
“Di luasnya galaksi, kita tidak mungkin sendirian. Jangan pernah merasa sendirian.”, Nenek berkata dengan puitis, dengan kedua tangan yang bergerak indah menegaskan semua kata-katanya. Ini adalah momen yang paling ku ingat saat kecil.
Aku memandangi langit malam yang telah dipenuhi dengan banyak bintang dan satu bulan yang bersinar terang. Malam ini, aku mengenang sepuluh tahun kematian nenek yang tergila-gila dengan indahnya malam hari.
Sepuluh tahun lalu, aku masih berusia 10 tahun ketika nenek menceritakan satu cerita perjalanan angkasanya. Ibu dan ayah tidak percaya dengan cerita ini, tapi aku percaya-percaya saja. Nenek bercerita tentang pertemuannya dengan kakek, yang telah meninggal sebelum aku lahir.
Di tempat tidur kayu jatinya, dia duduk melihat ke arah jendela yang sudah dihiasi oleh cahaya bulan dan serpihan kilau dari para bintang. Dia tersenyum, telunjuknya menunjuk ke salah satu bintang.
“Nak, kamu lihat bintang merah yang berkilau itu?”, katanya tanpa melepas pandangannya.
Di antara kilauan bintang malam itu, memang ada satu bintang merah yang sangat berkilau daripada bintang merah yang lainnya. Aku juga melihatnya, sesekali melirik ke wajah nenek yang masih terkesima melihat bintang itu.
__ADS_1
“Itu adalah bintang yang sama waktu pertama kali kakekmu melamar. Dia melamar tanpa cincin atau berlian, tapi cinta dan keberanian. Nekad sekali dia...”, Nenek tertawa kecil. “Dan sekarang, dia tinggal di bintang itu, menunggu nenek menghampirinya.”
“Kakek tinggal di sana?”, tanyaku yang sepuluh tahun kemudian ku sadari kalau cerita itu tidak masuk akal. Tapi...
“Dia turun dari langit, mengajak nenek menari di indahnya kilau bintang malam itu yang menjadi saksi. Kita berdua bahagia, hingga kebahagiaan melahap berdua menjadi satu...”, Nenek berhenti sejenak, “Walaupun hati nenek sangat patah, tapi cintanya selalu memancar lewat bintang itu.”
Kakek meninggalkan nenek, yang waktu itu ku tahu kalau kakek meninggal dan sudah dikubur. Tapi sepuluh tahun kemudian, aku baru tahu kalau ibu mengatakan kakek itu menghilang, bukan meninggal. Kakek hilang tepat sebelum ibu lahir.
“Bintang itu hanya muncul lima tahun sekali, dan indahnya tidak pernah berbeda. Aku teringat kebahagiaan kami berdua yang singkat.”, Nenek menatapku, “Jangan pernah merasa sendirian di galaksi yang tak terbatas ini ya, Nak.”, dia tersenyum.
“Satu hari nanti, kunjungi nenek di sana ya...”, senyumnya masih ku ingat, itu adalah senyum terakhirnya kepadaku, dua hari setelahnya, dia meninggal.
__ADS_1
Aku masih ingat, di hari yang sama ketika nenek meninggal, kilauan bintang berkilau terang, lebih terang daripada biasanya, sepertinya semua bintang di galaksi baru saja memberi penghormatan terakhir ke nenek.
Kalau cerita nenek benar, berarti kakek adalah seorang alien. Antara percaya dan tidak percaya, manusia dan khayalan kadang dikalahkan realita. Sampai saat ini, aku tidak percaya dengan cerita itu. Tapi, aku pernah merasakan yang dirasakan nenek, yaitu perpisahan demi kebaikan.
Tahun lalu, aku putus dengan Reo, dan sampai sekarang aku masih berteman baik, dan selalu menyapa satu sama lain di kampus. Walaupun, banyak temanku yang bilang kalau aku tidak seharusnya masih menyapanya.
Tapi kami berpisah secara baik-baik, aku dan dia putus karena Reo mengaku kalau dia sudah dijodohkan dengan teman ibunya. Jujur, aku masih peduli dengan dia, tapi takdir tidak membawa kami ke mana-mana.
“Cinta itu seperti oksigen, jika tidak dihembuskan dan direlakan maka kamu membunuh dirimu sendiri.”, bisikku mengulangi nasihat nenek.
Salah satu bintang menyala terang berwarna merah, persis seperti yang kulihat di hari kematian nenek. Dan aku terus melihati bintang itu dengan kedua kaki yang kupeluk dan menikmati dinginnya hawa malam ini. Bulan sudah tepat di atas kepala, tapi aku merasa nyaman dengan kesendirianku di sini.
__ADS_1
Aku membayangkan kalau saja ada alien yang bisa menemaniku di sini, aku bisa menceritakan pengalamanku selama ini. Aku tidak akan peduli dengan tampang anehnya atau bentuknya seperti di televisi, yang kuharapkan dari seorang teman hanya satu: kesetiaan.
Alien dan galaksi, semua cerita nenek memberiku nasihat untuk tidak merasakan sendiri walaupun waktu kesepian menyerang. Bertemanlah dengan para bintang dan bulan, mereka jauh, tapi sejuk di hati.