Lampu Kota

Lampu Kota
Dongeng Secangkir Teh


__ADS_3

“Kalau minum teh, jangan cepat-cepat…”, Kakek tersenyum, memandang si kecil Dahlia yang sedang mencoba meminum secangkir teh panasnya.


Dahlia menoleh ke arah suara halus kakek, menahan cangkirnya yang baru saja ia mau minum, memandang raut wajahnya, dengan mata sayu dan rambut putihnya yang sudah lebat di kepala.


Rutinitas pagi hari Dahlia adalah menemani kakek yang sudah tua di latar rumah, sekedar duduk-duduk hingga emak pulang dari pasar. Kakek selalu menyapa tetangga yang lewat, entah itu kakek duluan yang menyapa atau orang yang lewat, kakek selalu berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk aku.


“Memangnya kenapa, Kek?”, Dahlia meletakkan kembali cangkirnya.


“Belajarlah merasakan, Dahlia. Merasakan hasil ampas daun teh yang sudah dikeringkan, dan manisnya gula di cangkir gelas kecilmu itu… Karena jika kamu sudah seumur Kakek nanti, kamu akan merindukan rasa manis di dalam cangkir teh-mu.”, Kakek tersenyum, mengelus kepala Dahlia.


Dahlia tersenyum.


“Kamu pernah dengar dongeng tentang secangkir teh?”


“Belum, Kek. Dongeng tentang apa itu?”


Kakek mulai bercerita,


Suatu hari di negeri antah berantah, hiduplah seorang putri kecil bernama Ayu, ia adalah putri tunggal seorang raja yang memiliki perkebunan teh yang luas di negerinya. Ayu suka sekali dengan teh, secangkir teh dengan gula yang menjadi minuman wajibnya setiap hari.


Kesukaannya membutakan mata hatinya. Ayu ingin semua daun teh dipetik, dan dikeringkan untuk dirinya sendiri. Keinginannya itu membuat rakyat di negerinya menangis, karena rakyatnya tidak dapat meminum teh hasil petikannya sendiri.

__ADS_1


Hingga musim kemarau tiba, persediaan teh Ayu habis, dan rakyatnya tidak bisa memberikan apa yang putri minta.


Ayu menangis. Seluruh kerajaan ikut bersedih.


Lalu datanglah seorang pria tua berjubah panjang ke kerajaan, ia tertawa melihat Ayu yang bersedih karena persediaan tehnya yang habis.


Mendengar tawaan pria tua itu, Ayu segera mengusap-usap tangisannya yang mulai membasahi gaun indahnya.


“Kenapa kamu tertawa?”, tanya sang putri.


Pria tua itu menjawab, “Apakah benar, kamu seorang putri yang menangis karena tidak bisa meminum secangkir teh lagi?”


Ayu mengangguk pelan.


“Silahkan.”


“Selama ini tuan putri meminum secangkir teh dan menangis karena tidak bisa meminumnya lagi, saya ingin bertanya… apa rasa teh itu?”


Ayu mengerutkan dahi, “Apa maksudmu?”


“Saya ingin tahu, rasa dari teh yang selama ini tuan putri minum dan cintai…”

__ADS_1


Ayu diam seribu bahasa.


Suasana istana menjadi hening. Tidak ada yang mampu menjawab, dan semua pandangan mengarah ke arah pria tua yang sedang berdiri di depan Ayu. Seketika dia menunduk malu tidak mampu menjawab pertanyaan sederhana itu.


“Itulah, Putri. Selama ini tuan putri mencintai kebutaan, mencintai yang bahkan tuan putri sendiri tidak mengenal apa yang tuan putri cintai.”, Pria itu lalu mengeluarkan kantung kecil berwarna hitam. “Berjanjilah, dari saat ini hingga ke depan, tuan putri akan mengenal apa yang tuan putri cintai, dan tidak membuat yang lain menangis karena kebutaan anda.”


Ayu menangkap lemparan kantung itu, lalu segera membukanya, isinya adalah daun teh kering yang selama ini ia dambakan. Pria tua itu melangkah pergi dan menjauh. Sehari setelah pria itu pergi, musim kemarau berakhir dan seluruh daun teh di negeri tumbuh kembali.


Semenjak saat itu, Ayu tidak lagi menyimpan daun teh untuk dirinya sendiri, rakyat kerajaan akhirnya bisa menikmati secangkir teh lagi. Dan saat itu juga, Ayu mengenal rasa teh yang ia cintai, dan tidak lagi mencintai kebutaan seperti sebelumnya.


“Tamat…”, Kakek mengakhiri dongengnya.


Kakek melanjutkan, “Jadi… jangan sampai tidak mengenal apa yang sedang kamu jalani, nanti kamu tersesat, lebih baik mengenal dan mengerti, daripada bingung dan tidak tahu jalan pulang…”


Dahlia mengangguk-angguk.


“Dahlia!”, suara Emak sudah terdengar dari jauh. “Bantu emak bawa belanjaan ya!”


Dahlia segera bangkit dan berlari ke arah becak emak.


“Ini emak beli teh banyak, mumpung harganya lagi murah.”

__ADS_1


Dahlia tersenyum. Dan dirinya mulai berjanji, hari ini dan selamanya, ia akan mengenal apa yang ia makan dan minum, daripada sekedar kenyang dan puas.


__ADS_2