Lampu Kota

Lampu Kota
Madu


__ADS_3

Dari sikapmu baru-baru ini, kamu menunjukkan rasa ragu. Aku tidak menyukainya, karena bukan ini wanita yang selama ini ku kenal. Aku mengenalnya sebagai wanita yang benar-benar mandiri dan percaya satu sama lain.


Kamu menyilangkan kedua tanganmu, jaket jeans dan rambut bob sebahu sesekali terhembus angin yang sedang kencang hari ini. Tapi mukamu kau buang demi melihat pemandangan lain daripada aku yang ada di depanmu.


Coba kamu ingat-ingat lagi.


Seberapa sering aku membuktikan kalau aku sayang dan cinta sekali ke kamu. Ingatlah, dulu kamu pernah sakit dan aku yang harus gotong kamu sampai ke puskesmas dekat rumahmu. Persetan apa kata tetangga waktu itu, yang penting kamu sehat dan selamat dari penyakit tifus-mu.


Atau bunga mawar yang selalu kuberikan setiap ulang tahunmu, dan membuatmu tersenyum  malu sepanjang hari. Mawar merah yang sduah mati itu menjadi saksi kita pernah bahagia dan tidak pernah saling menyalahkan.


Aku pernah rela memakai jaket pemberianmu yang norak sekali dan kita berjalan-jalan ke mall dan aku menahan rasa malu selama dua jam lebih, tapi waktu itu kamu bahagia sekali dan selalu memeluk tanganku dan sesekali bersandar di bahuku.


Masa-masa awal saat kita belum pacaran, aku adalah pria paling ngoyo untuk benar-benar mendapatkan perhatianmu. Aku rela melakukan hal-hal bodoh seperti berteriak kalau aku benar-benar mencintaimu di saat dosen sedang mengajar, lalu mengantarkan martabak manis ke rumahmu (tapi kamu tidak di rumah dan yang makan hanya aku sendiri di pinggir jalan.), dan banyak hal-hal lain yang sudah aku lakukan.


Usahaku sudah terlalu banyak untuk membuatmu mencintaiku, dan benar-benar yakin, kalau memang hanya aku yang bisa membuatmu bahagia. Iya, hanya aku. Karena semua yang pernah dekat dan pacaran denganmu hanya membuatmu sedih dan marah.

__ADS_1


Sekarang aku bosan, dengan keraguanmu, yang selalu takut kalau suatu hari kita tidak akan bisa bersama. Apalagi, waktu itu kamu beberapa kali jatuh cinta dengan lelaki lain, tapi aku tetap disana, menunggumu kembali ke dekapanku.


Ah, mungkin kamu mencoba untuk melupakannya. Tapi waktu itu, kamu jatuh cinta dengan lelaki itu, dan mencoba menjauh dariku. Masalahnya, aku sudah tahu dari temanku kalau kamu sempat dekat dan berpacaran sebentar dengan dia. Saat aku tanya, kamu malah menepis dan menolak menjawab.


Mau bagaimana lagi? lika-liku hubungan tidak akan bisa punah, selalu saja ada, tapi aku yakin, bukan aku yang memulainya.


Sekarang aku banyak diam,


Karena aku pernah di sia-siakan, terlalu banyak. Terlalu sering.


Kita seperti sepasang lebah yang sedang mencari madu.


Ketika madu itu nikmat, kita akan melupakan rasa lainnya.


Tapi lama-kelamaan, madu itu terlalu membosankan, karena kemanisan yang dulu kita sukai.

__ADS_1


Seperti kita, yang sama-sama bersama.


Ketika kita dipuncak cinta, semua perasaan akan lenyap sekejap.


Akhirnya kita tersadar, kalau ini bukan diri kita yang sebenarnya, dan buta tentang siapa kita yang dulu.


Tapi aku masih mau denganmu, ingin tetap bersamamu.


Aku ingin kita berjalan bersama, bukan saling menyalahkan dan meninggalkan.


Aku ingin kita tidak lupa diri, menghilangkan segala iri dan tidak sendiri.


Di sini, aku butuh kamu,


Seperti lebah, yang masih membutuhkan madu.

__ADS_1


__ADS_2