
Tidak lama bagi lampu untuk bisa berbahagia di kota cinta ini. Apalagi, musim panas. Matahari membara tertawa karena bulan ini dia adalah juaranya. Maya bersandar pada dinding sebelah jendela, menatap langit biru tanpa awan dan menara Eiffel yang kecil saking jauhnya.
Dengan kaos oblong dan celana super pendek, dia berharap malam segera tiba, karena selama musim panas ini, matahari bersinar lebih lama dari bulan. Dia bukan merindukan bulan atau bintang, dia merindukan lampu-lampu jalan yang menerangi jalanan dan bangunan khas ala eropa yang mengingatkannya pada Bik Surti. Pembantu masa kecilnya.
Selama masa kecilnya, dia selalu bermain dan ditemani oleh Bik Surti. Dia adalah pengganti ibu dan ayahnya yang super sibuk. Maya rindu dengan nyanyian dangdut Bik Surti yang selalu ia dendangkan ketika ia sedang mengiris bawang di dapur, menangis perih sambil bernyanyi lagu ‘Bang Toyib’.
“Non, besok sampean mau jadi apa kalau udah besar?”, tanya Bik Surti.
“Mau jadi... dokter!”, sahut Maya dengan nada semangat.
Dan itu semua akan terjadi. Maya tersenyum, lalu melirik buku-buku tebal kedokteran yang ada di pojok ruangan. Cita-cita pertamanya akan terwujud, beberapa hari lagi dia akan mengakhiri tesis dan tugas terakhirnya, dan dalam benaknya, dia berterima kasih pada Bik Surti yang selalu meyakinkannya.
__ADS_1
“Jangan lupa... Non Maya kalau besar bakal jadi dokter.”, kata Bik Surti sambil memberi Maya suapan makan siang.
Dia rindu. Rindu sekali, hingga imajinasinya hampir membunuh realita. Kalau dia sudah tidak ada. Maya mengangkat kepalanya dari dinding, sedikit mengingat masa-masa kehilangan pertamanya. Di usianya yang baru saja berumur 9 tahun, Bik Surti meninggal karena tertabrak mobil.
Saat itu sudah tengah malam saat banyak orang menghampiri rumah dan mengabarkan kalau Bik Surti sudah dilarikan ke rumah sakit karena kecelakaan. Kakek dan kakak lelakinya langsung pergi untuk melihat keadaan Bik Surti.
Sesampainya di sana, hanya Maya yang menangis. Dia baru saja kehilangan satu-satunya temannya bermain di dalam rumah. Saat itu, Dion, kakak lelakinya, yang baru berusia 11 tahun memeluk Maya erat-erat. Dion meyakinkan kalau Bik Surti akan masuk surga.
Bik Surti meninggal saat tengah malam, tertabrak kendaraan yang sampai saat ini masih sulit diidentifikasi.
Setelah kehilangan itu, Maya sering dekat dengan kakeknya. Kakeknya selalu mengajarkan untuk tidak takut untuk menghadapi semuanya, meskipun sendirian, pasti banyak yang akan menemani. Walaupun dekat, Maya kembali harus kehilangan.
__ADS_1
Satu hari, Maya mengintip ke kamar kakek yang ada di sebelah kamarnya dan Dion. Maya melihat Dion menangis di sebelah kakeknya dan Mira, pembantu baru, terlihat sangat kaget dan kaku di pojok ruangan.
Dan hari itu juga Maya tahu, kalau kakeknya sudah meninggal dalam kedamaian. Sampai sekarang, sedikit momen kecil bersama kakekanya akan selalu di ingat. Dan dia selalu merasa ditemani oleh kakeknya setiap malam, dan tidak pernah merasa sendirian karena kakeknya pernah mengatakan kalau lampu-lampu jalan itu adalah temannya.
Maya pernah merasakan kalau hidupnya benar-benar sial, karena setiap kali dia dekat dengan seseorang, tiba-tiba orang itu akan menghilang atau pergi. Itu yang dia rasakan selama sekolah, dan memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri.
Dia sedikit merasa bersalah kepada Dion, karena meninggalkannya sendirian di Surabaya. Hampir setiap hari, Maya selalu telepon untuk menanyakan kabar Dion, walaupun dia tahu kalau Dion pasti baik-baik saja.
“Hah....”, Maya menghela napas dalam-dalam.
Melihat awan yang sedikt demi sedikit berubah warna menjadi jingga. Beberapa jam lagi akan gelap, dan lampu-lampu kota akan mulai menyala. Yang akan dia rasakan adalah perasaan damai dan memandunya akan bunga tidur yang menunggu di lelapnya. Banyak yang ia pelajari di kota ini, termasuk bersyukur dan merasa sendiri.
__ADS_1
Tidak banyak yang mensyukuri menjadi sendiri, tapi Maya selalu tahu kemerdekaan hanya ia raih saat sedang sendiri. Teman paling sempurna yang ia punya hanya lampu-lampu kota yang bersinar terang. Tidak banyak komentar, dan selalu menerangi jalannya.
Lampu kota, terima kasih sudah menjadi temanku yang setia. Sampai jumpa lagi di malam lain.