dan lesu, tapi dia memanfaatkan ini dengan mengisi kebahagiaannya melalui ingatan-ingatan indahnya.
Hanya Indra yang bisa mengerti ekspresi orang-orang di dekatnya yang kebanyakan adalah rasa kasihan akan keadaannya sekarang, tapi dalam pikiran terdalamnya dia merasakan: inilah takdir hidupnya.
Lampu-lampu konser itu sudah mulai meredup, seorang suster menarik kursi rodanya dan berkata,
“Waktunya tidur… Indra.”
Indra tersenyum, dan berharap dia bisa membuka matanya esok hari.
__ADS_1