Lampu Kota

Lampu Kota
Tanda Tanya


__ADS_3

Langit belum kehilangan birunya, suara teriakan mesin-mesin merimba di tengah kota. Suara yang ada dan hilang, lalu terdengar seperti putaran takdir yang takkan hilang. Begitu juga sedih dan bahagia, yang mampir untuk menodai hari yang polos.


Aku menggenggam sebuah buku sepingkal berwarna biru tua, selesai membaca riwayat yang tidak akan pernah aku lupa. Foto-foto lama yang dulu sering ku isi dengan momen-momen hidupku sendiri.


Ini adalah buku keramat yang masih terselip di tumpukkan buku-buku pelajaran SMP, mengguggah harapan yang dulu sering ku puja. Tidak ada hari tanpa semangat dan mimpi, hingga akhirnya aku merasakan sendiri, kalau mimpi tidak selalu berjalan dengan kenyataan.


Masa yang membuatku ingat akan kebahagiaan bersama teman, dan kesedihan pertama yang aku rasakan saat mereka harus pergi berkelana, mencari jawaban hingga melupakan satu persatu di antara kita.


Suasana kelas dengan banyak jendela-jendela kecil berbingkai kayu, mempersilakan cahaya pagi untuk selalu menyambut kedatangan kami yang masih teracuni nikmat tidur semalam. Ada seorang perempuan yang duduk di bangku pojok paling depan, dekat pintu dan meja guru. Dia adalah Sela, teman sebangkuku.


Dia tidak banyak bicara sepertiku, hanya saja aku yang selalu berbicara tentang ini itu yang akhirnya aku lupakan keesokan harinya, dia hanya menanggapi dan berbalik memancing obrolan hingga aku kehabisan tenaga untuk bercerita panjang lebar lagi. Tepat di bangku belakangku, dua pria yang akur dan cenderung culun selalu ikut mendengarkan dan menanggapi. Mereka Abdul dan Wahyu. Kalau inisial nama mereka digabung, itu mirip dengan nama restoran cepat saji Amerika.


Hari itu juga, pertama kali aku melihat Lala. Murid baru yang baru saja masuk. Tubuhnya yang tinggi, kurus, dan kulitnya yang sawo matang jadi sorotan isi kelas. Pagi itu, seorang yang akhirnya jadi sahabat terbaikku datang ke kelas. Dengan bando warna merah, dan ransel kucel warna hitam, dia memasukki kelas dengan percaya diri, dia duduk di bangku yang paling belakang dan mulai berkenalan dengan kumpulan pecinta kartun. Aku tahu, dari air wajahnya, dia sangat bosan dan muak ketika Nino mempraktekkan jurus Naruto di hadapannya. Aku merasa kasihan dengannya dalam minggu-minggu pertama, hingga saat kelas dua, aku jadi teman sebangkunya.


“Keren juga tas-mu.”, katanya sambil melihat tas warna cokelat milikku. Tidak lama setelah itu, dia mulai komplain dengan kecerewetanku yang sudah ada di tingkat dewa, dia selalu menskakmat dengan jawaban, “Berisik”

__ADS_1


Mulai dari sana, aku mulai mengenal dunianya, dunia yan g penuh dengan realitas, dan bukan sekedar cerita. Pernah satu hari, saat pulang sekolah dia menarikku untuk naik angkutan yang bukan jurusan ke arah rumahku, dan dia membawaku ke night club. Walaupun belum buka, tapi Lala begitu akrab dengan pegawai-pegawainya, dan menganggap tempat itu sebagai rumahnya.


Dia adalah orang pertama yang berhasil membuatku meminum segelas bir. Awalnya aku takut akan ada orang rumah yang tau, karena Mama selalu bilang ‘jauhi barang dosa’, tapi kalau dosa senikmat bir dingin ini, aku tidak rela.


Hari demi hari berganti, dia selalu mengajakku ke tempat yang sama.


“Ini tempat kerja gue.”, katanya saat kita sedang duduk santai di sofa kapsul, berseragam lusuh.


“Oh, wow. Asik juga ya.”


“Ah, lo enggak pernah berani pulang malem sih, jadi lo enggak tau.”, katanya meremehkan.


Yang aku tau, Lala kerja sebagai waitress di sini, karena dia ingin membantu ekonomi keluarganya yang kacau. Dia bercerita kalau ayahnya adalah korban PHK saat krisis di Indonesia tahun 2000-an, ibunya adalah seorang buruh cuci keliling, dan kakak satu-satunya menjadi waria untuk bisa bertahan di kota ini.


Mendengar cerita itu, aku merasa cukup beruntung bisa memiliki keluarga yang tidak terbebani secara finansial, tapi secara hubungan, keluargaku jauh dari kata beruntung.

__ADS_1


Lala tinggal di desa kumuh tengah kota, dan setiap hari Rabu (tepatnya saat Lala libur), mereka akan meluangkan waktu untuk berkumpul bersama. Setidaknya, mereka berkumpul dan bercanda bersama, entahlah saat aku ikut, mereka memperlihatkan keutuhan sebuah keluarga yang sangat solid, tidak peduli betapa hina-nya pekerjaan masing-masing, menggantikannya dengan kebahagiaan yang ada di kue-kue mangkok di meja ruang tamu.


Aku iri dengan keluarga Lala, dan aku tidak akan pernah mendapatkan keluarga seberuntung keluarganya.


Tiba di tahun terakhir sekolah, Lala hilang dari sekolah. Bukan karena dia diculik atau melarikan diri, tapi karena dia bekerja ke luar kota, dan beruntungnya dia memboyong semua keluarganya untuk ikut ke Bali. Lucky girl. 


Dari perpisahan itu, kita semakin jarang ngobrol, dan tali pertemanan sudah bertumpuk dengan tali-tali baru lainnya. Begitu juga waktu aku lulus SMA dan kuliah, aku melupakan segala momen berharga yang pernah dibuat berdua karena sekarat memikirkan diri sendiri.


Aku merasakan, kalau puluhan tahun itu sudah berlalu begitu cepat, waktu memutar dirinya semena-mena, mengubah seseorang tak kenal ampun. Tapi, aku bersyukur dengan keadaanku yang sekarang, aku lebih dewasa karena telah melalui banyak pahitnya hidup dan mencoba bertahan walaupun tak semudah memakan kacang.


Tapi ada tanda tanya yang sampai sekarang belum terjawab, atau aku lupa dengan jawabannya. Tentang kenapa sekarang kita menjadi terpisah dan melupakan satu sama lain? Bukankah kita dulunya manusia yang paling bahagia di dunia ini?


Aku meletakkan buku biru ini di kotak kardus cokelat. Sekarang, aku rela untuk membuang segala kenangajn yang ada di dalam hidup ini, dan cukup menyimpannya di dalam memori.


Entah dosa-dosa apa yang telah tercipta kala itu, aku telah memaafkan segala kesalahan semuanya yang pernah menyakitiku, bahkan diri ini yang pernah menyakiti orang lain.

__ADS_1


Setelah berumur 25 tahun, aku sudah belajar banyak dari kenangan dan masalah, dan sekarang aku akan pindah ke Jakarta untuk melanjutkan pekerjaan yang lebih besar. Hidup ini berlalu, datang dan pergi, sungguh cepat sampai aku harus membuang segala tanda tanya.


Cepat atau lambat, tanda tanya ini akan terjawab di saat putaran waktu merestui untuk memberikan jawaban, dan di saat itu juga, aku akan menunggu dan tetap menunggu hingga waktunya tiba.


__ADS_2