Lampu Kota

Lampu Kota
Kacang Lupa Akarnya


__ADS_3

Namanya Eko. Namanya tidak menggambarkan orangnya. Dia punya otak seperti Steve Jobs, walaupun tampangnya mirip Kiwil dengan gaya santai dan kasual.


Dia duduk di meja kantornya sekarang. Membaca setiap detail huruf yang ia baca, memastikan tanda tangannya bukan berada di tempat yang salah. Kumisnya tipis, jenggotnya tebal, badannya tegap, tapi dia kuntet.


“Eh… Ajeng! Sini sebentar…”, katanya memanggilku.


Dandanan-ku tidak kalah cetar dengan Syahrini hari ini. Walaupun aku bukan siapa-siapa di matanya, tapi setidaknya dia mempercayakan aktifitas para pegawai ke aku. Aku sudah jadi semacam ‘Ketua Kelompok’ di toko ini.


“Iya, Pak.”, jawabku sopan.


“Ini, berkas bulan ini kok kurang ya. Bisa tolong cek di meja berkas di belakang?”


Aku mengiyakan. Sambil melihat bibirnya dan matanya. Aura yang dimilikinya membuatku tertarik, dia lebih tua jauh. Tapi, rasa nafsu ini tidak bisa aku hilangkan setiap di dekatnya. Kalau dia bukan bosku, mungkin sudah ku lahap bibir halusnya itu.

__ADS_1


“Bisa tolong dicarikan sekarang?!”, katanya menyadarkanku.


“Oh, baik, baik, Pak.”


Aku segera berjalan kearah lemari berkas, rok selutut ini sudah hampir naik karena lamunan nafsuku tadi. Aku membuka lemari berkas yang berbahan dasar kaca dan kayu ini, aroma lemari baru masih terasa semenjak dua tahun yang lalu ketika lemari ini baru pertama kali datang.


Bayangan tubuhnya tertangkap di pantulan kaca di sebelah kananku. Aku melihatnya sibuk melihat laporan-laporan keuangan yang ia kerjakan sendirian, sementara pencarianku tersendat-sendat terganggu bayangannya.


Sudah lama aku bekerja di sini, semenjak itulah rasa kagumku menjadi rasa nafsu. Aku sudah mengenal Pak Eko dari sejak dia mempunyai istri sampai istrinya meninggal. Aku tahu dengan anaknya, tapi tidak kenal.


Ada satu berita yang ia tulis sendiri dengan judul yang menarik, “Kacang Lupa Akarnya”. Peristiwa itu tidak hanya dialami oleh Pak Eko sendiri, tapi banyak rekan kerjanya juga mengalaminya. Di PHK dengan alasan konyol, tiba-tiba dipecat, dan hal tidak masuk akal lainnya.


Sejak itu, tokonya adalah prioritas nomor satu.

__ADS_1


Hidupnya sudah ia limpahkan ke toko ini, ke toko yang sudah membuka cabang dimana-mana. Toko alat tulis yang sudah melegenda di kota ini. Ini semua karena Pak Eko yang punya rencana yang maju dan pengalaman pahitnya yang tidak ingin diulangi. Aku bersamanya semenjak dia memulai rencananya itu. Hidupnya untuk anaknya, kalau aku jadi anaknya aku bersedia didekatnya, memeluknya dan mencium seluruh sudut di wajahnya… duh, pikiran kotor itu datang lagi.


Berkasnya sudah ditanganku.


Aku berbalik, aku mulai melangkah ke arahnya.


Tiba-tiba seorang remaja perempuan datang dengan gaun pendek selutut dan tinggi bukan karena hak sepatunya, lalu memeluk Pak Eko. Itu anaknya… memeluk tubuh ayahnya erat dan mereka mulai melepaskan rindu bersama.


Aku membayangkan posisiku di anaknya yang sedang memeluk erat Pak Eko. Aku bisa melakukan lebih dari itu. Walaupun, fisik-ku tidak sesempurna anaknya yang sudah kuliah dan tinggal di Australia beberapa tahun belakangan ini, aku yakin aku bisa memuaskannya lebih dan membahagiakan dia.


Di kerumunan karyawan berbisik, aku mengatakan sesuatu yang memperjelas mereka,


“Itu anaknya…”

__ADS_1


Aku melihat mereka dari kejauhan, dan sesekali tersenyum jika anaknya menatapku. Aku ini memang lupa siapa posisiku sekarang, tapi aku bahagia dengan kelupaan ini, karena aku bisa berimajinasi lebih luas dan liar.


Seperti tulisan Pak Eko, ‘Kacang Lupa Akarnya’, aku tidak tahu diri dengan diriku sendiri, bahkan jika aku sebuah kacang, aku akan lupa kalau aku ini hanya sebuah ‘kacang’, tapi itulah indahnya cinta: liar dan bergairah. Iya, ’kan?


__ADS_2