
Ini saat yang tepat untuk mengatakan: aku mencintaimu. Walaupun, perasaan ini tidak akan pernah terbalaskan, karena aku tahu, aku hanyalah lelucon untukmu dan semua teman-temanmu. Dan perasaan murni ini hanyalah air di kali yang takkan pernah kau lihat jernih.
Surat ini aku tulis, untuk perpisahan yang sebentar lagi akan datang, dan seragam putih abu-abu akan tergantung menganggur di lemari atau terlipat terlupakan oleh baju-baju yang lain. Yang berarti, kenangan-kenangan masa ini akan terlupakan oleh waktu.
Sudah lama, perasaan ini aku simpan, dan tidak pernah terlelap setiap mata ini menangkap keberadaanmu ketika lewat di depan kelasku. Langkah-langkah kecil dan sepatu merah yang banyak dipakai oleh mereka yang menyebutnya ‘tren’. Apa aku ini, ya kan? Hanya lelaki pendek dan berkacamata tebal yang bisanya menatap dari jauh.
Setiap jam istirahat, aku selalu diseret dan ditindas oleh mereka yang lebih besar dan lebih tinggi, dipermalukan seakan hidupku ini tidak lebih berharga daripada sampah. Aku hanya bisa pasrah, selama tiga tahun, tersekap dan terperangkap di sekolah yang penuh dengan wajah-wajah yang memandangku sebagai bahan candaan mereka.
__ADS_1
Di kerumunan wajah yang melingkariku, aku selalu melihat wajahmu memandangku tertawa gembira, lepas seakan hidupmu tak memiliki beban. Tapi aku yakin, di balik setiap senyum itu, terkubur kesedihan yang siap bangkit saat kamu kesepian.
Jangan salahkan aku, tapi aku selalu tahu kamu menyendiri di sudut kantin saat jam pulang sekolah, tatapan kosong penuh dengan rasa marah dan bersalah.
“Jangan sedih, Tuan Putri.”, bisikku dari ujung lorong kantin.
Kamu banyak menghabiskan jam-jam pulang sekolahmu di kantin, padahal tidak ada orang di sana, kecuali satpam yang sesekali lewat dan menyapamu.
__ADS_1
Lihatlah, betapa bodohnya aku yang mengagumimu ini.
Aku sendiri terlelap dan jatuh akan perasaan yang tidak bisa kuhindari, namun ini terasa indah dan aku bahagia jika harus berlama-lama di situasi ini, walaupun tangan kusam ini takkan pernah bisa menyentuh kulit sucimu. Tapi, kali ini aku harus benar-benar pergi dari perasaan ini, karena sebentar lagi kita akan berpisah, dan hanya sang pencipta yang bisa menentukan takdir pertemuan kedepan. Apakah kita akan bertemu lagi atau tidak sama sekali, itu semua terserah waktu dan nasib.
Tapi yakinlah, Tuan Putri.
Kesetiaanku ini akan abadi, dan aku tidak pernah se-jatuh hati ini. Akan kucaci dan kusumpahi mati diri ini jika aku bisa se-jatuh hati ini lagi, karena aku yakin hati ini tidak akan melacurkan kesetiaannya demi yang lain.
__ADS_1
Panggil aku seperti mereka memanggilku: kurcaci. Pengikutmu yang paling setia hingga mati. Dan surat ini akan kutinggalkan di bangkumu esok hari. Semoga perasaan ini bisa sampai di kedua tanganmu.
-dari Kurcaci Jatuh Hati.