
Ada sebagian orang yang tidak percaya dengan Tuhan. Kepercayaan yang sudah ada beribu-ribu tahun yang lalu. Lalu, sisanya akan memburu dan memaksa mereka yang dianggap ‘jauh dari pencipta’, untuk segera percaya dan pasrah dalam keterpaksaan yang tak nyaman. Tapi para pemaksa tidak akan pernah mau dipanggil ‘pemaksa’, walaupun secara makna dan harifah, mereka cocok di penjelasan definisi pemaksa.
Ada sebagian orang yang menganggap wanita harus tunduk ke pria.
Tanpa sadar, di sekelilingnya banyak wanita mandiri yang berjuang untuk mematahkan asumsi umum yang telah usang dan kuno, termasuk ibu mereka sendiri. Dan bagi mereka yang masih percaya, kedua tangan mereka sendiri yang membutakan kedua matanya, menolak untuk menerima keadaan sekitar dan berteguh pada gambaran-gambaran masa lampau.
Selalu ada lawan di balik ketenangan. Dunia takkan pernah habis dengan yang namanya pertentangan. Dari hal yang paling spele, hingga hal yang menyangkut kehidupan seluruh manusia di bumi. Planet ketiga yang mengitari matahari. Dan berbentuk bulat, bukan datar (tapi banyak manusia yang masih percaya bumi ini datar, duh).
Kata mereka, ‘beda ibu, beda perlakuan.’, kenyataannya kita diajarkan hal yang sama di sekolah atau di rumah. Tidak ada ibu yang mengajarkan anaknya untuk memakai narkoba ketika pulang sekolah, mereka pasti diajarkan yang baik-baik. Walaupun berbeda cara, namun intisari pesannya masih sama: melakukan kebaikan.
Jujur, aku tidak tahu namanya. Tapi siapapun yang mampir ke warungnya akan memanggilnya Bu Sri. Wanita tua yang senyum setiap ada pelanggan datang, dan manggut rela ketika ada yang hutang atau uangnya kurang.
Dari hari ke hari, warungnya punya pelanggan yang aneh-aneh, dari pria yang tidak bisa berbahasa Indonesia hingga pria bersorban yang merasa negeri ini adalah timur tengah. Tapi, Bu Sri memerlakukan mereka semua dengan cara yang sama, tidak ada yang spesial baginya, tidak ada yang membuat dia berlari ke belakang ketakutan.
Satu kopi hitam.
Atau satu gelas es teh.
__ADS_1
Tambah gorengan, atau makan dua porsi mie instan.
Hingga hari ini, aku masih melihatnya sebagai panutanku untuk bersikap sama dan ramah ke semua orang yang ku temui. Dari yang level dewa, hingga kelas paling bawah. Pada dasarnya, mereka semua sama: manusia.
Televisi kubus kecil selalu menemaninya, dan tidak satu kali pun aku dengar dan melihat Bu Sri melihat berita gosip atau berita berat. Aku ingat kata-katanya waktu itu, “Mending ibu liat acara komedi bodoh daripada liat berita. Sama sekali nggak bikin hati adem.”
Dia pernah bilang, “Apa yang ada di dalam tivi, dan di sini, sama sekali nggak sama, jadi ibu nggak tertarik liat berita, kadang suka nggak bener…”
Dan waktu kutanya bagaimana dia bisa update berita terbaru, dia berkata, “Baca koran, baca buku, dan… tunggu kabar dari anak atau tetangga. Gampang, kan?”
Bu Sri sama sekali bukan sosok yang berpenampilan mewah atau masa kini, daster warna ungunya hari ini adalah salah satu favoritnya, beberapa motif bunga melati dan tulip menghiasi daster ini menjadi gaun seorang Bu Sri, tapi dia tetap bersih dan wangi. Tidak heran warung ini tetap bersih dan rapi.
Dia memiliki dua orang anak, satunya meninggal karena penyakit kanker otak ketika masih remaja, dan dia bekerja tidak kenal waktu, seorang wanita berumur yang selalu ingin bekerja dan bekerja. Suaminya? meninggal karena kecelakaan motor ketika anak keduanya baru lahir.
Bukankah ini sudah memecahkan anggapan kuno? Tentang wanita tidak harus bekerja? Aku salut dengan Bu Sri. Sungguh, ternyata aku tidak harus jauh-jauh ke luar negeri untuk merasakan dan melihat seorang wanita mandiri yang berusaha hidup di medan perjuangan ibu kota.
Mari berdimensi, anggap saja ini hanya khayalan semata.
__ADS_1
Bagaimana jika wanita tidak ‘boleh’ bekerja, karena tuntutan sosial dan keluarga? Warung ini tidak akan pernah ada, termasuk warung pinggir jalan, di pasar, dan semua warung yang penjualnya wanita. Dan segala suster wanita akan tergantikan dengan suster pria dan dokter pria.
Dimensi lain, anggapan wanita harus tunduk dengan pria.
Itu berarti banyak istri yang akan lepas tangan tentang sekolah sang anak, dan menjadi babu di rumahnya sendiri, bahkan diperintah oleh anak lelakinya sendiri.
Dimensi yang lain, anggapan kalau bumi ini hanya punya satu keyakinan.
Itu berarti kita tidak akan pernah belajar untuk bertoleransi dan membuka diri, dan semuanya akan memiliki kebiasaan seragam, seperti robot.
Dimensi-dimensi itu sama sekali tidak asik. Dan aku tidak akan pernah mau untuk tinggal dan hidup di dimensi-dimensi itu. Aku lebih suka di sini, warung kecil milik Bu Sri.
Terima kasih untuk Bu Sri, aku belajar banyak dari dia. Semoga dia bisa menemaniku hingga akhir hayatnya, melihatnya tersenyum setiap hari, dan memelukku bangga saat aku lulus di hari wisudaku nanti. Seorang ibu yang menjadi panutanku, ibu yang melahirkanku, dan aku bangga memiliki ibu seperti dia.
Terima kasih, Bu Sri.
Ibuku yang tercinta.
__ADS_1