
Banyak orang bilang kalau jodoh sudah diatur sama Tuhan, tapi penantian yang panjang ini belum juga bertemu dengan jodoh yang ‘katanya’ sudah ada yang atur.
Hidup di tengah orang-orang yang mendambakan nikah muda itu tidak mudah, karena setiap hari angan-angan mereka menjadi-jadi. Aku sendiri tidak betah, apalagi orang tua yang sudah mendesak ku untuk segera menikah.
Orang tuaku mungkin iri dengan si Anna yang sudah menikah di umur 20 tahunnya, dan Anna beda 8 tahun denganku. Sebagai sesama wanita, aku tidak rela. Tapi melihat realita, aku harus taba.
“Sudah, Nduk. Jangan sampai kamu jadi perawan tua.”, kata ibu yang menyelipkan nasihatnya di tengah-tengah suasana nonton drama Korea di TV. Bahkan, di Korea sendiri (tentu yang aku lihat dari drama-drama ini), rata-rata umur menikah mereka adalah 30 tahun ke atas, dan sudah dianggap wajar untuk menikah di umur segitu.
Tapi beda lagi di Indonesia, apalagi di pulau Jawa. Tuntutan untuk menikah muda adalah mutlak berserta alasan-alasan yang di-‘logis-logis’-kan, menghindari zinah-lah, biar mandiri-lah, biar ini itu-lah. Aneh.
Alasan-alasan itu tidak masuk akal untukku. Aku sebagai wanita benar-benar terinjak harga diriku kalau alasan-alasan itu adalah senjata untuk menikah. Karena, aku sudah melihat sendiri kehidupan ini, dan alasan-alasan itu hanya debu di atas kaca yang akan hilang jika kena air.
‘Menikah untuk menghindari zinah?’, omong kosong.
Aku punya 7 teman wanita yang menikah karena hamil sebelum akad, seperti kebobolan sebelum wasit meniup peluit. Kasihan mereka, bagi mereka (waktu itu) kondom adalah hal yang haram dan tabu digunakan. Well... melihat hasilnya, lebih baik mereka menggunakan kondom, ‘kan?
Ada lagi 3 teman priaku yang menikah karena ingin merasakan suasana pernikahan. Kalau yang satu ini, aku lebih kasihan ke istri mereka yang digunakan sebagai kelinci percobaan mereka. Karena bagiku, menikah bukan hal ‘coba-coba’ dan bukan permainan yang dengan mudahnya akan kamu akhiri. Ini sakral, penting, dan bukan main-main.
“Kalau kamu nikah... pasti anak kamu cakep deh, Dir.”, kata bapak yang sibuk dengan hp-nya.
“Eh iya tuh, pasti kayak mereka...”, sahut ibu sambil menunjuk-nunjuk aktor dan aktris korea di TV.
“Hm...”, jawabku sambil tetap ingin fokus ke drama itu.
Sekali lagi, aku terjebak di situasi ‘cepat nikah’ di ruang tamu. Suasana ini bakal canggung kalau aku jawab serius, dan orang tuaku akan cukup kolot jika mendengar alasanku untuk tidak menikah.
Selain belum ada niat, semua pacar yang aku ajak ke rumah akan tidak betah kalau orang tua-ku ikut nimbrung dan menginterogasinya. Beberapa dari mereka lebih baik putus daripada punya mertua yang memaksa untuk segera menikah.
__ADS_1
Panggil saja dia ‘Jon’, (mantan) pacar yang beberapa bulan lalu aku bawa ke rumah. Dia adalah salah satu pria yang pernah kubawa ke sini. Dan dia adalah toplist pacar yang aku dambakan untuk bisa jadi suamiku nanti, ah... andai saja dia tidak pergi karena orang tuaku. Bekerja di bidang fotografi profesional membuat gayanya dan pola pikirnya jadi keren dan dewasa. Kita berpacaran selama 4 bulan, kita bertemu di salah satu event yang kantorku buat.
Setelah beberapa menit ngobrol di teras depan, ibuku memberi tanda untuk segera masuk dan bicara empat mata. Dengan sedikit mencengkram pergelanganku, dia membawaku ke kamar terdekat.
“Apa-an sih, Bu...”, aku melepaskan tangannya.
“Gila... dia fotografer...”, kata ibu sambil memegang kedua pipinya, tapi matanya terlihat kaget dan tidak senang.
“Ya, terus?”
“Nanti kalau kamu nikah sama dia, kamu mau makan apa?”, ibu mulai menceramai.
Here we go again, kataku dalam hati.
“Mau makan foto-foto yang dia buat, lagian... gayanya enggak sopan, masa dia pakai jaket kulit ke sini. Kalau kamu punya anak, mau kamu kasih makan apa dia, Dira...”, katanya sambil menekan intonasinya untuk tidak terdengar dari luar.
Inilah yang membuatku minder setiap kali dekat dengan pria. Kadang keluarga yang seharusnya mendukung, malah ikut menentukkan takdir hidupku. Itu bukan hal yang benar.
Aku sedikit melirik ke foto-foto keluarga yang dijejer rapi di meja dekat ruang tamu. Aku melihat betapa bahagianya wajah ibu waktu berfoto mengenakan setelan wisuda dan toga-nya. Bahkan, wanita seberpendidikan ibu pun akan luluh dengan aturan tua yang mengharuskan dia mengakhiri mimpinya dan mengabdi pada sebuah keluarga.
Melihat sejarah yang ibu miliki, dia tidak pernah dibolehkan untuk memilih pria mana yang akan dia pilih untuk jadi pendamping hidupnya sehidup-semati, tapi ditentukan oleh keluarga jawa-nya yang masih percaya akan perjodohan.
Aku tidak mau menjadi ibu. Dia sudah cukup teracuni adatnya, dan aku ingin bebas dengan segala yang kupilih. Aku tidak peduli, apa yang akan tetangga-tetangga katakan tentang aku.
Yang jelas, aku masih belum bertemu dengan orang yang rela untuk bisa hidup denganku hingga akhir hayat. Bayangkan, aku akan serumah dengan orang yang sama selama sisa hidupku yang masih panjang. Dan aku akan melihatnya sebelum tidur, dan tepat ketika bangun.
Pernikahan adalah pilihan diri sendiri, bukan paksaan sanksi-sanksi. Jika hingga nanti aku belum menemukan orang yang tepat, maka itu adalah jalan takdirku. Jadi, aku....
__ADS_1
*T*ING TONG, suara bel rumah berbunyi.
Aku melirik ke arah jam, sudah jam 9 malam.
“Siapa itu? Temen kamu, Dir?”, tanya ayah.
Aku menggeleng, “Bukan, temennya ibu kali.”
“Temen ibu udah pada tua, enggak mungkin dateng jam segini.”, jawabnya dengan mata terpaku pada TV.
TING TONG
“Sudah, buka sana, Dir.”, suruh ayah.
Aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Ruang tamu memisahkan ruang tamu utama melalui lorong yang tidak bisa dilihat dari dalam. “Siapa ya, malem-malem...”, kataku terhenti saat pintu ini ku buka. Aku melihat Jon berdiri di depan pintu dengan membawa satu tangkai bunga di tangannya. Rambutnya yang rapi, dan jaket kulitnya masih sama dengan yang ia kenakan terakhir dia ke sini.
Dia tersenyum.
“Jon?”
Dia menyodorkan satu tangkai bunga itu, dan aku melihat ada benda berwarna perak yang melilit di tangkai itu, melilit dengan cabang yang diikat rapi.
“Mungkin terakhir kali aku ke sini, aku sudah nggak mau urusan sama orang tua kamu lagi. Tapi, aku ke sini buat kamu, dan aku pengin, suatu hari besok kamu jadi istriku. Setidaknya, kita tunangan dulu?”, katanya tersenyum sambil memperlihatkan tangan kirinya, dan di jari manisnya sudah terlingkar cincin yang sama yang ada di tangkai bunga mawar yang aku pegang.
Aku memeluknya, sedikit menjinjit hingga bibirku mendarat di bibirnya yang halus.
Malam ini adalah malam dimana kata ‘penantian’ itu runtuh, akhirnya... aku menemukan seorang lelaki yang mau menerima keadaanku dan keluargaku yang seperti ini.
__ADS_1
Well... aku melepas label perawan tuaku.