Lampu Kota

Lampu Kota
Bahasa Kopi


__ADS_3

Cangkir ini tidak berhenti tertawa dengan aroma arabikanya ketika aku mengingatmu memuntahkan kopi pilihanmu sendiri, kadang setelah muntahan itu membasai seluruh meja, kita berdua sedetik saling tatap dan mulai tertawa.


Tidak ada espresso yang mengecewakan, kecuali hatimu sedang patah. Gundahmu takkan bisa tersembunyi dari aura yang kau tampilkan, lalu aku melihat kernyitan wajahmu, lalu muram bersandar, dan tubuhmu berteriak untuk menyerah.


Senyum. Iya, aku tersenyum. Mengingat kebersamaan yang telah kita habiskan di kedai kecil ini. Dengan obrolan dan topik kecil yang kita buat, lalu hilang bersama waktu, menghabiskan setiap malam denganmu.


Aku mengambil gelas kaca kecil berisi espresso milikku.


“Be gentle, feel happy, drink happy. Tapi tunggu dulu, beri dia waktu untuk mengenal yang lainnya, jadi satu, melebur dengan ketidaksamaan, dan berakhir dengan keindahan.”, aku mengaduk cream dan espresso dengan sendok kecil di tangan kananku.


Matanya melihat ke cangkir kecil espresso yang ku aduk dengan cream, sedang aku menatapnya dengan seksama sambil mengangguk-angguk pelan. Rambutnya yang lurus sesekali jatuh ke area wajahnya, dan tangan kiriku membelai rambut panjangnya ke belakang. Aku hanya ingin melihat parasnya yang cantik.


Kedua mata bundarnya menatap ke arahku, dia tersenyum dengan senyum tipis yang memperindah wajah ovalnya.


“Jadi… harus sambil begini ya kalau ngaduk espresso?”, candanya sambil melirik ke tangan kiriku.

__ADS_1


“Iya-dong.”, jawabku cepat.


Disusul dengan tertawa kecil kita berdua.


Dia selalu penasaran dengan kedai kopi yang pernah dia datangi dulu, salah satu kedai kopi favoritku, dan beberapa bulan terakhir dia selalu mau jika diajak ke sini. Setiap kopi yang kupesan, dia selalu ingin coba dan selalu ingin tahu apa cerita di balik kopi-kopi yang sudah ku rasakan.


Bagiku, kopi bermakna kejujuran, apapun jenis kopi, mereka tidak pernah berbohong dengan keadaan. Manusia dan kopi, seperti Juliet yang membutuhkan Romeo-nya. Membutuhkan satu sama lainnya, walaupun kebersamaan bukan akhir cerita. Alur cerita lika-liku romansa yang tidak akan lekang oleh zaman, kepahitan dan kemanisan yang dimiliki cerita sejoli Juliet-Romeo, menggambarkan apa yang kurasakan tentang kopi.


Aku percaya, kopi memiliki jalan ceritanya sendiri, melewati segala rintangan hingga akhirnya dihidangkan. Dipetik oleh petani-petani yang setiap pagi buta berangkat ke ladang untuk dipanen, lalu dimasak hingga aromanya pas dan siap untuk dikirim ke kota, diolah di setiap racikan kopi yang akan dibuat, dan menjadi bubuk yang siap untuk diseduh ke dalam gelas mini atau gelas besar. Perjalanan hidup sebutir biji kopi, seperti kami, para manusia yang akan mengalami evolusi kehidupan. Dicintai lalu dikhianati.


“Look, i’m fine, and it taste incredible. Jadi, kenapa kamu hari ini murung, Sayang…”, tanyaku sambil melihat wajah murungnya sepanjang hari ini. Kedua tangannya bersilang, wajahnya melihat ke arah jendela besar di sebelah kanan.


Kami berdua diam, kalah dengan suara obrolan yang ada di dalam ruangan ini. Dari pelayan yang sibuk mengantar kopi, hingga suara tawa besar dari obrolan di meja lain. Dia masih belum berkata apapun, dan aku tidak mau membuatnya marah, hingga kata-kata keluar dari bibirnya yang manis itu.


Aku merasakan asam, pahit, manis, dan legit dari espresso yang ku minum di lidahku.

__ADS_1


“Aku dijodohkan.”, dia berkata singkat. Begitu juga hubungan ini akan segera berakhir disini.


“What?”, tanyaku sekali lagi, aku ingin memperjelas kata-katanya.


Dia menatapku, kedua matanya berkaca-kaca, kecantikannya luntur terbawa air mata yang mulai jatuh ke pipinya.


“Mama sama papa mengiyakan lamaran anak teman mereka. Aku bingung, aku nggak tahu mau gimana lagi…”, dia mengusap air matanya. Menunduk sebentar lalu melihat kedua mataku dalam-dalam, “Maaf, Sayang. Ma-af… Tapi kita harus putus.”, dia mengakhiri pembicaraan, meninggalkanku kaku di kedai kopi ini.


Perih, berdarah, luka, dan teriris di hati. Ketika kita benar-benar harus berpisah di tempat pertama kali kita bertemu, 5 tahun yang lalu. Saat dia dipaksa temannya untuk bisa bertemu denganku di sini, dan yang dia pesan adalah green tea latte.


Bahasaku, bahasanya. Dia lebih jujur daripada bahasa kopi yang tak memiliki kata, tapi rasa. Bahasa yang tak banyak bicara, tapi dinikmati, apapun itu, termasuk manis, pahit, dan sakit.


Ini menyadarkanku tentang perjalanan akhir sebuah biji kopi.


Biji kopi tidak hanya berakhir di secangkir kopi. Tapi akan tumbuh lagi, di pohon yang sama. Aku yakin, rasa ini akan bangkit lagi, suatu waktu yang belum tentu, di tubuh yang sama. Dan aku masih belum berani, meminum kopi yang sama, seperti ketika kita berawal dan berakhir disini. Di tempat ini. Di kursi ini.

__ADS_1


__ADS_2