
Laut.
Mungkin buat mereka yang tahu apa itu ‘laut’ akan mengartikan laut sebagai air asin di pantai atau lapangan air yang luas dan jalan bagi para kapal untuk bisa pindah dari satu pulau ke pulau yang lainnya.
Tapi yang sebenarnya, kata ‘laut’ memiliki arti yang lebih dalam.
Bagiku, dan kebanyakan orang Jawa lainnya, itu berarti ‘pulang’, atau rumah bagi semua manusia untuk bisa bangun dan hidup keesokan harinya. Dan itu alasannya, aku sudah merelakan rohmu pulang ke tempat ia berasal.
Aku pikir kamu masih orang yang sama seperti dulu, dan nyatanya waktu sudah mengubah semuanya. Dan kita sama-sama menyadari, kalau hidup ini sempit dan sebentar.
Sudah aku bilang, jangan berhenti karena kecewa, tapi bukan berarti kamu terlalu semangat untuk mencari bahagia. Ini akhirnya, kamu mati karena kebodohanmu sendiri, dan saat ini aku hanya bisa mengenangmu dari memoriku saja.
Kita berakhir tanpa ada dendam, hubungan sakral yang kami rusak dengan kebejatan masing-masing. Selingkuh, alkohol, dan sabu-sabu.
__ADS_1
Yang paling bersedih mungkin bukan aku, tapi mereka yang memaksa kita untuk bersama, memaksa kita untuk melakukan ritual sakral yang menjadi tontonan banyak orang. Ritual sakral yang bagi kami berdua hanya omong kosong dan keangkuhan keluarga.
Menganggap ini adalah takdir, ini adalah jalan untuk mengoreksi satu sama lain, dan jalan untuk mencari cinta. Bullshit. Lima tahun bukan waktu yang singkat untuk merasakan penderitaan satu sama lain. Aku sama sekali, dan tidak percaya tentang istilah ‘tresno jalaran soko kulino’ atau ‘cinta ada karena kebiasaan’. Kebiasaan kami hanya menghujat dan saling jujur satu sama lain.
Itulah sebabnya, setelah menikah pun kami tidak pernah membuka hati, karena prinsip kita sudah tinggi setinggi tembok berbeton tebal. Kita sama-sama angkuh, dan memaki pernikahan itu.
Satu tahun pertama adalah hal paling sulit untuk tersenyum di depan mereka (para orang tua) dan mengatakan ‘kami baik-baik saja’, lalu gempuran senjata pertanyaan: ‘kapan punya momongan?’ atau ‘kapan cucunya lahir?’
Kematianmu membawa tangis banyak orang, tapi bukan denganku. Aku tidak menangisi keputusan terbaik yang kita buat. Kita tidak terhubung satu sama lain, malah aku membenci keluargaku daripada keluargamu. Tapi mereka menangis miris melihat jasadmu mulai diturunkan ke liang lahat.
Baru kemarin mayatmu dikubur, dan terakhir kali aku lihat wajah di jasadmu, kamu tersenyum. Bahagia sekali. Wanita yang bersamamu ketika kecelakaan menangis histeris daripada aku (istrimu secara teknis) di rumah duka. Dia cinta sejatimu, bukan aku. Dia adalah rumahmu. Dia adalah tempat terakhirmu untuk pulang. Dia adalah lautmu.
Tangisan histerisnya mengalahkan keheningan ruang mayat di rumah sakit. Perban-perban yang ada di tangan dan kepalanya ikut bergetar setelah melihat jasadmu. Aku memeganginya untuk tidak terjatuh dan membuat luka-lukanya semakin parah.
__ADS_1
Dia menatapku dengan wajahnya yang basah penuh dengan tangisan, “Mbak… maafkan dia, maafkan aku.”
Aku memotongnya, “Ssh… tidak ada yang salah.”
“Tapi mbak…”
“Bersyukurlah, dia menemukan cinta sejatinya di keadaan sempit dan beresiko.”, kataku dengan penuh arti, “Aku yang meminta maaf, atas kehilanganmu. Biarkan dia tenang, biarkan dia pulang.”
Pembicaraan itu tetap ku ingat selama ini, dan dia tidak pernah lagi muncul di kehidupanku. Aku merasa kasihan dengan mereka, begitu juga dengan kehidupan kita, tapi semua yang terjadi, tidak tanpa alasan.
Yang paling penting, kamu (suamiku secara teknis), sudah nyaman dengannya, memeluk hangat, dan memberinya cinta setiap hari. Ini adalah waktu yang tepat untuk kamu pulang di laut-mu yang luas dan memulai kehidupan kekal yang sebenarnya. Kamu sudah laut. Kamu sudah pulang. Pulang dengan bahagia. Dan cinta.
Selamat tinggal. Selamat jalan.
__ADS_1