Lampu Kota

Lampu Kota
17.15: Titik Lemah


__ADS_3

Secangkir teh yang daritadi ku diamkan mungkin sudah tidak lagi manis karena aku mengacuhkannya demi melihat pintu berkaca itu dimasuki oleh seorang yang sudah aku tunggu dari seperempat jam yang lalu.


Pria ber-jas hitam baru turun dari taksi dan melangkah masuk. Dia sedikit mengibaskan jas-nya dan berjalan ke arah lainnya. Aku menghela napas, menanti seorang berjalan ke arahku dan akhirnya mengenali wajahku.


Dimana orang itu?


16.46 


Aku lebih tertarik melihat jam tanganku daripada wanita-wanita cantik yang sedang asyik membicarakan sesuatu-yang-aku-tidak-tahu di meja bundar bermotif kayu jati dan dudukan yang setinggi meja di bagian ujung ruang lebar ini. Bibir-bibir yang tidak terbuka lebar, suara bisik yang mencurigakan, dan dandanan yang berlebihan, ya… itu mereka, wanita-wanita seribu bahasa, kumpulan manusia yang lebih suka gosip daripada fakta. Jika saja aku berada di tengah percakapan itu, kedua telingaku mungkin sudah lumpuh dan mendadak tuli karena bergosip.


Aku melihat jam lagi.  Dia masih belum datang.


Aku menunggu seorang wanita… yang jelas bukan salah satu dari mereka.


16.48 


Pelayanan di sini cukup buruk, pramusaji yang lupa cara tersenyum dan melayani, dan bertindak ‘masa bodoh’, walaupun jarinya mahir memainkan layar di depannya, dengan segera mereka meracik kopi seusai salah satu petugas kasir mengonfirmasi pesanan dengan teriakan kecil: “Chop. Chop.”


Aku sedikit pusing hari ini. Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Lalu pernyataan yang benar-benar acak muncul di setiap detik. Kepalaku tidak bisa berhenti berkata-kata, bisa-bisa aku berargumentasi tentang alam dan seluruh isinya. Aku mencoba menenangkan diri, ‘relax…’, tapi ini cukup mendebarkan, menunggu yang sudah lama hilang dan dihilangkan dari hidupku.


Aku tidak salah mengatakannya, ‘dihilangkan’.


16.50


Kemarin, tepat di pukul ini, aku menerima pesan dari nomor yang sama sekali belum aku lihat sebelumnya. Berisi:


‘Besok. Jam lima seperempat. Café Runi. Pesan satu cangkir teh, dengan lima gula tambahan. -Ibu’


Aku tersenyum, dia mengetik ‘ibu’, sedikit membuatku tertawa, kenapa mama menyebut dirinya sebagai ‘ibu’, itu sama sekali tidak biasa. Mungkin karena kata kunci otomatis yang membuatnya keliru menyebut dirinya ‘ibu’, langsung saja aku tekan nomor itu dan menelponnya.


16.52 - kemarin


Setelah beberapa deringan, keheningan panjang terjadi. Sedikit demi sedikit, suara serak dan lemahnya berkata ‘Angga…’, dan jelas sekali, aku yakin demi bumi yang terbelah dua, itu bukan suara mama.


“Siapa ini?”, tanyaku penuh pertanyaan. Mungkin ini salah nomor, tapi bagaimana dia tahu namaku?


Dia terdiam sejenak.


16.54 - kemarin


“Halo?”, aku masih penasaran.


Keheningan sedetikpun membuatku tidak nyaman dengan percakapan ini, tapi aku tetap ingin tahu dengan siapa wanita di telpon ini?


Tarikan napasnya terdengar, “Angga, i-ini… saya ti-tidak…”, kata-katanya terpotong dengan intonasi gemetarnya, dia gugup.


Aku semakin penasaran, “Iya? Halo? Anda siapa?”, pertanyaanku mulai menjadi-jadi, aku menduga-duga seperti detektif Conan yang dihadapkan pada suatu kasus masalah, dan aku kecurigaanku sudah berada di langit.


Kenapa dia gugup? Apa yang ditakutkan?


Lagi-lagi, dia terdiam.


16.56 - kemarin


Suara wanita itu muncul lagi, “Saya nggak mau terlalu banyak bicara, biarkan Lusi yang menjelaskan. Katakan ini dari Nyonya Rendra.”, ia menutup telponnya. Aku langsung melihat layar dan segera mengingat tiga angka belakang nomor ini.

__ADS_1


Aku baru saja mendapatkan sensasi: apa-apaan ini?


‘Lusi…’, itu nama mama. Tanpa menunggu aku langsung turun ke bawah, terakhir kali melihat mama sedang asyik masak di dapur kecilnya.


16.58 - kemarin


Mama sedang memegang buku resep di tangan kirinya, dan sedang memegang spatula di tangan kanannya, melihat ke arahku, ketika aku sedang melihatnya memasak. Dia tersenyum sambil tetap menggoyang-goyangkan tangan kanannya, seperti berdansa dengan penggorengan dan bumbu-bumbu dapur di sebelahnya.


“Eh… Langsung pergi lagi? Liputan lagi?”, katanya.


Mungkin aku terlalu sering pergi liputan akhir-akhir ini, dan pertanyaan itu sudah beribu kali dia tanyakan sejak aku jadi wartawan. Tanpa berpikir dua kali, karena hal ini benar-benar mengganggu aliran darah di otakku, aku mengatakan dengan sangat jelas dan penuh tanya:


“Siapa itu Nyonya Rendra?”


Tariannya dengan penggorengannya seketika berhenti, di ikuti air wajahnya yang langsung berubah.


Dia menutup buku resepnya.


Mematikan kompor.


Melepas spatulanya.


17.00


Setengah jam di kafe ini sama sekali tidak mematahkan semangatku untuk segera bertemu dengan dia. Aku sudah siap menerima apapun dan siapapun dia. Mungkin aku agak terganggu dengan tatapan pramusaji nafsu yang ada di meja bar. Pramusaji ini benar-benar menatapku seperti aku adalah hewan buruan yang siap ditangkap dan dimakan. Aku hanya melepas pandanganku ke yang lainnya setelah beberapa kali melirik, dia masih juga melihatku. Duh! Ini benar-benar canggung.


17.01 - kemarin


Mama dan aku sudah berada di ruang tamu, foto keluarga menyaksikan kami berdua dengan tanda tanya yang besar di atas kepala kami. Tapi aku sudah siap diberi tanda seru besar yang siap memukul keras tepat di atas kepalaku.


“Angga… kamu tahu mama dan papa sayang sekali sama kamu…”, air wajahnya tegang sekali.


Dia melap-lapkan kedua tangannya ke sofa, “Dia… em… I-I-Ibumu.”, dia menggigit bibirnya melepas arah wajahnya dan sedikit melirikku.


Tiba-tiba aku tuli.


17.03 - kemarin


Gerakan bibir mama bergerak tak berhenti, dia memegangi tanganku, dan aku benar-benar tidak mendengar apapun. Aku merasakan jasadku dan arwahku tidak lagi sinkron, di sisi lain aku melayang dengan segala memori dan kenangan-kenangan masa kecil. Dan mungkin itu sebabnya aku adalah satu-satunya anggota keluarga yang berkulit putih.


Adikku satu-satunya, Yulis, selalu mengolok-olok kalau aku ini adalah anak angkat, karena paling beda dari yang lain, si bajingan tonggos… tapi dia benar.


Saat ini yang kupikirkan hanya satu kalimat yang ku ulang-ulang: “SINETRON MACAM APA INI?”


17.05 - kemarin


Arwahku kembali. Aku tersadar lagi. Tiba-tiba aku melihat kedua mata mama sudah berkaca-kaca, siap menjatuhkan air matanya.


“Dia melakukan ini demi kamu, Angga.”, kata Mama. Setelah kupikir saat melamun, aku tidak tega dengan mama, dia sudah merawatku dari kecil hingga besar, seorang peran mama yang takkan bisa digantikan. Dia tetap mamaku. Walaupun bukan kandung. Aku masih menyayanginya.


Aku memeluknya. Dia memelukku lebih erat, aroma bawang putih dan bawang merah lalu lada sempat menusuk matakku, tapi yang lebih menyakitkan adalah gelang-gelangnya yang beruncing dan cincin-cincin berduri yang dipakai mama.


“Ayahmu, Rendra, sudah ditangkap polisi kemarin. Dia masuk koran kemarin. Dan bener kan… Lestari bakal telpon kamu.”, katanya.


“Lestari?”, aku diam sejenak, sedikit kaget, “Ha? Rendra… yang pembunuh itu…?”

__ADS_1


“Iya, Angga.”, kata Mama seyakin-yakinnya.


Aku melihatnya kemarin ketika diamankan polisi, dia melihat mataku tajam, seperti ada kail di antara kita berdua yang saling mengikat, yang kupikirkan waktu itu: mungkin aku pernah kenal dengan dia, tapi setelah itu aku tidak menggubrisnya, dan dia sama sekali tidak menggubris wartawan lain, dia hanya berjalan dengan kedua tangannya yang sudah diborgol, dan menatap mataku, hingga pintu mobil tahanan tertutup.


Dia… ayahku.


17.07


Singkat cerita, aku adalah anak dari seorang pembunuh massal yang kemarin di tangkap di kos-kosan dekat Monas. Dia jadi buronan beberapa tahun terakhir karena sudah membunuh lebih dari 50 orang di beberapa kota. Dan itu adalah… AYAHKU.


Dua puluh dua tahun yang lalu, ketika si pembunuh… maksudku Rendra, alias ayahku, membunuh seseorang untuk pertama kalinya, seseorang bernama Lestari, yang pada saat itu adalah istrinya, alias ibuku, menyaksikan kejadian itu dan kabur menjauh dari si pembunuh, maksudku Rendra, alias ayahku, ke rumah keluarga Sasongko, dan dengan berat hati Lestari menyembunyikan keberadaanku, dan Lestari, alias ibuku, dan pergi mengasingkan diri.


Tidak terlalu singkat.


Cukup rumit.


Seperti menanyakan, ‘lalu apa setelah ini…’,


Apakah aku akan berakhir menjadi pembunuh? AMIT-AMIT.


17.09


Oke, kurang lima menit, aku akan bertemu dengan dia, Lestari. Ibu kandungku. Aku sama sekali tidak kaget dengan cerita seperti ini di sinetron-sinetron yang tayang setiap hari di layar kaca dan setiap akhir episode akan berakhir dengan kata ‘bersambung’, tapi ini sedang terjadi di salah satu momen di hidupku, apakah dia akan muncul dengan kereta kuda dengan gaun emasnya? Ah! Itu terlalu dongeng.


Pada dasarnya, dan bisa di ringkas kalau hidupku selama ini adalah ‘sinetron’, opera sabun yang mainstream, dengan pemeran-pemeran pendatang baru yang nantinya akan berpacaran satu sama lain dan memenangkan piala citra di saluran TV nasional, tapi kali ini ‘sinetron’ yang benar-benar terjadi, bahkan SEDANG TERJADI!


Tapi aku cukup salut dengan Lestari, maksudku ibuku, ibu kandungku, dia ingin melindungi anaknya dari Rendra, si pembunuh, ayahku.


17.12


Dari cerita mama, Lestari datang mengetuk pintu dengan membawaku digendongannya, mamaku  duduk di balkon rumah dan sempat melihatnya lari kebingungan dan ketakutan mengarah ke rumah mama waktu itu.


Dengan wajah yang penuh keringat, Lestari menjelaskan semuanya di ruang tamu dengan kegelisahannya yang memuncak. Malam penuh tangisnya membuat hati mama luluh, dan dengan sangat yakin mama membantunya menitipkan aku di keluarganya (yang baru satu tahun menikah dan belum punya anak).


Mama memberinya cukup uang untuk pergi dan mengasingkan diri, dan setelah itu dia hilang tanpa kabar. Sebelumnya, mereka berjanji untuk tidak saling mengirim pesan, dan takut mengancam nyawaku saat itu. Dia bersumpah untuk kembali setelah Rendra, alias suaminya, alias ayahku, ditangkap atau setelah kematiannya.


17.13


Mama pun sempat bingung, tapi keesokan harinya sehari setelah dia menitipkan aku ke mama, ternyata yang telah dibunuh Rendra adalah Maya, kakak kandungku sendiri, jasadnya ditemukan di pekarangan rumah dengan daster oranye berbecak darah yang mengenaskan, dan semenjak itu Rendra hilang.


Saat itu umurku masih 7 hari, bayangkan… apa yang masih kuingat selain menangis dan minta susu. Dan nomor ibu yang kemarin aku telpon sudah tidak aktif, tapi dia sempat mengirimkan pesan:


‘Jangan lupa, Angga. Besok.’


17.15 


Aku menghela napas panjang.


Ini waktunya… mungkin dia akan sedikit telat, dan aku akan menunggu setengah jam lagi dengan menahan rasa canggung dari tatapan pramusaji nafsu yang lewat setiap menitnya. Tapi aku akan menghilangkan rasa canggung dan malu nanti jika bertemu dengan…


Tiba-tiba telapak tangan mendarat di pundakku.


Aku melihat ke arah tangan itu, dan melihat ke matanya. Dia putih, dan matanya mirip dengan mata yang ku lihat setiap bercermin. Ia menatapku dalam, dan titik lemahku tersentuh, hatiku lumer… seperti keju mozarella.


“Runi. Runi Lestari. Ibumu.”

__ADS_1


Refleks dengan nada suaranya, ikatan batin yang selama ini lusuh karena waktu, aku langsung yakin dia adalah ibuku tanpa meminta bukti lainnya.


Aku langsung memeluknya erat.


__ADS_2