Lampu Kota

Lampu Kota
Boneka Tidak Punya Tuhan


__ADS_3

Namanya Elli. Seorang yang ambisius untuk bisa mengendalikan hidupku semau-maunya. Dan sialnya, aku dimiliki dia.


Aku ingat pertama kali aku bertemu dengannya di sebuah kedai kopi kecil dekat dengan rumahku, dengan tampangnya yang sangar dan kaos bali-nya yang kucel, membuat perhatianku sedikit tertuju padanya.


Dia datang ke mejaku, membawa secangkir kopinya di tangan kanannya yang penuh dengan cincin-cincin besar mirip dengan pelawak Tessi. Dia tersenyum.


“Boleh duduk sini?”, nadanya berat, intonasinya dibuat-buat, tapi saat itu aku benar-benar butuh seorang teman untuk ngobrol bareng.


Kita bicara tentang betapa luasnya langit dan angkasa, tenggelam di setiap kata yang ia buat hingga aku lupa, kalau kami hanya sedang bicara. Dia benar-benar jago membuatku melayang dalam setiap kata yang menarik perhatianku. Dan setelah itu? Kita tidak bertemu hampir berbulan-bulan.


Sejak saat itu, aku benar-benar rindu akan obrolan kecil yang kita buat, mengandaikan yang tidak bisa nyata, seperti menyelam tanpa tahu untuk tenggelam. Setiap hari, aku selalu lewat di kedai yang sama, hanya untuk memeriksa apakah ada pria yang sedang aku tunggu hadirnya, tapi dia tidak pernah muncul, dan aku kehabisan asa untuk mengharapkannya.


“Gantungan kunci-mu lucu.”, katanya sambil menunjuk ke tasku.


Dia adalah satu-satunya orang yang benar-benar memuji si Beruang. Itu nama untuk gantungan kunci yang ia puji. Walaupun, banyak orang termasuk teman-temanku selalu mencelanya, tapi ini adalah hal paling keramat yang tersisa dariku.


Si Beruang lebih tahu perasaanku daripada makhluk lainnya di bumi ini, dia adalah saksi hidup yang tidak akan membongkar rahasiaku. Andaikan si Beruang nyata, mungkin aku akan benar-benar menikahinya.


Ini adalah pemberian terakhir nenek sebelum ia meninggal, dan saat itu aku masih berumur 7 tahun. Kamu boleh tidak percaya, tapi nenek bilang kalau si Beruang akan hidup suatu hari nanti. Yah, untuk seumuranku dulu, aku percaya dengan apa yang nenek katakan.


Katanya, gantungan kunci ini adalah pemberian seorang yang sangat spesial bagi nenek waktu dia kuliah di Jakarta. Dia bilang, kalau warna bulu cokelat itu melambangkan keberanian yang tidak ada bandingnya, dan pita yang melingkar di lehernya melambangkan kesetiaan kepada pemiliknya.


Nenek memang pandai bercerita, dia seorang lulusan bahasa dari Universitas Indonesia. Aku suka mendengar puisi-puisi nenek sebelum tidur, dan salah satu puisi yang pernah ia bacakan adalah puisi tentang seorang putri yang lupa akan dirinya sendiri:


Kembali ke negeri peri,


Hingga hayat menunggu sang puteri.


Menangis lalu melamun hingga malam berganti.

__ADS_1


Dia lupa, lupa akan dirinya sendiri.


Dia melepas mahkotanya, membelahnya menjadi dua,


Melemparnya melawan dinding, dan berteriak:


“Kamu tidak berhak akan hidupku, Peri! Pergi!”


Kenangan dan suara lembut nenek masih terdengar sebelum aku tidur, aku masih merasakan kehangatan yang ia berikan setiap malam, walaupun yang kurasakan adalah ilusi, tapi aku yakin dia masih di sini.


Untuk kedua kalinya, aku bertemu Elli. Setelah berbulan-bulan tidak bertemu. Dan di hari itu juga, kita berpacaran, proses yang sangat cepat untuk berpacaran, tapi waktu yang cukup lama untuk menunggu semua ini terjadi.


Kami berpacaran seperti kuda yang baru saja menikah. Tidak bisa dipisahkan. Aku selalu ingin memeluk tubuh tegapnya, dan menggenggam tangan besarnya. Aku seperti baru meninggalkan dunia kosong ke dunia penuh dengan bunga. Indah, dan tidak ingin ku bagikan.


Banyak orang melihat kami sebagai pasangan yang tidak sehat. Aku mengikuti gayanya, merokok dan bertato di pergelangan tangan. Banyak dari temanku yang bilang, kalau aku suda berubah, dan bukan ‘Yuni yang dulu’.


5 bulan berpacaran, kami sudah membuat dua tato yang sama di pergelangan tangan, merokok rokok yang sama, dan tidur di kasur yang sama (tepatnya di kos dia).


Aku rela meninggalkan banyak teman pria, bahkan juga wanita, karena Elli tidak menyukai mereka. Dia begitu yakin, kalau teman-temanku ini bukan teman yang baik untuk dijadikan teman, dan menurutnya, hanya dialah teman sejati di hidupku.


Pernah suatu waktu, saat aku kerja sebagai pegawai toko roti, dia mendatangiku dan menyuruhku untuk keluar dari tempat kerja, yang dia maskud adalah mengundurkan diri, dan dia tidak sedang main-main.


Dia pernah hampir berkelahi dengan Dani, rekanku di tempat kerja, hanya karena kita sedang tertawa bersama. Dan di hari itu juga, aku keluar, sekali lagi menuruti perintah dari manusia yang merasa memilikiku.


Aku benar-benar jadi boneka Elli. Boneka seks-nya, ditinggal dan didatangi. Aku menjadi pengangguran selama berbulan-bulan, dan hanya berada di kamar sempit yang ia tinggali.


Bahkan, gaya rambutku saja diatur, dia suka sekali dengan wanita berambut panjang dan lurus, dia tidak suka melihat wanita berambut pendek karena terlalu maskulin, dan dia tidak suka kalau aku memakai pakaian yang terbuka, walaupun dia selalu ingin aku telanjang saat kita berhubungan seks.


“Elli... aku pingin ngomong.”, kataku dengan menyilangkan kedua tanganku.

__ADS_1


Dia melihatku, berganti baju di depan lemari. “Apa, Sayang?”


“Aku mau kerja lagi.”, kataku cepat, aku tahu dia tidak akan mengizinkanku untuk kerja lagi.


“Ngapain sih, Sayang... Kamu nanti digodain sama cowok-cowok bajingan di sana.”, nadanya seperti ingin mengakhiri percakapan ini, dia mendatangiku, memelukku.


Aku mendorongnya sedikit, aku tidak ingin dipeluk.


“Maksud kamu?”


Dia ikut menyilangkan tangannya, “Kamu inget si siapa itu... si Dan.. Dani itu? Dia udah gangguin kamu, untung-untung kamu nurutin aku buat keluar dari toko roti sialan itu!”, nadanya meninggi.


Sekarang aku merasa tidak nyaman, lalu entah kenapa aku melihat gantungan kunci di tasku, si Beruang. Aku mengeritkan dahi, dan mempertanyakan... ‘apa sekarang aku yang jadi bonekanya?’


Boneka tidak bertuhan, tapi dia dikendalikan. Jadi, aku mirip dengan sebuah boneka, dan Elli adalah pengendalinya. Dan aku sudah muak dengan ini semua, aku ingin memecahkan skat yang menghalangiku masuk ke dunia bebasku.


Aku menatap ke mata Elli tajam. Dia bukan si Beruang, dan aku tidak mau menjadi bonekanya.


“Oh... gitu.”, nadaku enteng, sambil berjalan ke arah rak kaca yang ada di sebelah kanan.


Aku teringat sang puteri yang rela membela mahkotanya demi bebas dari rasa hampanya. Dan saat itu juga, aku mengambil gunting di depanku, aku mengikat rambutku, dan memotongnya.


Elli hanya diam, matanya melotot kaget, dan tangannya sekarang ada di kepalanya.


Aku melemparkan gulungan rambutku, dan persis dengan seperti sang puteri katakan, aku berteriak, “Kamu tidak berhak akan hidupku!”


Aku keluar, dan di luar, aku memotong baju yang ku kenakan di bagian atas, hingga bagian belahan dadaku sedikit terlihat, aku lempar potongan itu ke arahnya yang masih melongo.


“Kita putus!”, aku mengakhiri.

__ADS_1


Aku tidak mau hidupku terjebak di satu orang, dan dunia penuh bunga yang sudah ku rasakan hanyalah dunia tak nyata yang ku buat sendiri. Lebih baik mati, daripada melayang di kepalsuan.


Hari ini dan seterusnya, aku dan si Beruang akan terus berjuang untuk tetap berjalan dan bertahan. Mencari dan tetap mencari, hingga akhirnya berhenti di orang yang tepat. Bukan hanya kenyamanan yang aku cari, tapi kehidupan dan kebebasan.


__ADS_2